Aksi Konvergensi Peran Kader Pembangunan Manusia Resmi Dibuka

13

Sanggau, Kalbar – Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau membuka secara resmi kegiatan Aksi Konvergensi Peran Kader Pembangunan Manusia dalam Upaya bersama bergerak Maju cegah stunting di Kabupaten Sanggau tahun 2022, bertempat di Aula Hotel Emerald Sanggau, Rabu, (15/6).

Ketua Panitia Pelaksana,  Najori mengatakan, Pertemuan KPN yang kedua kalinya yang dilaksanakan di Kabupaten Sanggau, adapun kegiatan ini diikuti oleh Kades sesuai data lokus stunting Tahun 2021 – 2022, Tim pendamping KPL.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau menyampaikan,  stunting menjadi tantangan kita, mengurangi angka ini harus melalui data. “Kalau berdasarkan IPM, bahwa IPM Kabupaten Sanggau itu nomor 9 dan IPM dibangun dari 3 dimensi salah satu dimensinya adalah kesehatan dan komponen kesehatan tersebut adalah angka harapan hidup, angka harapan hidup sanggau termasuk yang terbaik di Kalimantan Barat 71 koma sekian secara nasional sedikit di bawah nasional, padahal untuk mem breakdown terhadap angka harapan hidup didasarkan kepada tersedia sarana dan prasana kesehatan, peluang anak lahir, kalau dari aspek komponen kesehatannya, kita siap,” jelasnya.

“Untuk itu perlu dicek aspek komponen apakah prasarana yang kurang atau impelementasi pendukung atau manusia yang tidak bisa dipetakan atau didata, dan ini yang bisa kita intervensi, melalui Bappeda, Dinas Sosial, Pemdes diadakan Pemetaan data sehingga bisa dilaksanakan program secara keseluruhan,” imbuh dia.

Bupati Sanggau meminta, kepada OPD terkait untuk benar-benar di cek setiap nilai angka yang dipresentasikan harus dianalisa.

“Mudah-mudahan yang diundang ini masuk dalam kantong-kantong stanting, guna merubah attitude dan harus bekerjasama dengan OPD terkait, dan harus lokus sasaran yang tepat tidak hanya sekedar dilaksanakan, setiap nilai angka yang dipresentasikan harus dianalisa, karena bisa saja karena attitude, misalnya untuk kebutuhan hidup cukup namun kok masih stanting sehingga harus di cari data lainnya, apakah pola hidup yang salah misalnya kebiasan memakan-makanan instan sehingga tidak terdukung gizi yang baik,” tutur dia.

Iajuga meminta untuk bisa bekerja sama dengan organisasi di desa dengan baik, sehingga dapat menemukan sasaran yang tepat. “Adanya perubahan pola fikir, ini yang harus kita mapping, sehinga dapat mencegah stunting, dan sasaran yang harus dibidik adalah anak-anak usia emas (golden ages) untuk dapat mengikuti pola hidup yang sehat, dan menjadi action plan yang harus dilaksanakan, selain itu juga harus dibangun atau dibentuk kader-kader, di dusun maupun di wilayah dan dapat bekerjasama dengan organisasi di desa baik melalui organisasi wanita, pemuda, keagaamaan maupun kemasyarakata, namun yang terpenting adalah setiap dusun atau wilayah harus sudah memiliki data baik sehingga dapat diintegrasikan dan dianalisa untuk mencapai target penurunan angka stanting menjadi 14% sesuai dengan Instruksi Gubernur Kalimantan Barat,” tutupnya.