Kubu Raya – Langit Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Sabtu (12/9/2026), telah kehilangan warnanya. Matahari tertutup kabut. Udara terasa berat. Asap menggantung rendah dan membuat aktivitas warga di luar rumah tak lagi terasa aman.
Di tengah situasi itu, ribuan masker berpindah dari tangan ke tangan. Bukan dari pasukan bersenjata. Bukan pula dari helikopter yang baru datang dari negeri seberang. Masker itu dibagikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan).
Mereka memilih turun langsung ke tengah masyarakat, membagikan masker sekaligus mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh udara yang sedang mereka hirup. “Kita sangat-sangat prihatin dengan kondisi asap hari ini. Ini kondisi terparah dalam sejarah. Kualitas udara sangat buruk dan berbahaya,” kata Paulus Nokus, perwakilan mahasiswa KKN Fakultas Hukum Untan.
Bagi para mahasiswa itu, melawan karhutla tidak selalu harus dilakukan dengan selang pemadam atau water bombing. Dalam situasi ketika asap sudah memenuhi ruang hidup masyarakat, menjaga agar warga tidak menghirup udara berbahaya juga merupakan bentuk perjuangan.
Mereka berpesan agar masyarakat mengunakan masker ketika berada di luar rumah. Sebab, masih ada warga yang enggan mengenakan masker ketika beraktivitas maupun berkumpul di luar ruangan. Padahal, kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Ironisnya, pada saat mahasiswa lokal itu bergerak dengan cara sederhana, perhatian publik Kalimantan Barat juga tertuju pada bantuan dari Jepang. Pemerintah Jepang mengirim tiga helikopter berat CH-47 Chinook untuk mendukung operasi water bombing di Kalimantan Barat.
Kapal JS Kunisaki yang membawa helikopter tersebut telah tiba di Terminal Kijing, Mempawah, pada 10 September. Bantuan itu juga membawa personel Jepang untuk mendukung misi kemanusiaan penanganan karhutla. Pasukan dari Jepang datang dari jauh untuk membantu Indonesia menghadapi kebakaran.
Mahasiswa KKN Fakultas Hukum Untan tak mau kalah. Mereka tidak membawa Chinook. Tidak memiliki armada water bombing. Tidak datang dengan kapal perang.Mereka hanya membawa masker. Tetapi dari Desa Limbung, pesan yang disampaikan justru terasa sama, ketika bencana datang, tidak ada alasan untuk hanya berdiri dan menonton.
“Di tengah kondisi seperti ini mari kita saling membantu. Mahasiswa KKN Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura berbagi masker kepada masyarakat sekitar,” ujar Paulus.
Mereka juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar lahan maupun sampah. Kondisi panas dan angin kencang dapat membuat api kecil berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Pencegahan, bagi mereka, bukan sekadar slogan. Ia dimulai dari halaman rumah sendiri.
Di tengah kabut asap yang menyesakkan, mahasiswa itu memilih melakukan sesuatu yang mungkin terlihat kecil. Namun ribuan masker yang dibagikan hari ini membawa pesan bahwa, ketika langit Kalimantan berubah kelabu, kepedulian tidak boleh ikut menghilang.
Pasukan Jepang datang membawa helikopter untuk melawan api dari udara.Mahasiswa KKN Untan datang membawa masker untuk melindungi manusia dari asap. Cara mereka berbeda.Tetapi tujuannya sama, yaitu jangan biarkan masyarakat sendirian menghadapi bencana. (Tantra)
