Sintang — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sintang masih terus menghantui. Di tengah ancaman karhutla ini, PT Buana Hijau Abadi (BHA) tidak tinggal diam. Kepedulian perusahaan ini ditunjukkan pada Selasa, 8 September 2026. Posko Satgas Penanganan Karhutla Kabupaten Sintang di halaman Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kembali menerima bantuan. Kali ini datang dari PT Buana Hijau Abadi (BHA).
Corporate Affairs dan CSR PT BHA, Paulus Nokus, bersama jajaran menyerahkan bantuan sarana, prasarana dan logistik kepada Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny.
Isinya bukan sesuatu yang mewah, yaitu masker respirator, 7.500 masker, susu beruang, minuman bervitamin dan air mineral. Namun dalam situasi ketika petugas berada di lapangan berhadapan dengan asap dan panas, barang-barang itu menjadi bagian dari perlindungan paling dasar.
Data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan Nasional (SIPONGI) yang dikutip UPT KPH Wilayah Sintang Utara menunjukkan hingga pertengahan Agustus 2026, area terdampak karhutla di Kabupaten Sintang mencapai sekitar 139,82 hektare.
Angka itu memang jauh lebih kecil dibandingkan total area terdampak di Kalimantan Barat yang mencapai 38.310,89 hektare pada periode yang sama. Pemerintah daerah bahkan menilai kondisi Sintang relatif masih terkendali.
Sampai pada awal September, Kalimantan Barat masih menghadapi tekanan karhutla yang serius. Data pemantauan menunjukkan ribuan hotspot masih terdeteksi di provinsi ini dalam beberapa hari terakhir, meskipun jumlahnya mengalami fluktuasi dan penurunan di sejumlah periode.
Pada 5 September, Kementerian Kehutanan melalui pemantauan SiPongi mencatat 54 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat. Angka tersebut merupakan data provinsi dan tidak dapat langsung dianggap sebagai jumlah hotspot di Sintang. Namun skalanya cukup untuk menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan persoalan satu kabupaten. Bahkan pemerintah telah menetapkan status siaga darurat bencana asap di Kalimantan Barat hingga 15 November 2026.
BMKG pada 7 September juga mengingatkan bahwa September masih menjadi fase kritis karhutla. Kondisi kering, pengaruh El Niño dan tingginya hotspot membuat ancaman kebakaran belum bisa dianggap selesai.
Di tengah situasi itu, PT BHA tidak hanya menyerahkan logistik. Paulus Nokus mengatakan sebelumnya perusahaan juga telah memberikan peralatan pemadaman kepada tim yang bertugas di lapangan, khususnya di Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Hilir.
Peralatan tersebut antara lain mesin Robin yang digunakan untuk mendukung pemadaman. “Untuk hari ini, kami memberikan bantuan logistik untuk tim pemadam kebakaran yang bertugas di lapangan,” ujar Paulus Nokus.
Menurut Paulus, dukungan serupa juga diberikan di sejumlah kabupaten lain di Kalimantan Barat.
“Memang hampir di semua kabupaten kami memberikan bantuan untuk penanganan karhutla,” katanya. Langkah tersebut patut diapresiasi.
Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny mengapresiasi dukungan perusahaan kepada pemerintah daerah. Ia menyebut kolaborasi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat penting untuk menghadapi situasi tanggap bencana.
“Bagaimana kemudian situasi tanggap bencana ini bisa kita lalui bersama,” ujar Florensius Ronny. Pesan tersebut relevan. Apalagi Sintang memiliki wilayah yang sangat luas dengan karakteristik lahan yang berbeda-beda. Deteksi dini, akses menuju lokasi, ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman dan kecepatan respons menjadi faktor yang menentukan. Namun kolaborasi juga harus berarti lebih dari sekadar berbagi bantuan.
Perusahaan harus memperkuat pencegahan di sekitar wilayah operasionalnya. Pemerintah harus memastikan pengawasan berjalan. Aparat harus menindak jika ditemukan pelanggaran. Masyarakat harus dilibatkan dalam deteksi dini. Data hotspot harus segera diterjemahkan menjadi pemeriksaan lapangan. Sebab satu hal yang sering terlambat disadari adalah bahwa api jauh lebih murah dipadamkan ketika masih kecil dibandingkan ketika sudah menjadi kebakaran besar.
Setelah menyerahkan bantuan ke Posko Satgas, jajaran PT BHA tidak berhenti di halaman BPBD. Mereka bersama Ikatan Jurnalis Sintang membagikan masker kepada masyarakat di kawasan Simpang Polres Sintang. Langkah itu menjadi bentuk perlindungan langsung bagi warga yang harus beraktivitas ketika kualitas udara terganggu oleh asap.
