Pontianak, Kalbar – Di Pontianak, air sempat menjadi bahan perdebatan. Mantan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menyoroti persoalan air baku dan intrusi air laut. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menghadapi persoalan distribusi air tawar di tengah kemarau.
Di atas meja, air menjadi urusan kebijakan, waduk dan sumber air baku. Tetapi jauh dari ruang- ruang perdebatan di sosial media, warga menghadapi persoalan yang lebih sederhana sekaligus mendesak, yaitu dari mana air untuk diminum hari ini?
Di Dusun Limbung Jaya, Desa Limbung, pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban panjang. Ia cukup dijawab dengan sebuah ember kosong yang menunggu di tangan warga.
Sabtu, 19 September 2026, sebuah kendaraan pembawa air memasuki RT 003/RW 001. Warga berdatangan. Ember, jeriken dan wadah penampungan disiapkan. Di bawah kabut asap musim kemarau, mereka menunggu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terasa mewah, yaitu air bersih.
Kemarau memang tidak mengenal ruang rapat. Kemarau juga tidak menunggu keputusan pemerintah. Ia tidak peduli siapa yang berdebat dan siapa yang menawarkan solusi. Ketika hujan tak kunjung turun, persoalan air akhirnya sampai ke halaman rumah warga.
Air untuk minum harus tersedia. Air untuk memasak harus disimpan. Air untuk mandi dan mencuci harus dihemat. Air yang selama ini mengalir begitu saja tiba-tiba harus diperlakukan seperti barang berharga.

Di tengah kondisi ini, mahasiswa dan mahasiswi Kuliah Kerja Nyata Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura datang ke Dusun Limbung Jaya membawa air bersih. Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni yang berlebihan. Hanya kendaraan pembawa air dan warga yang datang membawa wadah. Namun pemandangan sederhana ini menyimpan cerita tentang kebutuhan dasar yang sedang diuji oleh musim.
Mahasiswa KKN membagikan air bersih sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat. Bagi mahasiswa, kegiatan itu merupakan bagian dari tugas pengabdian.
Kepala Dusun Limbung Jaya, Dedy Gunawan, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
“Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Fakultas Hukum, saya ucapkan terima kasih dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan, kegiatan ini sangat positif,” ujar Dedy.
Bantuan tidak berhenti pada air bersih. Sebanyak 2.500 masker, air mineral kemasan botol, serta susu Bear Brand juga dibagikan kepada warga.
Ketua RW 001, Irwan Prasetyo, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKN. “Saya berterima kasih sekali kepada adik-adik dari Fakultas Hukum terhadap kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa. Terima kasih atas pembagian air bersih, masker sebanyak 2.500, air mineral botol, dan juga Bear Brand,” tutur Irwan.
Warga menyambut pembagian tersebut. Di tengah kemarau, air yang datang bukan sekadar bantuan. Ia adalah jeda dari kecemasan. Jeda dari pertanyaan tentang kapan hujan turun. Jeda dari hitung-hitungan berapa banyak air yang masih tersisa di rumah. Sebab krisis air tidak selalu tampak dalam angka statistik. Kadang ia terlihat dari seorang ibu yang menyimpan air lebih hati-hati. Dari jeriken yang tak boleh kosong. Dari ember yang diletakkan di depan rumah atau dari warga yang harus menunggu kendaraan pembawa air datang.
Di sinilah jarak antara polemik dan kenyataan menjadi begitu nyata. Bagi pemerintah dan para pejabat, persoalan air dapat berbicara tentang waduk, jaringan distribusi, sumber air baku, intrusi air laut dan kebijakan jangka panjang.
Bagi warga, ukurannya jauh lebih sederhana. Satu ember. Satu jeriken. Satu botol. Cukup untuk melewati hari ini. Warga tidak sedang mencari siapa yang paling benar dalam perdebatan. Mereka tidak sedang menghitung siapa yang paling banyak berbicara tentang solusi.
Masyarakat hanya membutuhkan air. Ketika air datang, mereka menerimanya dengan tangan yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan kebutuhan yang sangat besar.
Mahasiswa KKN Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura tentu tidak bisa menghentikan kemarau. Mereka juga tidak bisa menyelesaikan persoalan sumber air hanya dalam satu hari. Tetapi mereka melakukan sesuatu yang bisa dilakukan hari ini, datang ketika warga membutuhkan air.
Di bawah langit yang masih kering, air kemudian mengalir dari kendaraan ke wadah-wadah warga. Bukan aliran besar. Bukan solusi permanen. Tetapi cukup untuk membuat beberapa rumah kembali memiliki persediaan. Kemarau masih panjang. Persoalan air belum selesai. Perdebatan tentang bagaimana menjamin ketersediaan air mungkin akan terus berlangsung di ruang-ruang kebijakan. Namun di Dusun Limbung Jaya, warga tidak membutuhkan perdebatan itu untuk satu kebutuhan paling mendasar.
Mereka membutuhkan air. Sebab pada akhirnya, di tengah semua angka, kebijakan dan polemik, persoalan air kembali kepada manusia. Apakah ada air di dalam ember ketika keluarga membutuhkannya?Pada Sabtu itu, setidaknya, jawabannya adalah, ada.
