Sintang, Kalbar – Kabut tipis masih menggantung ketika suara burung – burung terdengar dari kejauhan. Di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, matahari pagi menembus celah pepohonan, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas jalur trekking. Udara segar, aroma tanah basah, hingga denyut kehidupan hutan tropis, semua menjadi pengingat bahwa Kabupaten Sintang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua daerah, potensi wisata alam yang luar biasa.
Namun di balik keelokan itu, terselip ironi yang masih membayangi. Besarnya pesona alam dan budaya belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sektor pariwisata Sintang saat ini hanya menyumbang sekitar 5% PAD, jauh tertinggal dari rata-rata nasional yang mencapai 10%.
Bagi Santosa, Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sintang, angka itu semestinya menjadi pemicu, bukan penghambat.
“Pariwisata harus menjadi pilar ekonomi Sintang. Potensinya besar, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” ujarnya.
Di sisi lain Sintang, suara derasnya air terjun berirama lembut di wisata Air Terjun Tolangit yang berada di Kecamatan Ambalau, kabupaten Sintang, Kalbar. Air terjun yang jernih jatuh dengan tenang, seolah mengundang siapa pun untuk sekadar berendam di bawahnya. Di atas dahan, burung-burung bersahut-sahutan; sementara jauh di dalam hutan, satwa endemik Kalimantan bergerak bebas di habitatnya.
Keheningan alam yang memikat ini menjadi latar bagi sejumlah wisatawan yang datang mencari pengalaman autentik, bukan destinasi modern dengan bangunan megah, melainkan lanskap liar yang masih asli dan jujur.
Tak jauh dari kawasan hutan, desa-desa adat Dayak berdiri dengan pesona budaya yang kuat. Rumah betang yang kokoh, tarian penyambutan yang penuh makna, hingga kerajinan tangan rumit yang dibuat dengan ketelitian turun-temurun, semuanya menyimpan cerita panjang tentang identitas masyarakat Kabupaten Sintang.
Bagi wisatawan, keaslian inilah yang menjadi daya tarik. Sintang, tanpa banyak perubahan, sebenarnya telah memiliki semua yang mereka cari.
Di tengah geliat potensi itu, UMKM sebenarnya sudah berjalan sebagai tulang punggung ekonomi. Dari pengrajin anyaman rotan, pembuat manik-manik Dayak, hingga penjual kuliner khas Sintang, semua memiliki peluang besar jika diintegrasikan dengan jalur wisata.
Bayangkan wisatawan yang selesai trekking di objek wisata alam, kemudian menikmati kopi robusta lokal, membeli kerajinan buatan tangan penduduk desa, atau menginap di homestay sederhana yang dikelola masyarakat. Bagi Santosa, model wisata berbasis komunitas bukan hanya romantisme desa wisata, tetapi strategi ekonomi jangka panjang.
“Bali sudah membuktikan bahwa pariwisata maju ketika masyarakatnya ikut terlibat langsung,” katanya.
Bali adalah contoh paling gamblang. Pulau dewata tersebut mencatat 6,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara setiap tahunnya, dengan lebih dari 58% PAD berasal dari sektor pariwisata. Festival budaya, aktivitas alam, hingga industri kreatif berjalan beriringan, menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru hanya dalam setahun.
Daerah lain seperti Yogyakarta pun menunjukkan hal serupa: festival budaya mampu menarik satu juta wisatawan setiap tahun, memberi dampak ekonomi luas bagi masyarakat.
Bagi Santosa, Sintang punya peluang yang sama bahkan lebih unik.
“Kita punya hutan yang terjaga, budaya yang kuat, dan masyarakat yang ramah. Tinggal menyatukan semuanya,” ujarnya.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Dengan strategi yang tepat, Santosa memperkirakan sektor pariwisata Sintang mampu membuka ribuan peluang kerja baru, memperkuat pendapatan masyarakat, sekaligus meningkatkan PAD secara signifikan.
Ia membayangkan suatu hari nanti Sintang dikenal sebagai “Bali-nya Kalimantan”, bukan karena ingin meniru, tetapi karena mampu menciptakan identitas wisata sendiri yang kuat, hutan tropis yang memesona, budaya yang hidup, serta keramahan yang tak dibuat-buat.
Ketika langkah-langkah itu mulai dilakukan, mulai dari perencanaan matang, pengembangan infrastruktur, promosi kreatif, hingga pelibatan penuh masyarakat, Sintang bukan hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga tempat yang tumbuh bersama pariwisatanya.
Karena pada akhirnya, pariwisata bukan sekadar tentang tempat yang indah. Ini tentang bagaimana sebuah daerah menemukan cara baru untuk hidup, berkembang, dan mengangkat harkat masyarakatnya.
