Warga Sebut KDM, Bupati Bala Langsung Gercep Perbaiki Jalan Desa Bedayan

Sintang, Kalbar – Nama Desa Bedayan, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, yang sebelumnya viral karena kerusakan jalannya, mendadak berubah menjadi panggung harapan. Nama desa ini kembali viral. Pemilik akun Instagram elisabetmurniw kembali memposting beberapa video yang menggambarkan kondisi jalan di desanya. Namun video yang dipostingnya bukan lagi video kondisi kerusakan jalan di Desa Bedayan.

Kini, video yang dipostingnya adalah video penampakan alat berat yang sedang bekerja memperbaiki Jalan Desa Bedayan. Dalam setiap video perbaikan jalan yang dipostingnya, elisabetmurniw selalu mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Sintang. Perubahan kondisi Jalan di Desa Bedayan bukan datang diam-diam. Ia lahir dari suara lantang warga yang tak lagi mau diam, salah satunya melalui akun Instagram elisanetmurniw.

Video demi video yang diunggah akun tersebut bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah jeritan yang berubah menjadi kekuatan. Jalan berlubang, genangan air bak kolam, hingga mobil yang tak bisa melintas, semuanya ditampilkan tanpa polesan. Lalu, respons datang, cepat, tak bertele-tele.

Nama Dedi Mulyadi ikut disebut warga dengan nada penuh syukur. Bukan karena ia datang langsung, tetapi karena “menyenggol” namanya dianggap membawa efek domino. Warga percaya, ketika nama itu bergema, perhatian ikut mengalir deras. “Kalau panggil bapak KDM, jalan langsung diperhatikan,” begitu kira-kira keyakinan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Namun di balik euforia itu, satu nama yang benar-benar hadir di lapangan adalah Gregorius Herkulanus Bala. Bupati Sintang tersebut disebut berkali-kali dalam unggahan di instagramnya. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai sosok yang “gercep”. Alat berat dikirim. Ekskavator mulai mengeruk genangan yang selama ini menjadi simbol keterisolasian. Truk-truk berdatangan. Jalan yang tadinya mati perlahan berdenyut kembali.

“Terima kasih pak bupati, sudah merespon cepat, tidak penuh drama,” ucap pemilik akun dalam salah satu videonya. Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan sesuatu yang lebih besar, kerinduan masyarakat terhadap tindakan nyata, bukan janji.

Kini, jalan yang dulu digenangi air mulai mengering. Lubang-lubang besar diratakan. Warga berbondong-bondong datang, bukan untuk mengeluh, melainkan menonton proses perbaikan. Ada yang tersenyum, ada yang merekam, ada pula yang sekadar berdiri memandangi alat berat bekerja, seolah tak ingin melewatkan momen bersejarah bagi desa mereka.

Fenomena ini cepat menjalar ke kolom komentar. Netizen tak tinggal diam. Ada yang menyebut pemilik akun sebagai “pahlawan pembangunan Desa Bedayan”. Sebuah gelar yang mungkin terdengar berlebihan, tetapi terasa masuk akal di tengah minimnya saluran aspirasi yang efektif. Bahkan, ada usulan nyeleneh namun tulus: menjadikan nama ibu tersebut sebagai nama jalan di desa itu.

Di balik pujian dan candaan, tersimpan realitas yang lebih dalam. Infrastruktur di banyak daerah masih menjadi persoalan klasik. Jalan rusak bukan hanya soal kenyamanan, tetapi soal ekonomi, pendidikan, hingga akses kesehatan. Ketika satu video bisa memicu perubahan, itu berarti ada sistem yang sebelumnya lambat merespons.

Namun Bedayan hari ini memberi pelajaran berbeda. Bahwa tekanan publik, jika dikemas dengan konsisten dan jujur, bisa menjadi bahan bakar perubahan. Bahwa pemerintah yang responsif masih ada. Ketika pemerintah bergerak cepat, kepercayaan publik pun ikut pulih.

Warga kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Rencana pengaspalan jalan yang sebelumnya hanya wacana, kini terasa semakin dekat. Mereka tidak lagi berbicara tentang keluhan, melainkan harapan. Jalan yang baik bukan lagi mimpi, tetapi sesuatu yang sedang dikerjakan di depan mata.

Di tengah semua itu, satu hal yang paling terasa adalah rasa syukur. Syukur yang diucapkan berulang-ulang dalam setiap video. Syukur yang mungkin sederhana, tetapi lahir dari pengalaman panjang menghadapi jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki.

Desa Bedayan telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari satu suara. Dari satu unggahan. Dari satu keberanian untuk memperlihatkan kenyataan apa adanya. Ketika suara itu didengar, ketika respons datang tanpa drama, maka yang tersisa hanyalah satu kata yang terus bergema di antara debu jalan yang kini mulai rata: terima kasih. (Tantra).

SebelumnyaDitantang Krisantus Kurniawan, Jawaban KDM Berkelas, Netizen Kagum