Desa Sarai Masih Terisolir

Sintang, Kalbar – Di balik geliat pembangunan Kabupaten Sintang, masih ada sudut-sudut desa yang belum tersentuh infrastruktur memadai. Di Kecamatan Sungai Tebelian, kondisi ini paling terasa di Desa Sarai dan Rarai, dua wilayah yang hingga kini masih terisolir akibat buruknya akses jalan. Situasi tersebut menjadi perhatian serius Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Sebastian Jaba, yang mendorong agar pemerintah menempatkan infrastruktur di kawasan itu sebagai skala prioritas.

Menurut Sebastian, akses utama yang paling mendesak dibenahi adalah jalan penghubung dari Desa Rarai ke Desa Sarai. Saat ini, masyarakat Sarai hanya bisa menuju pusat kecamatan dengan memutar jauh melalui Pemuar dan Buil. Itu pun, kondisi jalannya rusak parah sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas.

“Bagaimanapun Sarai itu bagian dari Kabupaten Sintang, bagian dari Kecamatan Sungai Tebelian. Tidak pantas jika mereka masih terisolir seperti ini. Untuk ke Sarai, kita harus mutar jauh lewat Pemuar dan Buil, dan jalan di Buil pun rusak parah,” tegas Sebastian.

Ia menggambarkan kondisi jalan yang penuh kubangan, berlubang dalam, dan sebagian hampir putus. Pada musim hujan, jalur itu berubah menjadi lumpur tebal yang hanya bisa dilewati sepeda motor dengan risiko tinggi. Warga yang ingin ke pasar, ke fasilitas kesehatan, atau mengurus administrasi harus mengeluarkan biaya lebih, waktu lebih lama, dan tenaga ekstra. Keterisolasian ini juga berdampak pada lambatnya perputaran ekonomi desa.

Selain jalur tersebut, Sebastian juga menyoroti jalan poros Desa Ransi Dakan, yang menurutnya memiliki beberapa titik kritis. Di sana terdapat tanjakan dengan lubang besar yang membahayakan pengendara, terutama saat hujan. Jika dibiarkan, jalan itu bisa menjadi jalur rawan kecelakaan.

“Yang menjadi skala prioritas kita itu bagaimana peningkatan atau pemeliharaan jalan poros Ransi Dakan. Ada beberapa titik yang benar-benar harus jadi perhatian khusus. Ada tanjakan dengan lubang besar, ini sangat membahayakan,” ujarnya.

Bagi Sebastian, dua objek infrastruktur ini, jalan Rarai–Sarai dan poros Ransi Dakan, harus masuk dalam perencanaan pembangunan tahun anggaran mendatang. Ia menilai, pembenahan jalan bukan sekadar urusan fisik, namun juga berhubungan langsung dengan pemerataan pembangunan, pelayanan publik, dan martabat masyarakat pedesaan.

“Desa Rarai dan Sarai ini bagian dari kita. Mereka berhak mendapat akses yang layak. Infrastruktur adalah jalan pembuka kesempatan, bukan hanya sekadar jalur kendaraan,” kata Sebastian.

Warga setempat pun mengakui kondisi jalan yang mereka hadapi cukup berat. Pada musim penghujan, banyak warga terpaksa membawa hasil kebun menggunakan pikulan atau meminjam kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi agar kuat melewati medan berlumpur. Anak sekolah sering terlambat karena kendaraan tidak bisa masuk. Sementara petugas kesehatan mengalami kesulitan menjangkau warga yang membutuhkan layanan.

Sebastian menegaskan, perbaikan infrastruktur di Sungai Tebelian harus benar-benar menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia berharap, dinas terkait dapat melakukan survei lapangan, menentukan titik prioritas, dan mengalokasikan anggaran yang memadai.

“Kita mendorong pemerintah agar menempatkan dua jalan ini sebagai prioritas. Masyarakat sudah lama menunggu, sudah lama berharap. Kalau akses ini dibuka, dampaknya luar biasa bagi ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan mobilitas warga,” katanya.

Sebagai wakil rakyat, Sebastian memastikan dirinya akan terus memperjuangkan aspirasi masyarakat Rarai, Sarai, dan Ransi Dakan. Ia mengingatkan bahwa pemerataan pembangunan adalah kunci terciptanya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Sintang.

“Tidak boleh ada desa yang tertinggal karena jalan rusak. Semua warga punya hak yang sama atas pembangunan,” tutupnya.

SebelumnyaAkses Jalan di Pedalaman Sintang Sangat Tertinggal
SelanjutnyaDisperindagkop Sintang Latih 812 Pengurus KMP