Dewan Dorong Pemkab Sintang Perkuat Industri Rumah Tangga

Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Hermansen Figo mendorong Pemkab Sintang untuk memberikan perhatian pada sektor industri rumah tangga. Di tengah keterbatasan peluang kerja formal dan melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi, industri rumah tangga dinilai sebagai salah satu sektor paling potensial untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga desa maupun kawasan pinggiran kota. Figo menilai pemerintah daerah perlu bergerak lebih agresif agar kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Menurut Figo, banyak warga Sintang yang sebenarnya memiliki keterampilan dasar, tetapi belum mendapat pelatihan yang terarah dan pendampingan usaha yang memadai. Situasi ini membuat potensi industri rumah tangga, mulai dari produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga produk kreatif, belum tergarap maksimal.

“Pemerintah harus hadir untuk menggerakkan potensi ini. Industri rumah tangga adalah pintu masuk bagi masyarakat kecil untuk punya usaha sendiri, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus memperkuat ekonomi desa. Disperindagkop perlu memperbanyak pelatihan dan membina kreativitas masyarakat secara sistematis,” ujar Figo saat ditemui di Sintang, Jumat (29/11).

Industri rumah tangga terus menjadi penopang ekonomi skala kecil di banyak daerah, termasuk Sintang. Data Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sintang menunjukkan bahwa sejak lima tahun terakhir, kontribusi unit usaha mikro dan kecil terus meningkat. Pada tahun 2024, terdapat lebih dari 11.800 UMKM, di mana lebih dari 60 persen di antaranya berada pada kategori industri rumah tangga.

Namun demikian, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi kendala klasik: akses permodalan yang minim, kurangnya kemampuan manajemen usaha, terbatasnya teknologi pengolahan, hingga lemahnya kemampuan pemasaran, terutama pemasaran digital.

“Kita punya banyak produk unggulan yang dibuat masyarakat secara sederhana, tetapi belum kompetitif. Ini bisa diperbaiki jika pemerintah memperbanyak pelatihan seperti pengemasan, diversifikasi produk, pemasaran digital, dan pembukuan usaha sederhana,” tambah Figo.

Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan peralatan atau modal. Pendampingan, pelatihan yang berkala, dan pembukaan akses pasar justru menjadi kunci keberlanjutan.

Selama ini, Disperindagkop Sintang memang rutin menyelenggarakan pelatihan usaha, tetapi jumlah pesertanya masih terbatas. Pelatihan pengolahan makanan, pembuatan kerajinan anyaman, hingga pelatihan sablon pernah dilakukan, namun belum menjangkau seluruh kecamatan.

“Pelatihan harus diperbanyak, bukan hanya di kota, tapi menjangkau desa-desa. Banyak warga desa memiliki bahan baku melimpah, seperti rotan, bambu, hasil kebun, atau produk pertanian, yang bisa diolah menjadi barang bernilai tinggi. Jika diberi pelatihan, mereka bisa menghasilkan produk yang layak jual, bahkan berpotensi menembus pasar luar daerah,” ungkap Figo.

Ia mencontohkan bagaimana beberapa desa di Sintang berhasil mengangkat ekonomi warga melalui kerajinan tangan dan olahan pangan setelah menerima pelatihan dari pemerintah maupun lembaga swasta. Produk-produk seperti keripik singkong, gula semut, kerajinan rotan, tas anyaman, hingga jajanan tradisional kini mulai dipasarkan melalui media sosial dan e-commerce oleh generasi muda di desa.

Menurut Figo, kreativitas masyarakat inilah yang harus terus dipupuk. Ia menilai, pemerintah memiliki peran strategis dalam memfasilitasi ruang kreatif, menyediakan peralatan produksi bersama (ruang produksi komunal), serta mendorong pemasaran melalui berbagai event pameran maupun kolaborasi dengan pusat perbelanjaan.

“Potensi kreativitas masyarakat Sintang luar biasa. Kita hanya perlu mengarahkannya agar mereka mampu menciptakan peluang usaha. Pemerintah juga bisa mendorong agar desa-desa membentuk kelompok usaha bersama (KUB), sehingga produksi lebih terkoordinasi dan kualitas lebih terjaga,” kata Figo.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk menghubungkan pelaku industri rumah tangga dengan pasar. Kegiatan seperti bazar UMKM, festival pangan lokal, hingga pameran ekonomi kreatif perlu digelar lebih sering agar produk masyarakat mendapatkan ruang tampil yang lebih besar.

Dengan semakin beratnya tekanan ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja, industri rumah tangga menjadi salah satu solusi cepat dan murah untuk membuka kesempatan berusaha. Modalnya relatif kecil, dapat dikerjakan dari rumah, dan cocok untuk ibu rumah tangga, pemuda, maupun kelompok rentan lainnya.

Figo berharap program pembangunan ekonomi daerah dapat lebih berpihak kepada pengembangan usaha mikro dan industri rumah tangga.

“Ini soal masa depan ekonomi masyarakat Sintang. Jika kita ingin mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik, industri rumah tangga harus menjadi pilar yang diperkuat. Saya mengajak Pemkab Sintang melalui Disperindagkop untuk menjadikannya prioritas,” tegasnya.

Ia menyebut, selain pelatihan, pemerintah juga perlu menghubungkan pelaku usaha dengan lembaga keuangan, memberikan akses perizinan yang mudah, serta menyediakan pendampingan berkelanjutan.

SebelumnyaMasih Banyak Jembatan di Kayan Hilir dan Kayan Hulu Rusak
SelanjutnyaDPRD Sintang Dorong Desa Kreatif Kembangkan BUMDes