Kalbar, Sanggau — Isu itu datang seperti riak kecil yang tiba-tiba membesar: Sungai Seberu dan Setogor di Desa Sotok, Kecamatan Sekayam, dituding tercemar limbah. Nama PT Global Kalimantan Makmur (GKM) terseret. Tuduhan berembus dari mulut ke mulut, lalu mengeras menjadi kekhawatiran. Namun, di tengah arus kabar yang liar, fakta memilih jalannya sendiri, tenang, terukur, dan tak mudah dibelokkan.
Manajemen PT GKM tak menunggu lama. Respons cepat diambil. Sebuah tim dibentuk, bukan sekadar untuk meredam isu, tetapi untuk menjemput kebenaran. Mereka turun ke lapangan, menyusuri aliran Sungai Seberu dan Setogor dari hulu hingga hilir. Air diambil, disimpan, diuji. Bukan dengan asumsi, melainkan dengan angka.
“Kalau ini benar tercemar, pasti terlihat di hasil uji,” kata Adam, Manajer Pabrik Kepodang Mill, dengan nada tegas namun tetap tenang saat ditemui, Kamis (19/3/2026).
Hasilnya? Tidak ada yang dramatis. Tidak ada lonjakan angka yang mencurigakan. Justru sebaliknya, data berbicara jernih. Nilai pH air berada di angka 7,27. Netral. Tidak asam, tidak basa. Angka yang, menurut standar kesehatan internasional, masih berada dalam batas aman.
Di dunia sains, pH bukan sekadar angka. Ia adalah penentu. Skala dari 0 hingga 14 itu seperti kompas yang menunjukkan kondisi air. Di angka 7, air berada di titik seimbang. Angka 7,27? Itu masih dalam pelukan netralitas. Tidak ada tanda-tanda pencemaran kimia yang merusak.
Namun air bukan hanya soal pH. Ada kekeruhan, turbidity, juga diukur. Angkanya 20,2 NTU. Secara kasat mata, air memang tidak sebening kaca. Ada kabut tipis, warna yang sedikit pekat. Tapi kekeruhan bukan vonis. Ia bisa lahir dari lumpur, dari tanah yang tergerus, dari organisme kecil yang hidup di dalamnya.
“Air sungai itu hidup. Keruh itu hal biasa, apalagi kalau ada endapan lumpur,” jelas Adam. Tingkat TDS (Total Dissolved Solids) juga diperiksa. Hasilnya 140 ppm. Masih dalam batas yang dapat ditoleransi. Tidak ada lonjakan zat terlarut yang mencurigakan. Tidak ada jejak limbah berbahaya yang mengendap diam-diam.
Tim juga bergerak ke titik lain, aliran Sungai Keladang 1. Di sana, air tampak lebih keruh. Tapi lagi-lagi, bukan karena limbah. Lumpur dasar sungai yang terangkat menjadi penyebabnya. Fenomena alamiah yang kerap terjadi, terutama saat arus berubah atau dasar sungai terganggu.
Namun di luar angka dan data, ada indikator yang lebih jujur, yaitu alam itu sendiri.Jika sungai benar tercemar, kehidupan akan mundur. Ikan akan pergi. Tanaman di tepi sungai akan meranggas. Air akan membawa bau yang tak bisa disembunyikan. Tapi di Seberu dan Setogor, kehidupan justru masih bergeliat.
Warga masih datang dengan pancing di tangan. Menunggu, sabar, di tepian. Dan mereka tidak pulang dengan tangan kosong.
“Masih banyak ikan di sini,” ujar seorang warga yang memilih tak disebutkan namanya.
“Kontraktor juga sering mancing. Dapat baong, dapat gabus. Kalau air rusak, mana mungkin ikan masih ada?”
Pernyataan itu sederhana, tapi kuat. Sebab ikan bukan makhluk yang bisa bernegosiasi dengan racun. Mereka pergi ketika air tak lagi layak. Dan jika mereka masih bertahan, bahkan berkembang, itu tanda bahwa sungai masih punya napas.
Di sepanjang tepian, tanaman pisang tumbuh subur. Daunnya hijau, batangnya kokoh. Tak ada tanda-tanda stres lingkungan. Alam, dengan caranya sendiri, memberi kesaksian. Namun di era informasi yang bergerak cepat, kebenaran sering kalah oleh kecepatan rumor.
Satu tuduhan bisa menyebar lebih cepat dari satu hasil laboratorium. Ketika itu terjadi, yang dibutuhkan bukan sekadar bantahan, tetapi transparansi. Langkah PT GKM melakukan uji laboratorium adalah satu sisi dari upaya itu. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana hasil itu dipahami publik. Bahwa tidak semua air keruh berarti tercemar. Bahwa tidak semua isu berarti fakta. Sungai adalah cermin. Ia memantulkan apa yang terjadi di sekitarnya, baik itu aktivitas manusia maupun dinamika alam.
Menjaganya adalah tanggung jawab bersama. Tapi menilainya juga harus dengan kehati-hatian. Di Seberu dan Setogor, cerita itu kini menemukan nadanya. Bukan lagi tentang tudingan, tetapi tentang pembuktian. Bukan tentang kecurigaan, tetapi tentang data. Air tetap mengalir. Ikan tetap berenang. Di antara riak yang tenang itu, satu hal menjadi jelas: tidak semua kabar layak dipercaya sebelum diuji. Karena pada akhirnya, sungai tidak pernah berbohong. (tantra)
