Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi, kembali mengajak para petani untuk bergerak bersama dalam gerakan diversifikasi tanaman, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah. Ia menilai, ketergantungan yang berlebihan pada padi harus mulai diubah dengan membuka ruang bagi komoditas pangan lainnya.
“Petani sebaiknya tidak hanya menanam padi. Mereka harus berani memperluas pilihan dengan menanam jagung, ketela manis, talas, serta berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan lainnya,” ujar Kusnadi penuh semangat, saat ditemui wartawan di kantornya.
Menurutnya, diversifikasi pangan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketersediaan pangan di Kabupaten Sintang. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa rasa kenyang tidak hanya berasal dari beras. Sayuran hijau, kacang-kacangan kaya protein, dan aneka buah-buahan lokal pun memiliki nilai gizi yang tak kalah penting.
Kusnadi menilai Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki peran strategis untuk mendorong gerakan ini melalui program penyuluhan serta pelatihan yang lebih kontinue. Ia mencontohkan pelatihan pengolahan ubi jalar menjadi kudapan sehat bernutrisi, yang tak hanya menambah variasi pangan tetapi juga meningkatkan nilai gizi masyarakat.
“Peningkatan konsumsi ubi jalar oranye, misalnya, terbukti dapat memperkaya asupan vitamin A dan mineral penting bagi tubuh,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mendorong Pemkab Sintang untuk menggencarkan program diversifikasi pangan sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan secara menyeluruh. Kusnadi pun mengajak masyarakat agar mulai membiasakan diri mengonsumsi pangan yang lebih variatif.
“Ketergantungan pada beras harus diubah,” tegasnya. “Kita memiliki begitu banyak pilihan seperti singkong, jagung, kentang, talas, pisang, hingga sagu. Semua itu adalah pangan lokal yang melimpah dan bernilai gizi tinggi,” katanya lagi.
Ia mengingatkan bahwa porsi karbohidrat dalam satu piring tidak melulu harus berasal dari nasi. Singkong, kentang, sorgum atau jagung merupakan sumber karbohidrat yang tidak kalah baik.
Di banyak desa, lanjutnya, sarapan tradisional masyarakat sering kali terdiri dari singkong rebus yang hangat, ubi jalar manis, jagung panggang, atau kacang rebus yang kaya protein. Pola makan ini menunjukkan betapa luasnya pilihan karbohidrat yang tersedia. Menurut data BPS, sekitar 20% penduduk Indonesia masih bergantung pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama, menegaskan pentingnya upaya diversifikasi pangan.
“Semua contoh ini adalah bukti kekayaan pangan lokal kita yang harus dijaga dan dikembangkan,” pungkas Kusnadi.
