Sintang, Kalbar – Kemacetan pada jam-jam berangkat dan pulang sekolah di Kota Sintang makin sering dikeluhkan masyarakat. Terutama di Jalan Lintas Melawi hingga Jembatan Melawi dan Jalan MT Haryono kerap padat oleh lalu lintas kendaraan pribadi milik orangtua maupun pelajar yang datang secara bersamaan. Kondisi ini menjadi perhatian serius anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Senen Maryono.
Menurutnya, salah satu solusi konkret yang bisa segera dilakukan Pemerintah Kabupaten Sintang melalui Dinas Perhubungan adalah mengaktifkan kembali layanan bus pelajar yang beroperasi secara khusus untuk antar jemput siswa setiap hari sekolah. Program ini diyakini akan mengurangi volume kendaraan di jalan, menekan angka kecelakaan pelajar, serta menciptakan budaya tertib berlalu lintas sejak dini.
“Sintang ini sebenarnya sudah saatnya punya bus pelajar yang aktif berkeliling menjemput dan mengantar pelajar. Kita melihat sendiri, setiap pagi kemacetan itu hampir semuanya terjadi karena banyaknya pelajar yang membawa motor sendiri ke sekolah atau diantar jemput oleh orangtua. Kalau ada bus pelajar, persoalan ini bisa sangat berkurang,” ujar Senen Maryono ketika ditemui media ini.
Senen menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi di Sintang meningkat cepat, sementara kapasitas jalan di pusat kota masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Situasi ini membuat kemacetan saat jam sekolah sulit dihindari.
“Setiap tahun kendaraan bertambah, baik kendaraan pribadi maupun motor yang dipakai pelajar. Tapi infrastruktur jalan kita tidak bertambah banyak. Maka wajar kalau pada pukul 06.30–07.30 jalanan selalu padat. Salah satu cara cepat dan murah adalah menghadirkan transportasi khusus pelajar,” jelasnya.
Ia juga menyebut banyak orangtua yang bekerja menjadi tidak efisien karena harus mengantar dan menjemput anak. “Kalau ada bus pelajar, orangtua bisa langsung bekerja tanpa harus mutar antar anak dulu. Ini menghemat waktu dan biaya keluarga,” katanya.
Diakui banyak kalangan, salah satu faktor kemacetan adalah banyaknya pelajar SMA maupun SMP yang sudah membawa sepeda motor sendiri ke sekolah. Padahal, secara aturan, sebagian besar dari mereka belum cukup umur memiliki SIM.
“Bus pelajar ini sekaligus menjadi upaya mendisiplinkan pelajar agar tidak lagi membawa motor sendiri. Di banyak daerah, pemerintah tegas melarang pelajar di bawah umur membawa motor dan menyediakan transportasi sekolah sebagai solusinya. Sintang juga harus seperti itu,” ucap Senen.
Ia menambahkan bahwa maraknya pelajar membawa motor juga meningkatkan risiko kecelakaan. “Banyak kasus kecelakaan yang korbannya pelajar karena kurang lihai mengendarai motor, terburu-buru atau berboncengan tiga. Kalau mereka naik bus pelajar, risiko itu turun drastis,” tegasnya.
Senen Maryono meminta Dinas Perhubungan Sintang segera melakukan kajian rute, jadwal, dan kebutuhan armada. Menurutnya, konsep bus pelajar tidak harus mewah, yang penting aman, rutin, dan menjangkau kawasan padat pelajar.
“Bus pelajar itu bisa rutenya melingkar kota. Misalnya dari Sungai Ukoi – Baning Kota – Kompleks Kehutanan – Terminal Sungai Durian – Jerora II – Rawa Mambok – kembali lagi. Rute tinggal disesuaikan dengan sebaran sekolah dan permukiman pelajar,” jelasnya.
Selain armada bus, Dishub juga bisa bekerja sama dengan sekolah untuk mendata jumlah pelajar yang membutuhkan layanan ini setiap hari. “Sekolah bisa bantu pendataan. Pemkab tinggal memastikan armada cukup, pengemudi disiplin, dan jadwal tepat waktu.”
Senen percaya anggaran untuk operasional bus pelajar relatif kecil dibanding manfaat sosial yang didapat. Program ini juga sejalan dengan arah pembangunan kota yang lebih tertib, ramah lingkungan, dan efisien.
“Kita bisa belajar dari daerah lain bahwa bus pelajar terbukti efektif menekan kemacetan. Kenapa Sintang tidak mencoba? Apalagi kota kita tidak terlalu besar sehingga rutenya mudah diatur,” kata Senen.
Ia menyarankan pemkab memulai minimal dengan 3–5 unit bus berukuran sedang. Jika efektif, barulah jumlahnya ditambah.
Sebagai anggota DPRD, Senen Maryono memastikan akan mendorong pembahasan anggaran untuk program bus pelajar dalam rapat-rapat bersama pemerintah daerah.
“Kami di DPRD siap mengawal. Yang penting Dishub serius mengajukan program, membuat kajian, dan memastikan ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Jangan hanya wacana,” tegasnya.
Senen berharap kehadiran bus pelajar akan membuat Sintang lebih tertib, nyaman, dan aman bagi pelajar maupun pengguna jalan lainnya.
“Ini bukan hanya soal transportasi, tapi soal masa depan kota. Pelajar harus dibiasakan tertib sejak muda. Orangtua dapat menghemat waktu. Jalanan lebih lengang. Semua diuntungkan,” tutup Senen Maryono.
Dengan semakin padatnya mobilitas penduduk Sintang, bus pelajar menjadi kebutuhan yang mendesak. Jika pemerintah daerah mampu bergerak cepat, Kota Sintang bisa memiliki transportasi sekolah modern yang tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga mendukung keselamatan generasi muda dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
