Sintang, Kalbar – Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Darmadi mengatakan bahwa terkait kasus HIV pada prinsipnya adalah kasusnya ditemukan sehingga mereka punya harapan hidup yang sama dengan manusia lain.
“Jadi selama ditemukan kasus positif HIV, mereka harus dipantau, harus diobati, kan gitu. Kasus HIV ini penemuannya cenderung turun. Penemuan HIV ini tidak berdasarkan kunjungan Puskesmas. Untuk kasus HIV ini ada yang namanya penjangkau. Tanpa para penjangkau ini nggak bakalan HIV ini ditemukan,” kata Darmadi pada media ini, Rabu (1/11).
Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada obat yang bisa membuat penderita HIV sembuh total. Namun bila diobati dengan rutin maka penderita penyakit tersebut akan punya harapan hidup yang lebih tinggi.
“Saat ini jumlah penderita HIV yang tercatat sejak tahun 2006 cukup banyak, jumlahnya lebih dari 500 orang. Sebagian besar penderita HIV adalah orang-orang dengan usia produktif, kelompok umur tertinggi antara 25-29 tahun. Kemudian yang sudah meninggal lebih dari 100 orang,” bebernya.
Dikatakan Darmadi, penyebab tertular HIV ada berbagai alasan. Salah satunya dengan hubungan seksual tanpa pengaman maupun penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Ibu rumah tangga juga rentan tertular, biasanya dari suami.
“Kasus HIV ini mulai ketahuan terjangkit waktunya kurang lebih tiga bulan. Mulai dari saat yang bersangkutan melakukan, jadi window period-nya tiga bulan. Jadi ketika teras ada gejala harus diperiksa. Salah satu gejala condong pada penyakit-penyakit infeksi seksual. Kemudian mudah terserang penyakit. Lalu terjadi penurunan berat badan secara drastis,” jelasnya.
Darmadi menyebut, kasus HIV di Kabupaten Sintang bisa dikatakan cukup tinggi. Namun yang jadi permasalahan adalah penderita kadang-kadang tidak mau melakukan upaya agar harapan hidupnya menjadi lebih lama.
“Kebanyakan mereka pasrah. Nah ini susahnya di situ. Apalagi yang jauh kan. Yang namanya HIV kan kan harus dirahasikan. Kadang ini yang membuat petugas kesehatan susah bergerak. Stigmanya juga tinggi, ini yang jadi masalah,” pungkasnya.
