Sintang, Kalbar – Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Merakai, Ricky Natanil Sucipta mengatakan, masih banyak masyarakat di wilayah Puskesmas Merakai yang melakukan persalinan tidak menggunakan tenaga kesehatan, tapi menggunakan dukun beranak. Akibatnya, terdapat satu kasus kematian ibu saat persalinan yang tercatat di wilayah Puskesmas Merakai beberapa tahun lalu.
“Bumil memanggil dukun untuk membantu persalinan karena mereka tidak mampu dalam segi finansial. Jadi mereka takut memanggil tenaga kesehatan karena mereka merasa tidak mampu membayarnya,” ungkap dia, ketika dihubungi media ini, Senin (1/10).
Dia menyayangkan hal tersebut terjadi. Sebab kata dia, di puskesmas sudah ada BPJS. Jadi bisa dibantu dengan BPJS untuk biaya persalinan. Hanya memang, maindset setiap orang berbeda-beda. “Ada juga yang memang percaya dengan dukun beranak,” kata dia.
Dikatakan dia, untuk angka kematian ibu di tahun 2023 tidak ada. Sedangkan angka kematian bayi di tahun ini juga tidak ada. “Untuk tahun ini belum ada kasus kematian ibu dan bayi,” katanya.
Dia menjelaskan kasus angka kematian ibu terjadi saat korban melakukan persalinan dengan dukun, kemudian terjadi pendarahan. Karena pendarahan barulah memanggil tenaga kesehatan. Tapi kemudian tidak selamat.
Dia menegaskan, mengapa setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan? Karena tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan, sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin. Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit. “Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya,” tegasnya.
