Potensi Desa Menunggu Dijemput Kades

Sintang, Kalbar – Di balik hamparan perbukitan hijau, aliran sungai yang berliku, dan ladang yang subur, setiap desa di Kabupaten Sintang sejatinya menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tersentuh. Ada kekayaan alam yang menunggu diolah, ada budaya lokal yang siap diceritakan, dan ada peluang ekonomi yang tinggal dipetik. Namun, potensi itu masih banyak yang terlelap.

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, ingin membangunkan kesempatan besar itu. Dengan nada penuh optimisme, ia menegaskan bahwa desa-desa di Sintang perlu lebih berani menengok ke dalam dirinya sendiri.

“Kami akan menggalakkan seluruh pemerintahan desa di Kabupaten Sintang untuk memaksimalkan potensi daerah mereka,” ujarnya.

Santosa percaya setiap desa punya potensi unik. Sungai yang mengalir deras bisa berubah menjadi arena arung jeram yang mendebarkan. Tanah subur yang kaya mineral dapat melahirkan kebun organik yang menumbuhkan cabai dan tomat merah segar. Bahkan, sebuah budaya lokal yang sederhana dapat menjadi magnet wisatawan jika dikemas dengan kreatif.

Namun dari hasil reses yang ia lakukan, masih banyak potensi desa yang belum benar-benar digarap. Padahal, alokasi dana desa (DD) mencapai sekitar Rp331,8 miliar di tahun 2025, anggaran besar yang seharusnya menjadi modal emas untuk melangkah maju.

Bayangkan jika sebagian kecil anggaran itu digunakan untuk pelatihan kewirausahaan, warga belajar mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual, atau kelompok ibu-ibu menguasai keterampilan kerajinan tangan yang kemudian dipasarkan. Warga desa tidak hanya mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi juga kebanggaan baru.

“Kepala desa harus berpikir kreatif untuk memajukan desa mereka,” kata Santosa. “Gunakan anggaran desa seoptimal mungkin untuk mengeksplorasi potensi yang bisa meningkatkan PADes.”

Ia juga menyoroti pentingnya hubungan harmonis antara kepala desa dan BPD. Ketika keduanya saling mendukung, program pembangunan berjalan mulus. Ketika mereka membuka ruang diskusi dengan masyarakat, transparansi tumbuh, kepercayaan meningkat, dan desa bergerak bersama.

Di beberapa desa, rapat terbuka telah menjadi ruang inspirasi. Warga menyampaikan ide, aparat memberikan penjelasan, dan keputusan lahir dari kebersamaan. Santosa berharap pola seperti itu menjadi budaya baru di seluruh Sintang.

Ada desa yang mulai mempromosikan batik motif lokal, ada pula yang menggagas festival budaya tahunan untuk menarik pendatang. Semua langkah kecil itu menunjukkan bahwa dengan kreativitas, desa bisa berdiri tegak sebagai pusat ekonomi mandiri.

Santosa yakin, jika potensi desa dikelola dengan baik, roda ekonomi tidak hanya berputar lebih cepat, tetapi juga menyentuh setiap rumah dan keluarga. “Selain memberikan pelayanan kepada masyarakat, para kades harus mampu menghidupkan potensi desanya masing-masing demi merangsang ekonomi lokal,” tutupnya.

SebelumnyaSantosa Ajak Lulusan Perguruan Tinggi Ciptakan Lapangan Kerja Baru
SelanjutnyaDewan Sintang Ingin ASN Lebih Profesional Setelah Profiling