Santosa: Hargai Jasa Pahlawan dengan Pembangunan

Sintang, Kalbar – Setiap 10 November, Indonesia memperingati hari pahlawan. Di sekolah-sekolah, bendera berkibar setengah tiang; di gedung-gedung pemerintahan, upacara berlangsung khidmat; dan di benak banyak orang, terlintas kembali kisah-kisah perjuangan para pahlawan yang pernah menggetarkan tanah ini. Namun bagi Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, Hari Pahlawan bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan itu dalam tindakan nyata.

“Sebagai bentuk menghormati jasa para pahlawan, kita semua harus meneladani sifat-sifat mereka yang mulia,” ucapnya tegas, seakan menyalakan kembali api yang pernah menyala di dada para pejuang.

Santosa berbicara bahwa peringatan hari pahlawan bukan sekadar mengulang peringatan tahunan. Baginya, keteladaan sifat kepahlawanan yang harus dicontoh, seperti keberanian Jenderal Sudirman yang memimpin perang gerilya saat tubuhnya sendiri diterpa sakit.

Keberanian itu, katanya, bukan hanya milik masa lalu. Ia hadir setiap kali seseorang memilih untuk tidak menyerah. Ia tumbuh ketika masyarakat bergotong royong menolong korban banjir, ketika tenaga kesehatan bertahan menghadapi pandemi, atau ketika desa-desa terpencil tetap berjuang mengembangkan diri di tengah keterbatasan.

“Dengan meneladani sikap pahlawan, kita dapat menghargai pengorbanan mereka dengan cara yang konkret,” ujar Santosa, menekankan bahwa nilai-nilai itu bukan sekadar slogan di spanduk, tetapi harus menjadi tindakan yang tertanam dalam keseharian.

Santosa kemudian menarik garis panjang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Ia mengingatkan tentang semangat Sumpah Pemuda, ketika anak-anak muda dari berbagai suku dan daerah menyisihkan perbedaan demi satu tujuan, Indonesia merdeka. Semangat itulah, menurutnya, yang kini dibutuhkan untuk membangun bangsa dalam arus zaman yang semakin penuh tantangan.

“Kita juga harus menjaga persatuan dan kesatuan sebagai bentuk meneladani sikap kepahlawanan,” tuturnya. Dalam suaranya terselip keyakinan: tanpa persatuan, perjuangan sebesar apa pun akan kehilangan pijakan.

Santosa juga menyoroti bahwa teladan pahlawan harus menjelma dalam pembangunan daerah. Baginya, menghormati jasa pahlawan berarti memastikan bahwa perjuangan mereka tidak berakhir sebagai cerita sejarah, melainkan tumbuh menjadi energi yang mendorong pembangunan jalan yang lebih layak, sekolah yang lebih lengkap, layanan publik yang lebih baik.

Seperti para pejuang yang pernah melangkah tanpa takut, masyarakat masa kini, katanya, harus terus melangkah dengan tekad yang sama, meski medan perjuangannya berbeda.

Di Sintang, pesan itu terasa relevan. Wilayah yang luas dengan tantangan infrastruktur dan kebutuhan pembangunan yang mendesak membuat ajakan Santosa seolah menjadi cermin, di sinilah nilai-nilai kepahlawanan diuji kembali. Tidak dengan bambu runcing, tetapi dengan kerja keras, solidaritas, dan komitmen terhadap kemajuan bersama.

Dan ketika matahari sore mulai menutup hari di Sintang, sorotnya jatuh pada bangunan-bangunan yang sedang dibangun, jalan yang terus diperbaiki, dan masyarakat yang terus bergerak maju. Di sanalah, barangkali, bentuk penghormatan paling nyata terhadap para pahlawan: pembangunan yang tidak hanya mengubah wajah daerah, tetapi juga cara sebuah bangsa menghargai perjuangannya.

SebelumnyaSintang Dapat Jatah Sekolah Rakyat, Dibangun di Sungai Ringin
SelanjutnyaPemerintah Harus Kembangkan Minat Bakat Anak