Senen Khawatir Generasi Muda Sintang Salah Arah

Sintang, Kalbar – Malam di Kabupaten Sintang kini tak lagi sunyi seperti dulu. Lampu-lampu warna-warni dari berbagai Tempat Hiburan Malam (THM) yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah wajah kota. Bagi sebagian orang, keramaian ini terasa sebagai tanda perkembangan. Namun bagi sebagian lainnya, terutama para orang tua dan tokoh masyarakat, geliat itu menumbuhkan kegelisahan baru: masa depan generasi muda yang kian dipertaruhkan.

Keresahan itu juga dirasakan oleh anggota Komisi C DPRD Sintang, Senen Maryono, yang hampir setiap hari menerima cerita dari warga tentang perubahan perilaku remaja, meningkatnya kebiasaan nongkrong malam, serta longgarnya pengawasan di lingkungan tempat tinggal.

“Masalah sosial yang dihadapi anak muda Sintang saat ini adalah menjamurnya tempat hiburan malam,” kata Senen ketika ditemui di Sintang. Suaranya tenang, namun ada nada berat yang menandai kekhawatiran mendalam di balik kalimatnya.

Menurutnya, THM yang tumbuh tanpa kendali bukan hanya sekadar tempat hiburan. Ia adalah gerbang menuju pergaulan bebas yang sulit dipantau. Apalagi, kata Senen, anak muda cenderung berada dalam fase pencarian jati diri, emosinya belum stabil, dan mudah terbawa suasana.

“Tempat hiburan malam bisa memicu generasi muda terjerumus, karena pemikiran mereka masih labil,” tegasnya.

Bagi Senen, persoalan ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ia menyebutkan bahwa orang tua, pemerintah, dan lingkungan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menata ruang tumbuh generasi muda.

Di tengah percakapan, ia menyinggung satu hal yang tak pernah lepas dari perannya sebagai tokoh masyarakat yaitu nilai agama. Menurutnya, agama manapun pasti menolak kehidupan dunia malam karena berpotensi merusak iman dan moral seseorang. Ia percaya, tanpa penanganan tegas, THM yang tumbuh tak terkendali hanya akan memperlebar ruang terjerumusnya anak muda.

Penertiban memang pernah dilakukan oleh pemerintah. Razia sesekali muncul, namun tak cukup kuat untuk menahan laju perkembangan THM yang terus tumbuh. “Belum efektif dan belum tepat sasaran,” ujar Senen singkat.

Namun ia tak hanya mengkritik. Ia menawarkan solusi. Baginya, generasi muda butuh wadah penyaluran bakat dan kreativitas, ruang aman yang bisa menggantikan kebiasaan berkumpul di tempat-tempat yang tidak seharusnya. “Daripada mereka nongkrong di tempat yang bukan untuk mereka, lebih baik pemerintah menyediakan sarana positif,” ucapnya.

Baginya, menguatkan pembinaan adalah langkah penting yang harus dimulai. Penertiban bukan berarti mematikan usaha masyarakat, tetapi menempatkannya pada jalur yang benar. Misalnya, ia mengusulkan agar pemilik THM mendapatkan pembinaan.

Namun yang membuat Senen semakin gelisah bukan hanya soal THM. Ia melihat masalah lain yang berjalan beriringan, longgarnya pengawasan terhadap rumah-rumah kost. Menurutnya, banyak kost di Sintang kini dikelola tanpa kontrol ketat. Laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa batas, tanpa pengawasan pemilik kost maupun perangkat lingkungan.

“RT dan RW semakin cuek,” ungkapnya, mengulang keluhan masyarakat yang kerap datang padanya. “Padahal beberapa kost sudah menjadi tempat bebas bagi remaja.”

Kondisi ini diperparah oleh banyaknya remaja yang tinggal jauh dari orang tua. Tanpa bimbingan, mereka mudah terbawa arus pergaulan yang tidak sehat. Di sinilah Senen mendesak pemerintah, terutama Satpol PP, untuk mengambil peran. Ia menginginkan adanya pengawasan ketat, imbauan, dan tanggung jawab moral dari para pemilik kost, sehingga tempat tinggal tidak berubah menjadi ruang untuk perbuatan asusila.

Bagi Senen, titik persoalan ini sederhana, masa depan generasi muda Sintang. Ia tak ingin melihat anak-anak daerahnya kehilangan arah hanya karena lingkungan tak lagi peduli.

Sebagai wakil rakyat, harapannya tetap sama setiap tahun: tumbuhnya generasi Sintang yang berkarakter, berakhlak, dan mampu menjadi penerus pembangunan daerah. Tapi ia juga sadar bahwa tanpa perhatian bersama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Harapan itu bisa runtuh oleh gemerlap lampu malam yang kian menjerat.

“Saya hanya ingin anak-anak kita terhindar dari hal-hal negatif yang merusak masa depan,” katanya pelan sebelum menutup percakapan.

SebelumnyaTumbuhkan Ekonomi Di Garis Batas
SelanjutnyaRumah Kost Bisa Jadi Sumber PAD Sintang