Sintang, Kalbar — Di tengah dinamika perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, Kabupaten Sintang terus menguatkan langkah menuju predikat Kabupaten Layak Anak (KLA). Program ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan komitmen moral untuk memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan terlindungi dari berbagai ancaman. Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sintang, Senen Maryono, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mendorong penguatan program ini. Baginya, melindungi anak berarti menjaga masa depan Sintang itu sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sintang menunjukkan progres positif melalui peningkatan kategori dalam penilaian KLA nasional. Bagi Senen, capaian itu bukan kebetulan. Ada kerja keras pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah, lembaga pendamping, dunia pendidikan, hingga tokoh masyarakat yang terus menyatu dalam satu tujuan: memastikan hak-hak anak terpenuhi.
“Program Kabupaten Layak Anak ini sangat penting karena menyangkut masa depan generasi kita. Saya mendukung penuh langkah-langkah yang sudah dilakukan pemerintah. Yang penting setiap tahun ada peningkatan dan tidak berhenti di satu capaian saja,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, konsistensi menjadi kunci. KLA bukan proyek satu tahun atau sekadar label prestisius. KLA menuntut perubahan perilaku, penguatan sistem, dan perbaikan kualitas pelayanan publik secara terus-menerus.
Kota Layak Anak Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Bagi Senen Maryono, mewujudkan Kabupaten Layak Anak harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah daerah bisa menyediakan fasilitas, menyusun kebijakan, dan menyelenggarakan program edukasi, tetapi perlindungan anak hanya akan maksimal jika masyarakat ikut ambil bagian.
Ia menyoroti bahwa perubahan lingkungan sosial sangat mempengaruhi perkembangan anak. Kehadiran teknologi digital, hiburan tanpa batas, serta akses informasi yang semakin luas membawa peluang sekaligus ancaman.
“Inilah kenapa peran orang tua dan masyarakat penting. Pemerintah sudah bekerja, tetapi kalau tidak didukung lingkungan keluarga dan sosial, maka hasilnya tidak maksimal,” tegasnya.
Tantangan Terbesar: Narkoba dan Pergaulan Bebas
Di balik prestasi KLA yang diraih Sintang, ada realitas yang tak bisa diabaikan: maraknya ancaman narkoba dan pergaulan bebas di kalangan remaja. Tantangan ini semakin besar seiring perubahan perilaku, tekanan pergaulan, dan perkembangan media digital.
Senen menyebut bahwa perlindungan anak tidak hanya bicara fasilitas ramah anak, tetapi juga upaya mencegah mereka terjerumus dalam aktivitas destruktif yang dapat merusak masa depan.
Sintang, seperti daerah lain, tak luput dari incaran jaringan narkoba yang berusaha masuk melalui berbagai celah. Remaja menjadi target empuk karena rasa ingin tahu, tekanan kelompok sebaya, dan minimnya edukasi.
“Kita ingin anak-anak di Sintang tumbuh dengan aman, sehat, dan punya ruang untuk belajar serta bermain. Maka pemerintah perlu memperbanyak edukasi kepada masyarakat supaya perlindungan anak itu menjadi kesadaran bersama,” ungkap Senen.
Menurutnya, bahaya narkoba dan pergaulan bebas harus ditangani melalui edukasi rutin di sekolah dan masyarakat, penguatan karakter melalui pendidikan moral dan agama, pelibatan tokoh adat dan agama, peningkatan patroli dan pengawasan lingkungan dan penyediaan ruang ekspresi yang sehat bagi anak. Jika ruang positif kurang, anak-anak akan mencari ruang sendiri dan itu belum tentu aman.
Kabupaten Layak Anak bukan hanya soal bebas dari ancaman, tetapi juga menyediakan ruang tumbuh yang berkualitas. Senen menuturkan bahwa salah satu indikator penting adalah ketersediaan fasilitas ramah anak—taman bermain, ruang publik aman, layanan kesehatan terpadu, serta sekolah yang nyaman.
Menurutnya, Sintang sudah bergerak ke arah itu, tetapi peningkatan fasilitas harus terus dilakukan. Banyak wilayah yang masih kekurangan ruang bermain layak, sementara anak-anak membutuhkan tempat aman untuk bersosialisasi dan beraktivitas.
“Evaluasi rutin jangan hanya berhenti pada laporan. Harus ada perbaikan nyata di lapangan. Karena yang kita jaga ini masa depan anak-anak Sintang,” katanya.
Salah satu capaian membanggakan Sintang adalah meningkatnya kategori KLA. Bagi Senen, hal itu membuktikan bahwa kolaborasi yang dibangun sudah berjalan.
“Kenaikan kategori itu tidak mungkin tercapai kalau tidak bekerja sama. Saya berharap kerja sama ini jangan sampai kendor dan terus ditingkatkan,” katanya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, pendidikan moral sering kali dianggap ketinggalan zaman. Padahal, bagi Senen, pendidikan nilai adalah benteng utama untuk menjaga anak dari narkoba, kekerasan, dan pergaulan bebas.
Sekolah harus memperkuat pendidikan karakter, sementara keluarga memegang peran sentral sebagai ruang pembentukan nilai paling awal. Orang tua harus terlibat aktif, bukan sekadar menyerahkan semua tanggung jawab kepada sekolah.
“Pendidikan moral itu fondasi. Kalau karakter kuat, anak tidak mudah terpengaruh. Ini harus kita perkuat bersama,” ujarnya.
Melihat perkembangan yang ada, Senen optimistis bahwa Sintang bisa mencapai kategori KLA yang lebih tinggi dalam waktu dekat. Namun, ia mewanti-wanti agar keberhasilan itu tidak membuat pemerintah dan masyarakat lengah.
Tantangan anak di masa depan akan semakin berat, mulai dari narkoba, kekerasan digital, perundungan, eksploitasi ekonomi, hingga tekanan mental akibat perkembangan teknologi. Karena itu, kata Senen, semua pihak harus semakin serius.
“Jangan hanya bagus di laporan. Yang penting nyata di lapangan. Kita ini sedang menjaga generasi masa depan Sintang,” pungkasnya.
Menjadikan Sintang Rumah yang Aman untuk Anak
Program Kabupaten Layak Anak bukan hanya soal predikat. Ia adalah komitmen untuk menjadikan Sintang sebagai rumah aman bagi setiap anak—tempat mereka tumbuh sehat, terdidik, terlindungi, dan bahagia.
Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, lembaga sosial, tokoh adat, hingga orang tua, Sintang memiliki modal kuat untuk mewujudkan mimpi besar ini.
Bagi Senen Maryono, perjuangan itu tidak boleh berhenti. Karena masa depan yang kuat hanya bisa dibangun dari anak-anak yang terlindungi hari ini.
