Sungai Tempat Hidup, Bukan Tempat Sampah

Sintang, Kalbar — Upaya mewujudkan Kabupaten Sintang sebagai kota yang bersih, sehat, dan asri terus menjadi perhatian banyak pihak. Persoalan sampah, terutama kebiasaan membuang sampah sembarangan dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga, masih menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. Sebab, wajah sebuah kota tercermin dari bagaimana masyarakatnya memperlakukan lingkungan sekitar.

Di berbagai sudut Sintang, mulai dari ruas jalan protokol hingga permukiman, tumpukan sampah masih sesekali terlihat. Lebih memprihatinkan lagi, di beberapa titik bantaran sungai, sampah plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga mengambang tanpa henti terbawa arus Kapuas dan Melawi. Padahal, sungai adalah identitas Sintang, tempat masyarakat menggantungkan hidup, sumber air, transportasi, bahkan rekreasi.

Melihat kondisi tersebut, anggota DPRD Kabupaten Sintang, Sebastian Jaba, menyampaikan keprihatinan dan mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut ambil bagian menjaga kebersihan lingkungan. “Sintang harus menjadi kota yang bersih dan asri. Itu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau petugas kebersihan. Masyarakat harus ikut disiplin, jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke sungai,” tegasnya.

Sintang dikenal sebagai kota air yang berdiri di antara dua sungai besar. Keindahan panorama tepian sungai selalu menjadi daya tarik tersendiri. Namun jika kondisi sungai terus tercemar, potensi itu bisa hilang dalam sekejap.

Sampah yang dibuang sembarangan ke sungai bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Air sungai yang tercemar berpotensi membawa bakteri berbahaya, mengganggu ekosistem ikan, hingga menyebabkan pendangkalan yang memperbesar risiko banjir. Fenomena banjir besar yang pernah melanda Sintang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat nyata betapa pentingnya menjaga kebersihan sungai.

“Kalau kita biarkan sampah terus dibuang ke sungai, itu sama saja kita merusak diri kita sendiri. Sungai adalah sumber kehidupan. Menjaga sungai berarti menjaga masa depan Sintang,” ujar Jaba.

Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang beralasan tidak memiliki tempat pembuangan sementara atau kesulitan akses pengangkutan sampah. Namun ia menegaskan bahwa alasan tersebut tidak dapat membenarkan tindakan membuang sampah sembarangan. “Kebiasaan harus diubah. Kita bisa menampung sampah sementara di rumah, memilahnya, atau mengantarnya ke TPS terdekat. Pilihan selalu ada kalau kita mau berubah.”

Pemerintah daerah telah menyediakan berbagai fasilitas pengelolaan sampah, mulai dari tempat pembuangan sementara, truk angkut, hingga layanan kebersihan rutin di pusat kota. Namun fasilitas tidak akan berarti tanpa kesadaran kolektif masyarakat.

Itu sebabnya Jaba menekankan pentingnya peran aktif warga. “Menjaga lingkungan tidak bisa setengah hati. Ini soal kesadaran dan kedisiplinan. Kita tidak bisa terus bergantung pada pemerintah. Petugas kebersihan jumlahnya terbatas, sementara sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari terus bertambah.”

Selain disiplin membuang sampah pada tempatnya, ia juga mendorong masyarakat mulai membiasakan pola hidup ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menyediakan kantong belanja sendiri, hingga memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Program edukasi juga terus digalakkan, baik melalui sekolah, komunitas, hingga kegiatan penyuluhan kelurahan. Komunitas pecinta lingkungan di Sintang aktif melakukan aksi bersih sungai dan ruang publik. Beberapa desa bahkan mulai memperkuat bank sampah sebagai solusi ekonomi sekaligus lingkungan.

Untuk menjadikan Sintang sebagai kota yang bersih dan asri, perubahan harus dimulai dari ruang pribadi: rumah, halaman, dan lingkungan terdekat. Kebiasaan positif seperti menyapu halaman, menutup tempat sampah dengan benar, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan adalah langkah kecil dengan dampak besar.

Jaba juga mengingatkan bahwa lingkungan yang bersih akan membawa banyak manfaat. Kesehatan masyarakat meningkat, risiko penyakit berkurang, dan lingkungan menjadi lebih nyaman. “Anak-anak kita berhak tumbuh di lingkungan yang bersih. Jangan wariskan masalah sampah kepada mereka. Kita harus mulai dari sekarang,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat penegakan aturan terkait persampahan. Peraturan daerah sebenarnya sudah mengatur sanksi bagi pembuang sampah sembarangan, hanya saja di lapangan penerapannya masih longgar. Penegakan aturan secara konsisten dinilai mampu meningkatkan efek jera.

Lingkungan yang bersih bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan dasar untuk mewujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan. Sungai yang jernih, jalanan bebas sampah, dan udara segar adalah gambaran Sintang yang ingin diwujudkan ke depan.

Jaba percaya bahwa perubahan itu sangat mungkin terjadi jika masyarakat memiliki komitmen bersama. “Kalau kita semua mau bergerak, mulai dari diri sendiri, saya yakin Sintang bisa menjadi kota yang bersih dan membanggakan.”

Ia menambahkan, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis saja, tetapi tanggung jawab semua warga. “Mari kita jaga Sintang bersama. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan jadikan sungai tempat sampah. Kita jaga lingkungan kita, demi Sintang yang asri, nyaman, dan layak untuk generasi mendatang.”

Dengan kesadaran kolektif, langkah kecil dari setiap warga akan menjadi gerakan besar untuk menjaga bumi pertiwi. Sintang bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat dan pemerintah bergerak bersama menciptakan kota yang lebih hijau dan lebih manusiawi.

Karena lingkungan yang bersih bukan hanya warisan untuk hari ini, tetapi hadiah untuk masa depan.

SebelumnyaRumah Kost Bisa Jadi Sumber PAD Sintang
Selanjutnya5 Tahun Lagi Jembatan Melawi di Kota Sintang Macet Total