Sintang, Kalbar – Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Jelimpau, Ahmad Mudasir, mengatakan, mempunyai program unggulan yang diberinama Kujau Emas. “Tahun ini kami gencar melaksanakan program pencegahan stunting yang diberinama Kujau Emas. Program Kujau Emas ini kepanjangan dari Kumpulan Remaja dan Ibu Empati Mencegah Anemia dan Stunting,” katanya, saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Kamis (23/11).
Dikatakan dia, program tersebut mengajarkan ibu-ibu dalam mengelola makanan agar anaknya tidak stunting. “Kami bekerja sama dengan Wana Visi, memberikan pelatihan PNBA. Kalau untuk remajanya, kami memberikan penyuluhan dan tablet tambah darah,” ungkapnya.
Dikatakan dia, untuk program gizi juga rutin dilaksanakan setiap bulan oleh posyandu yang ada. “Kemudian ada pelatihan tumbuh kembang anak, yang mendatangkan psikolog dari Sintang, kalau untuk ANC (periksa hamil) juga akan kami lakukan pemeriksaan rutin. Jadi puskesmas melayani, di polindes juga tetap melayani,” kata dia.
Dikatakan dia, saat ini di wilayah kerja Puskesmas Jelimpau terdapat 7 kasus gizi buruk, 30 kasus gizi kurang, 165 stunting.
“Kalau untuk stunting kita di angka 27 persen dari jumlah anak. Jadi memang cukup tinggi kalau untuk kasus stunting,” kata dia.
Untuk stunting ini, indikatornya masih berdasarkan tinggi badan yang tidak sesuai umur. Padahal stunting banyak indikatornya. Termasuk dari kemampuan IQ nya dan perkembangan fisiknya.
Pada 2021 angka stunting Sintang termasuk tertinggi kedua se Kalbar yakni 38,2 persen. Kabupaten Sintang berhasil menempati peringkat 1 (satu) pada penilaian kinerja 8 Aksi Konvergensi Stunting Tingkat Provinsi Kalimantan Barat tahun 2021. Dengan demikian, Kabupaten Sintang sudah 4 tahun berturut-turut mendapatkan peringkat pertama sebagai kabupaten di Kalimantan Barat dengan kinerja terbaik dalam 8 Aksi Konvergensi Stunting Tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
