Dampingi Anak Mengenal Gadget

Sintang, Kalbar —Teknologi, yang dulu dianggap barang mewah, kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak.

Namun, di tengah derasnya arus digital, satu pesan terus digaungkan, anak tidak boleh dibiarkan berhadapan dengan gadget tanpa pendampingan.

Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola, menekankan bahwa gadget bukanlah sesuatu yang harus dihindari secara total. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan kreativitas, selama anak tetap berada dalam pengawasan yang tepat.

“Anak-anak dapat menciptakan hal-hal baru dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi yang ada,” ujar Erika.

Erika percaya, pengenalan teknologi yang tepat dapat membuat proses belajar terasa luwes seperti bermain. Aplikasi seperti Duolingo, misalnya, mengubah pembelajaran bahasa menjadi rangkaian permainan yang menyenangkan. Anak-anak dapat menyerap kosa kata tanpa merasa digurui.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa ada usia ideal untuk memulai semua itu. “Beberapa artikel menyebutkan, orangtua sebaiknya mengenalkan teknologi setelah anak berusia 3 tahun. Untuk yang di bawah 3 tahun, lebih baik ditunda,” jelasnya.

Setelah melewati usia tersebut, teknologi bisa menjadi pintu menuju pengalaman belajar yang lebih kaya. Video sains animatif, aplikasi eksperimen digital, hingga permainan edukatif seperti Scratch dapat merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis anak.

Namun, “gadget bukan pengasuh,” tegas Erika. Penggunaan yang berlebihan justru mengundang risiko mata lelah, tidur terganggu, hingga obesitas karena minim aktivitas fisik. Anak yang terlalu sibuk menatap layar juga berisiko kehilangan kesempatan emas untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti bermain, berbagi, berlari, atau sekadar mengejar bola di halaman.

Tak hanya fisik dan mental, perkembangan sosial pun bisa terganggu. Interaksi manusia tak bisa digantikan oleh cahaya layar. Anak yang lebih sering memegang gadget dibanding berbaur di taman dapat menjadi lebih pasif dan kurang luwes saat berhadapan dengan teman sebaya.

Karena itu, Erika menegaskan pentingnya aturan waktu layar dan pengawasan konten. Bagi anak di bawah 12 tahun, ia menyarankan batas penggunaan sekitar satu jam per hari. Sementara itu, orangtua perlu memastikan konten yang diakses sesuai nilai moral, bebas kekerasan, dan tidak bertentangan dengan etika yang ingin ditanamkan.

“Dampak teknologi tergantung pada bagaimana orangtua memperkenalkannya,” katanya. Peran pendamping menjadi kunci. Bukan hanya membatasi, tetapi juga mengarahkan dan menjelaskan.

Pada akhirnya, Erika melihat teknologi sebagai alat. Alat yang jika digunakan dengan bijak dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi kreatif, cerdas, dan adaptif menghadapi era digital.

Orangtua hanya perlu memastikan satu hal bahwa langkah kecil anak di dunia digital selalu ditemani, diawasi, dan diarahkan dengan penuh kasih.

SebelumnyaJembatan Melawi Dua Mendesak Dibangun, Jalan Lingkar Jadi Solusi Kemacetan Kota Sintang
SelanjutnyaPemotongan Anggaran Sintang Capai Rp388 Miliar, Pemkab Didorong Intensif Gali Potensi PAD