Dewan Sintang Ajak Gen Z Menjadi “Petani Keren”

Sintang, Kalbar — Di banyak desa di Kabupaten Sintang, sawah-sawah hijau membentang luas, namun di antara barisan padi yang menguning, hanya sedikit wajah muda yang terlihat. Kebanyakan anak muda memilih merantau, mengejar pekerjaan di kota, meninggalkan cangkul dan tanah yang dulu menjadi kebanggaan para leluhur mereka.

Kondisi ini membuat Anggota DPRD Sintang, Nekodimus, harus menghela napas panjang. “Generasi muda sekarang jarang sekali yang mau menjadi petani,” ujarnya. Nada suaranya bukan sekadar mengkritik, tetapi menyimpan kekhawatiran, siapa yang akan melanjutkan tonggak pangan bangsa jika anak-anak muda terus menjauhi ladang?

Di tengah rendahnya minat anak muda, Kementerian Pertanian justru membuka kesempatan baru, program pertanian modern yang memungkinkan kaum milenial dan Gen Z meraih pendapatan Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan. Bukan angka imajinatif di banyak daerah, petani muda telah membuktikannya.

Teknologi menjadi kunci. Drone, sistem pertanian presisi, aplikasi pemantauan tanaman, hingga alat mesin pertanian (alsintan) canggih seperti traktor dan pemanen modern. Semua itu membuat kerja di sawah tak lagi identik dengan pekerjaan berat yang melelahkan, tetapi justru mirip mengelola “startup produksi pangan”.

“Generasi muda tidak akan tertarik jika mereka tidak melihat keuntungan,” kata Nekodimus, mengingatkan bahwa pertanian hari ini bisa setara dengan bisnis sektor lain, hanya saja belum banyak yang mau mencoba.

Di beberapa daerah, teknologi terbukti mengangkat produktivitas. Penerapan pertanian presisi akan meningkatkan hasil panen yang cukup signifikan. Dengan sensor tanah, aplikasi pemetaan, dan drone penyemprot, petani bisa memantau kondisi lahannya secara real-time.

Nekodimus menilai peluang ini sangat mungkin diterapkan di Sintang. Kabupaten ini memiliki lahan luas, sumber air memadai, dan kultur pertanian yang kuat. Sekarang yang dibutuhkan hanyalah generasi muda yang mau bergerak.

Untuk menarik mereka, Nekodimus mendesak Pemkab Sintang menyelenggarakan seminar, workshop pertanian digital, dan pelatihan praktik langsung yang lebih ramah bagi anak muda. “Kita harus membuat pertanian menjadi profesi yang membanggakan,” tegasnya.

Ia khawatir jika tidak ada regenerasi, pertanian Sintang akan menghadapi krisis. “Sumber daya petani kita sudah semakin menua. Mau makan apa kita nanti?”

Kementerian Pertanian kini menargetkan 100.000 mahasiswa ikut dalam program pertanian modern periode 2025–2029. Hingga kini, 3.000 anak muda sudah dilatih termasuk lulusan perguruan tinggi dan SMKPP.

Para peserta belajar mengelola lahan secara efisien, menggunakan drone untuk memantau tanaman, memasarkan hasil panen lewat e-commerce, hingga menganalisis data pertanian dari aplikasi digital. Mereka bukan hanya petani, mereka adalah petani cerdas.

Dalam sebuah proyek percontohan, 15 anak muda yang mengelola 200 hektare lahan bahkan bisa meraih keuntungan hingga Rp50 juta per orang per tahun.

Bagi Nekodimus, pertanian bukan warisan yang usang, tetapi masa depan yang kaya peluang. Generasi muda hanya perlu melihatnya dengan perspektif baru.

“Pertanian adalah ladang masa depan. Jika generasi milenial dan Gen Z mau terlibat, mereka bisa menjadi petani keren yang menggerakkan ketahanan pangan Indonesia,” ujarnya.

Di tengah dunia yang berubah cepat, di mana teknologi merambah setiap bidang kehidupan, ladang-ladang di Sintang kini menunggu tangan-tangan muda yang siap membawa perubahan. Di tanah yang sama tempat generasi sebelumnya menggantungkan hidup, masa depan baru sedang menanti, lebih modern, lebih menjanjikan, dan lebih membanggakan. (tantra)

SebelumnyaDewan Sintang Minta Pembangunan Jangan Tergantung di Ujung Waktu
SelanjutnyaImunisasi Anak Harus Merata di Seluruh Sintang