Serawai–Ambalau Terperangkap Infrastruktur Hancur Lebur

Sintang, Kalbar – Di ujung barat Kalimantan, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota Kabupaten Sintang, Kecamatan Serawai dan Ambalau menghadapi kenyataan yang pahit. Setiap pagi, anak-anak desa di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau selalu menatap jalan tanah yang memanjang di desanya, jalur yang akan ia tempuh menuju sekolah. Dari kejauhan, jalan itu tampak seperti jalur kusut berwarna cokelat gelap, basah dan mengilap. Anak-anak itu sudah tahu resikonya melewati jalanan tersebut. Mereka harus melewati perjalanan panjang yang dipenuhi risiko terpeleset dan terjebak dalam lumpur.

Saat hujan turun semalaman, jalan itu berubah menjadi kubangan raksasa. Tidak ada pilihan lain bagi masyarakat di sana, selain melangkah di atas tanah berlumpur yang bisa menelan kaki hingga lutut. Keterisolasian yang terus membelenggu. Dua kecamatan terluas sekaligus terjauh ini sudah lama hidup dalam ketimpangan infrastruktur. Banyak desa di wilayah tersebut terputus dari akses darat yang layak, dan hingga kini, belum ada tanda-tanda perubahan.

“Kondisi infrastruktur di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau rusak parah,” tegas Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang, Sandan, dengan nada yang menunjukkan kelelahan sekaligus keprihatinan.

Suara protes dari masyarakat di pelosok dua kecamatan itu terus berdentum di telinga wakil rakyat tersebut. Keluhan warga bukan sekadar ungkapan kesal, melainkan jeritan kebutuhan dasar yang tak kunjung terpenuhi. Setiap musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur pekat. Sepeda motor terjebak, mobil nyaris mustahil lewat, dan pejalan kaki dipaksa melawan jarak dengan penuh risiko.

Bagi warga desa, jalan bukan hanya hamparan tanah yang menghubungkan titik A ke titik B. Ia adalah urat nadi kehidupan, jalur yang mengantarkan hasil kebun ke pasar, tempat anak-anak berjalan demi menuntut ilmu, serta rute penting bagi pasien darurat menuju fasilitas kesehatan. Ketika jalan itu rusak, seluruh aliran kehidupan pun tersendat.

Ekonomi merosot. Akses pendidikan terganggu. Dan yang tak kalah penting, keselamatan warga terancam. Jalan rusak bukan hanya tentang kenyamanan, tetapi potensi kecelakaan yang setiap hari mengintai.

Sandan mengakui bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama. Akses darat dari Sintang ke ibu kota kecamatan memang masih ada, tetapi tak banyak desa yang dapat menikmati jalur tersebut. “Perbaikan jalan hingga ke desa-desa terhenti karena terkendala anggaran,” ujarnya dalam rapat di DPRD Sintang.

Akibat minimnya pembangunan, warga desa di Serawai dan Ambalau tak punya pilihan selain mengandalkan jalur sungai. Transportasi air, meski menjadi nadi alternatif, hadir dengan beban biaya yang tinggi. “Mau bagaimana lagi, hanya jalur sungai yang bisa digunakan,” kata Sandan.

Dengan nada berat, ia meminta masyarakat untuk bersabar. Dana pemerintah daerah yang terbatas membuat pemerataan pembangunan mustahil diwujudkan dalam waktu singkat. Terlebih, Serawai dan Ambalau adalah kecamatan yang luas, dengan jarak antar-desa yang berjauhan dan medan yang menantang.

Keterisolasian ini seakan menjadi cerita lama yang terus berulang. Sementara warga menunggu kepastian, jalan-jalan itu tetap tergeletak dalam diam, menjadi simbol ketertinggalan yang tak pernah benar-benar tersentuh pembangunan.

SebelumnyaPariwisata Sintang: Potensi Besar yang Sunyi
SelanjutnyaTumbuhkan Ekonomi Di Garis Batas