Sintang, Kalbar – Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, dunia kerja tidak lagi memberikan kepastian seperti dahulu. Di ruang-ruang kelas perguruan tinggi hingga warung kopi tempat anak-anak muda berkumpul, percakapan tentang masa depan sering berujung pada satu kata yang tak kunjung hilang dari benak mereka, kecemasan akan masa depan. Mereka cemas tidak mendapat pekerjaan setelah lulus, cemas tersisih oleh teknologi, atau cemas tidak mampu bersaing di tengah pasar kerja yang semakin ketat.
Kondisi itu pula yang diamati oleh Chomain Wahab, Anggota DPRD Kabupaten Sintang, setiap kali ia turun ke lapangan dan berdialog dengan para mahasiswa maupun pemuda desa. “Masih banyak yang merasa bahwa setelah wisuda, pekerjaan harus datang menghampiri. Padahal dunia sudah berubah,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Pernyataan itu bukan sekadar motivasi kosong, melainkan dorongan serius bagi generasi muda untuk mulai memandang wirausaha sebagai pilihan karier yang setara, bahkan lebih menjanjikan ketimbang sekadar mengejar status pegawai negeri.
Perkembangan teknologi telah membuka peluang yang tak terbayangkan sebelumnya. Dari pedalaman Sintang sekalipun, anak-anak muda kini bisa menjual kerajinan tangan ke kota besar, menawarkan jasa digital ke luar Pulau Kalimantan, bahkan membuka toko daring yang pembelinya datang dari berbagai provinsi. Perubahan gaya hidup masyarakat serta meluasnya akses internet mempercepat tumbuhnya pasar baru. Bagi Markus, inilah momentum yang tidak boleh disia-siakan.
“Wirausaha bukan lagi soal modal besar atau tempat strategis,” katanya. “Paling penting adalah ide, kemauan belajar, dan keberanian memulai,” katanya lagi.
Namun sayangnya, masih banyak anak muda yang terjebak pada impian klasik menjadi pegawai negeri. Persepsi tentang kenyamanan, gaji tetap dan status sosial membuat PNS dipandang sebagai puncak kesuksesan. Di sisi lain, peluang menjadi PNS kian sempit, sementara kompetisinya justru semakin ketat.
Chomain memahami dilema itu, tetapi ia menegaskan bahwa ketergantungan pada orientasi mencari pekerjaan justru membatasi potensi kreatif generasi muda. “Kalau semua ingin jadi pencari kerja, siapa yang akan menciptakan lapangan kerjanya?” tegasnya. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan wirausahawan lokal yang mampu menggerakkan ekonomi dari tingkat desa hingga kabupaten.
Namun, seperti dua sisi mata uang, wirausaha tidak luput dari risiko. Tidak ada jaminan bahwa usaha akan langsung berhasil. Bahkan banyak yang jatuh bangun sebelum akhirnya mampu berdiri tegak. Kegagalan, rugi modal, dan ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan itu.
Di sinilah menurut Chomain, generasi muda perlu membangun mentalitas baru: bahwa jatuh bukan akhir, dan kesalahan bukan sesuatu yang menakutkan. “Anak-anak muda harus punya keberanian untuk gagal,” katanya. “Mereka harus berani mencoba hal baru dan belajar dari setiap pengalaman,” pintanya lagi.
Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk menghadirkan pendampingan, pelatihan, serta akses permodalan yang lebih mudah bagi pemuda yang ingin memulai usaha. Program seperti pelatihan UMKM, bimbingan manajemen usaha, hingga akses kredit usaha rakyat (KUR) harus menjangkau desa-desa, bukan hanya pusat kabupaten.
Menurutnya, upaya memajukan wirausaha tidak cukup hanya sebatas ajakan moral. Butuh ekosistem pendukung yang konkret. Pemuda membutuhkan ruang kreatif, fasilitas, pasar, serta mentor yang dapat menuntun mereka memahami dasar-dasar entrepreneurship.
