Sintang Punya Peluang Besar Industri Cabai

Sintang, Kalbar – Kabupaten Sintang menyimpan potensi pertanian yang seringkali tersembunyi oleh bayang-bayang perkebunan besar. Anggota DPRD Sintang, Hermansen Figo, mengungkap satu realitas yang cukup ironis: “Kabupaten Sintang memiliki lahan yang subur. Namun sayangnya, belum semua lahan yang subur tergarap dengan baik.” Pernyataan itu sekaligus menyentil dua fakta, potensi besar yang belum dimaksimalkan dan kebutuhan untuk mengubah orientasi pertanian.

Sintang yang wilayahnya mencapai sekitar 2,2 juta hektar (±21.96 ribuan km²) menurut data administrasi wilayah memiliki hamparan lahan yang cukup untuk menjadi basis pertanian skala besar.

Dalam kajian lanskap, tercatat area NKT (non-kawasan hutan tetap) seluas 1.168.526,17 ha (53,19 %) dan area SKT (sebagian kawasan hutan tetap) 978.134,93 ha (44,52 %) dari total wilayah.

Sementara itu, data dari BPS Kabupaten Sintang menunjukkan bahwa untuk kategori tanaman sayuran dan buah-buahan semusim termasuk cabai, ada variabilitas luas tanam, misalnya untuk cabai rawit tercatat luas panen 166 hektar.

Artinya lahan tersedia, produktivitas dapat ditingkatkan dan cabai bisa menjadi salah satu komoditas unggulan dari wilayah yang kerap dikenal sebagai “wilayah perkebunan sawit dan karet”. Namun, peluang itu tidak sekadar hipotetis. Data menunjukkan bahwa produksi cabai di Sintang telah mencapai titik tertentu, meskipun belum optimal. Per Mei 2025, produksi cabai rawit di kabupaten ini tercatat 527 ton hingga April 2025.

Luas tanam yang mendukung produksi tersebut memang masih terbatas dan produktivitas belum menunjukkan lonjakan besar.

Figo menyoroti kondisi pasar, satu kilogram cabai harganya di Kabupaten Sintang selalu di atas Rp50.000. Bahkan di waktu-waktu tertentu bisa mencapai Rp100.000. “Inikan sangat mahal,” katanya.

Dikatakan dia, jika produksi masih terbatas baik dari sisi luas tanam maupun produktivitas maka ketika pasokan mengecil atau rantai distribusi terganggu, harga melonjak. Sebaliknya, ketika produksi melimpah tanpa akses pasar dan pengolahan yang baik, petani bisa terkena jebakan harga rendah.

Sintang sebenarnya memiliki keunggulan agro-geografi karena memiliki lahan subur yang mampu memproduksi cabai, dan peluang untuk membuat nilai tambah lokal. Ia mengusulkan: “Kalau petani mengembangkan budidaya tanaman cabai secara besar-besaran. Maka hasilnya tidak hanya bisa dijual dalam bentuk bahan baku. Tapi bisa diolah menjadi produk barang jadi, seperti sambal botol.”

Dengan model semacam ini, tanam cabai dalam skala memadai, kemudian lakukan pengolahan lokal, nilai ekonomi yang tertangkap di Sintang bisa naik, dari hanya hasil panen lalu menjual ke pasar luar, menjadi unit produksi lokal yang menghasilkan produk jadi yang lebih tahan terhadap fluktuasi pasar internasional atau logistik.

Untuk mewujudkan visi bahwa “harga cabai tidak akan mahal” serta memaksimalkan potensi lokal, Pemkab Sintang harus melakukan pemetaan kecamatan prioritas. Tentukan kecamatan dengan potensi lahan terbaik (kesesuaian tanah, air irigasi, akses jalan) untuk pengembangan cabai intensif. “Pemkab juga perlu menjali kemitraan dengan berbagai pihak. Pemerintah daerah (Pemkab) bersama Dinas Pertanian bisa mendorong kemitraan dengan pelaku usaha lokal untuk unit pengolahan sambal botol, bumbu instan, atau produk olahan lain berbasis cabai.

“Pelatihan intensif, penyediaan benih unggul, pengendalian hama dan penyakit, serta sistem panen dan pascapanen yang baik supaya produktivitas naik. Kemudian dirikan fasilitas pengolahan dan penyimpanan di tingkat desa/kecamatan dan fasilitas penyimpanan dasar (cool-storage) agar kualitas cabai terjaga dan dapat dipasarkan lebih jauh. Produk olahan cabai lokal bisa diberi merek “Sintang” atau “Kalbar” yang menambah nilai; juga meningkatkan distribusi ke pasar provinsi atau nasional,” sarannya.

Mengangkat produksi dan pengolahan cabai tidak hanya soal menurunkan harga di pasar lokal atau provinsi. Ini soal bagaimana petani lokal mendapatkan keuntungan lebih, ekonomi desa menjadi lebih aktif, dan Sintang tidak hanya dikenal sebagai “zona perkebunan besar” tetapi juga sebagai sentra hortikultura yang maju.

Jika potensi lahan subur yang cukup luas di Sintang bisa dimanfaatkan dengan baik, maka hasilnya bisa berdampak ganda: pengendalian harga pangan, termasuk cabai di wilayah sendiri, sekaligus peningkatan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Potensi luas lahan di Kabupaten Sintang sudah nyata. Produksi cabai mulai menunjukkan angka yang signifikan yaitu 527 ton hingga April 2025, tetapi masih jauh dari potensi maksimal. Dengan strategi yang jelas, orientasi kebijakan yang mendukung, dan partisipasi aktor lokal (petani, pemerintah, swasta pengolah), Sintang bisa membalikkan narasi, bukan lagi “harga cabai melonjak karena pasokan minim” tetapi “cabai lokal Sintang yang andal, produksi stabil, dan produk olahan lokal makin banyak”. “Bila itu tercapai, masyarakat petani dan konsumen sama-sama untung. Petani dengan pendapatan lebih baik, konsumen dengan harga pangan lebih stabil,” pungkasnya.

SebelumnyaPotensi Tenun Ikat Sintang Harus Dikelola
SelanjutnyaGenerasi Muda Harus Mencintai Budaya