Sintang, Kalbar – Pagi itu udara di Kecamatan Kayan masih terasa basah. Embun menempel di rerumputan yang tumbuh subur di lahan-lahan hijau yang menjadi tempat penggembalaan sapi milik warga. Beberapa peternak sibuk membersihkan kandang, sementara yang lain memeriksa kondisi ternak mereka sebelum dilepas mencari pakan. Suasana inilah yang menggambarkan denyut kehidupan para peternak sapi di daerah pemilihan (Dapil) Kayan, yang kini mendapat angin segar setelah Anggota DPRD Sintang, Santosa, menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pengembangan kelompok tani sapi di wilayah tersebut.
Santosa, yang turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi peternak di Kayan, menyadari bahwa sektor peternakan sapi memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat pedalaman Sintang. Meski demikian, potensi tersebut belum tergarap optimal karena berbagai kendala yang masih membayangi peternak kecil.
“Selain meningkatkan kualitas pemeliharaan sapi, kita juga akan membentuk jaringan pemasaran agar produk yang dihasilkan bisa lebih mudah dijual dan dihargai dengan harga yang layak. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan pendapatan para peternak dan menciptakan lapangan kerja baru di daerah Kayan,” ujar Santosa menegaskan.
Kecamatan Kayan merupakan salah satu wilayah dengan populasi ternak sapi yang cukup menjanjikan. Lahan yang luas, pakan hijauan yang melimpah, serta kultur masyarakat yang terbiasa beternak membuat wilayah ini memiliki peluang besar untuk menjadi sentra sapi potong. Namun bagi sebagian besar kelompok peternak, usaha ini masih dijalankan secara tradisional dan skala kecil.
Kondisi ini juga terlihat dari data beberapa tahun terakhir. Berdasarkan publikasi resmi, populasi sapi di Kabupaten Sintang sempat mencapai 6.756 ekor pada tahun 2020. Namun angka tersebut mengalami penurunan beberapa tahun berikutnya. Dalam laporan tahun 2025, populasi sapi potong tercatat hanya sekitar 5.056 ekor, sedangkan dalam dokumen Sintang Dalam Angka 2023, populasinya berada di angka 5.512 ekor.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa secara kuantitas, sapi masih menjadi sektor penting bagi masyarakat pedesaan, termasuk di Kayan. Namun penurunannya mencerminkan adanya masalah struktural yang belum terselesaikan, mulai dari manajemen pemeliharaan, akses modal, produktivitas ternak, hingga pemasaran hasil.
Di banyak kampung di Kayan, sebagian peternak hanya mampu memelihara dua hingga lima ekor sapi. Jumlah tersebut masih jauh dari ideal untuk membangun usaha peternakan yang berkelanjutan. “Banyak peternak hanya menjalankan ini sebagai usaha sampingan. Kita ingin ke depan usaha ini menjadi sumber ekonomi utama,” ujar Santosa.
Kendala terbesar peternak kecil di Kayan terletak pada akses permodalan. Tanpa modal yang cukup, peternak kesulitan membeli pakan tambahan, memperbaiki kandang, atau meningkatkan kualitas bibit sapi. Beberapa peternak bahkan terpaksa menjual sapi sebelum waktunya karena membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, teknik budidaya modern masih jarang diterapkan di lapangan. Banyak peternak belum familiar dengan manajemen pakan yang tepat, standar kesehatan hewan, maupun cara pemeliharaan intensif yang dapat meningkatkan bobot dan kesehatan sapi. Akibatnya, produktivitas ternak stagnan, bahkan mengalami kerugian ketika wabah penyakit menyerang.
Melihat kondisi tersebut, Santosa merencanakan program pelatihan komprehensif bagi peternak. Pelatihan ini akan mencakup manajemen pemeliharaan modern, pengolahan pakan berbasis teknologi sederhana, hingga pemanfaatan limbah ternak menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik.
“Kalau peternak dibimbing dan diberi pengetahuan, hasilnya akan terlihat jelas. Kita juga ingin mengajarkan mereka cara mengolah produk turunan seperti abon sapi, dendeng, atau pupuk dari kotoran sapi. Nilai ekonominya jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Selama ini, peternak sapi di Kayan menghadapi masalah pemasaran. Banyak dari mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar besar. Pedagang pengumpul menjadi satu-satunya jalur penjualan, sehingga harga sapi seringkali tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan.
Karena tidak memiliki informasi harga dan tidak terhubung ke pasar yang lebih luas, posisi tawar peternak sangat lemah. Santosa menilai hal ini harus segera diatasi melalui pembentukan jaringan pemasaran yang terstruktur, sehingga peternak bisa menjual sapi dengan harga layak.
“Kita akan bantu mereka terhubung dengan pasar yang lebih besar, termasuk rumah potong hewan dan pedagang daging di kota. Jika peternak bisa menjual dengan harga bagus, kesejahteraan mereka akan meningkat drastis,” kata Santosa.
Ia juga mendorong pembentukan koperasi peternak yang bisa mempermudah akses modal, memperkuat posisi tawar, dan menjadi pusat distribusi hasil peternakan sapi dari Kayan.
Untuk memastikan program ini berjalan, Santosa menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor. Ia menyebut bahwa pihaknya akan menggandeng Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, serta lembaga keuangan mikro agar peternak mudah mendapatkan modal usaha.
Melalui skema kredit lunak khusus peternak, diharapkan para anggota kelompok tani sapi bisa meningkatkan kapasitas usaha tanpa terbebani bunga tinggi. Pemerintah daerah juga didorong untuk menyediakan pendampingan berkelanjutan agar program tidak berhenti di tengah jalan.
“Inisiatif ini tidak hanya akan memperkuat sektor peternakan di Dapil Kayan, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Sintang ini luas, dan peluang peternakan sapi masih sangat terbuka,” ujar Santosa.
Jika program ini berjalan dengan baik, dampaknya akan sangat signifikan. Pengembangan peternakan sapi tidak hanya akan meningkatkan pendapatan para peternak, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru untuk pemuda desa yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan tetap.
Selain itu, sektor peternakan yang kuat dapat mendorong tumbuhnya industri turunan—pengolahan daging, pupuk organik, hingga pengembangan wisata edukasi peternakan di masa depan. Semua ini akan memperkuat struktur ekonomi masyarakat pedalaman Sintang.
Santosa menegaskan bahwa harapan utamanya adalah menciptakan ekosistem peternakan yang profesional, terstruktur, dan mampu bersaing. “Dengan sinergi antara pemerintah, peternak, dan instansi terkait, kita bisa membangun sektor peternakan yang lebih kuat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kayan,” ujarnya.
Di tengah dinamika pembangunan dan perubahan ekonomi, peternakan sapi di Kayan dapat menjadi fondasi ekonomi baru yang berkelanjutan. Dengan populasi sapi yang masih berada di kisaran 5.000–6.000 ekor, potensi pengembangan komoditas ini sangat besar, terutama jika didukung kebijakan yang tepat dan pendampingan lapangan.
Bagi masyarakat di Kayan, kehadiran dukungan dari DPRD memberi mereka harapan baru. Bahwa usaha yang selama ini mereka jalani secara turun-temurun dapat berkembang lebih besar, lebih terarah, dan lebih menguntungkan.
