Sintang, Kalbar — Pada 2026 mendatang, Kabupaten Sintang akan menyaksikan langkah besar yang sangat berarti bagi masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di sebuah hamparan lahan seluas 8 hektar di Sungai Ringin, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial RI akan membangun Sekolah Rakyat, sebuah lembaga pendidikan berasrama yang dirancang khusus untuk menjawab kesenjangan pendidikan yang selama ini membelit wilayah pedalaman Kalimantan Barat.
Bagi masyarakat di kampung-kampung yang tersebar di antara sungai, bukit, dan hutan, pembangunan ini bukan sekadar proyek. Ia adalah harapan. Harapan bahwa anak-anak mereka, yang selama ini terkadang harus mengalah pada keadaan, bisa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan menata masa depan.
Kesunyian pagi di banyak kampung pedalaman Sintang kerap diiringi langkah kecil anak-anak yang berjalan jauh menuju sekolah. Ada yang menyeberangi sungai, menempuh jalan setapak berlumpur, bahkan harus tinggal terpisah dari orang tua demi bisa bersekolah. Tidak sedikit pula yang terpaksa berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena biaya dan jauhnya akses.
Sekolah ini dirancang menjadi tempat yang tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga tempat tinggal yang aman, nyaman, dan sepenuhnya ditanggung oleh negara. Mulai dari makan tiga kali sehari, pakaian, buku, perlengkapan mandi, hingga seluruh kebutuhan belajar akan diberikan gratis.
Bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan ekonomi, sistem ini adalah jawaban dari kegelisahan panjang.
Pemerintah Kabupaten Sintang telah bergerak cepat. Lahan seluas kurang lebih 8 hektar disiapkan di kawasan Sungai Ringin. Lokasi ini dipilih karena aksesibilitasnya yang baik sekaligus memungkinkan pengembangan fasilitas dalam jangka panjang.
Penetapan lahan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemkab Sintang untuk berkolaborasi dengan pemerintah pusat dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.
Sementara itu, di tingkat pusat, Kementerian Sosial telah menyiapkan program Sekolah Rakyat dalam skala besar. Pada tahun ajaran 2025/2026, pemerintah menargetkan 159 titik Sekolah Rakyat beroperasi dengan kapasitas mencapai lebih dari 15 ribu siswa.
Sintang menjadi salah satu titik penting yang turut masuk dalam program nasional tersebut.
Dukungan Penuh dari DPRD Sintang
Di balik proses yang sedang berjalan ini, dukungan politik tidak kalah pentingnya. Ketua Komisi C DPRD Sintang, Anastasia, menjadi salah satu pihak yang tidak hanya mendukung di atas kertas, tetapi juga aktif mengawal setiap tahapannya.
“Kami di Komisi C tentu sangat mendukung program ini. Sekolah Rakyat ini memang untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ini langkah yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sintang,” ujarnya.
Anastasia mengetahui betul kondisi pendidikan di pedalaman. Selama dua periode duduk di legislatif, ia kerap turun langsung ke desa-desa jauh, melihat sendiri bagaimana banyak anak terpaksa berhenti sekolah karena faktor jarak dan biaya hidup.
“Ada orang tua yang ingin sekali anaknya sekolah, tetapi mereka tidak mampu menyediakan biaya transportasi atau tempat tinggal. Dengan adanya Sekolah Rakyat yang gratis dan berasrama, anak-anak kita tidak perlu lagi putus sekolah,” tegasnya.
Selama ini jurang pendidikan antara desa dan kota terasa nyata. Di pusat kecamatan atau kota, fasilitas sekolah lengkap, tenaga pendidik tersedia, dan akses transportasi lebih mudah. Namun di desa-desa terpencil, ruang kelas terbatas, jarak jauh, dan biaya tinggi menjadi hambatan.
Inilah alasan mengapa Anastasia melihat Sekolah Rakyat sebagai jembatan yang dapat menyatukan jurang itu.
“Kami ingin anak-anak di kampung juga punya peluang yang sama untuk sekolah dengan baik. Jangan sampai pendidikan hanya dinikmati masyarakat yang mampu,” ujarnya.
Asrama yang Tidak Sekadar Tempat Tinggal
Konsep Sekolah Rakyat bukan hanya tentang bangunan ruang kelas. Ia menyatukan pendidikan, pembinaan karakter, dan kehidupan sosial dalam satu lingkungan. Kehidupan berasrama memungkinkan siswa mengembangkan kemandirian, empati, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama.
Selain pendidikan akademik, kurikulum Sekolah Rakyat juga mencakup pembinaan karakter, penguatan kesehatan dan kebersihan diri, pengembangan keterampilan hidup, bimbingan konseling dan penguatan mental, kegiatan seni, budaya, serta olahraga. Lingkungan asrama yang aman dan terpantau juga memberi ketenangan bagi orang tua yang selama ini khawatir melepas anak mereka jauh dari rumah.
Hingga saat ini, Pemkab Sintang bersama Kementerian Sosial masih melakukan proses administrasi, termasuk penyelesaian sertifikat hak pakai lahan. Komisi C DPRD menegaskan siap mengawal semua proses ini agar tidak ada hambatan di lapangan.
“Lahannya sudah disiapkan pemerintah daerah. Tinggal proses lanjutan saja. Kami akan kawal supaya tidak ada kendala,” kata Anastasia.
Baginya, pembangunan Sekolah Rakyat bukan hanya proyek fisik, tetapi sebuah tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak di Sintang memiliki masa depan yang lebih cerah.
Tahun 2026 bukan hanya penanda pembangunan fisik sebuah sekolah baru, tetapi juga titik awal perubahan bagi ratusan, bahkan ribuan anak dari keluarga kurang mampu di Sintang dan Kalimantan Barat.
Sekolah Rakyat akan menjadi jembatan masa depan, bukan hanya bagi mereka yang akan bersekolah di sana, tetapi juga bagi keluarga mereka, masyarakat sekitar, dan bagi Kabupaten Sintang yang sedang bergerak menuju arah pembangunan yang lebih inklusif.
Di tengah heningnya hamparan Sungai Ringin, masa depan itu sedang disiapkan. Bata demi bata, kebijakan demi kebijakan, harapan demi harapan.
Sekolah Rakyat di Sintang bukan sekadar bangunan baru. Ia adalah pintu masa depan yang kini mulai terbuka.
