Baku Hantam Nyaris Terjadi di Stadion Baning Sintang, Santosa Akui Lempar Kursi: “Sudah Saling Memaafkan”

Sintang, Kalbar – Sebuah video keributan di tribun Stadion Baning Sintang beredar luas di media sosial pada Rabu (3/12). Video tersebut diunggah oleh akun Instagram owner_kopijoni86. Dalam video tersebut, terlihat situasi memanas antara anggota DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, dengan sekelompok penonton. Dalam video itu, tampak Santosa terlibat adu mulut hingga melempar sebuah kursi ke arah kerumunan.

Peristiwa ini terjadi saat pertandingan turnamen sepak bola laga ke-2 di Stadion Baning Sintang akan berlangsung. Pertandingan antara Polma dan PKFC berakhir dengan skor 3–0 untuk kemenangan Polma Mengkurai. Namun, hujan deras mengguyur stadion sehingga laga berikutnya terpaksa ditunda.

Dihubungi media, Santosa membeberkan kronologi kejadian yang memicu insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa suasana awalnya masih kondusif, dan dirinya berada di lokasi sebagai manajer tim JSFC yang dijadwalkan bertanding melawan Amuba FC.

Menurut Santosa, setelah pertandingan pertama usai, kondisi lapangan tergenang air akibat hujan deras yang mengguyur Kota Sintang. Panitia kemudian memanggil para manajer tim untuk melakukan pertemuan singkat terkait penundaan laga dan kemungkinan pemeriksaan lapangan oleh wasit. “Kami disuruh menunggu keputusan wasit, apakah pertandingan bisa dimulai atau tidak. Kami serahkan sepenuhnya kepada panitia,” ujar Santosa.

Saat kembali ke tribun untuk menunggu pemeriksaan lapangan, panitia meminta dirinya menghubungi pihak pemadam kebakaran (damkar), agar membantu menyedot air yang menggenangi lapangan karena parit tersumbat. Santosa segera menghubungi Damkar dan mengonfirmasi bahwa armada damkar sudah meluncur. Ia pun kembali turun dari tribun untuk menemui panitia.

Saat turun dari tribun, Santosa tiba-tiba terdengar teriakan dari arah tribun atas. Santosa mengaku mendengar ucapan bernada cacian yang diduga ditujukan padanya. “Ada kata-kata tidak pantas, menyebut nama binatang. Itu tidak elok. Saya mencoba mencari siapa yang melontarkan kata-kata tersebut,” jelasnya.

Saat berusaha mendatangi sumber suara, ia justru mendapat reaksi keras dari sekelompok orang. Menurutnya, sekelompok penonton itu menyerangnya secara bersama-sama. Mereka tidak mau mengakui siapa yang pertama melontarkan ujaran kasar. “Saya tanya baik-baik siapa yang bicara seperti itu. Tapi tidak ada yang mengaku,” katanya.

Situasi semakin memanas ketika sebuah botol dilempar terlebih dahulu ke arahnya. Secara spontan, Santosa membalas dengan melempar kursi. “Saya akui saya lempar kursi karena melihat ada botol lebih dulu dilempar. Reaksi spontan lah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, setelah kejadian berlangsung, dirinya langsung berkoordinasi dengan para pengurus PKFC. Santosa menegaskan bahwa pengurus klub tidak terlibat dalam keributan tersebut, lantaran seluruh pengurus berada di bawah tribun saat insiden terjadi. Keributan diduga murni melibatkan penonton yang dipicu emosi karena timnya kalah, serta aroma minuman keras.

Menurut Santosa, penyebab keributan kemungkinan karena adanya provokator dalam kondisi mabuk. Setelah peristiwa mereda, pihak yang terlibat diduga telah menyampaikan permintaan maaf kepadanya. “Sudah selesai, mereka sudah minta maaf. Saya juga memaafkan, namanya manusia pasti khilaf,” ujarnya.

Meski begitu, Santosa menilai kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi panitia dan semua pihak. Ia meminta agar setiap penonton yang menunjukkan tanda-tanda mengonsumsi minuman keras, atau kedapatan membawanya, sebaiknya tidak diperbolehkan masuk ke dalam stadion. “Untuk panitia, harap selektif. Kalau ada penonton bau miras atau bawa miras, sebaiknya jangan diperbolehkan masuk,” tegasnya.

Ia berharap kejadian ini dapat menjadi pengalaman untuk meningkatkan keamanan pertandingan dan menumbuhkan sikap sportif. Santosa menambahkan, dunia olahraga seharusnya menjadi ruang pemersatu, bukan arena melampiaskan emosi dalam bentuk kekerasan.

Keributan di Stadion Baning Sintang itu kini dianggap selesai setelah proses saling memaafkan dilakukan. Namun, momentumnya menjadi pengingat bahwa atmosfer olahraga yang sehat mensyaratkan etika, sportivitas, dan rasa saling menghargai antarpenonton maupun pemain.

SebelumnyaSantosa, Wakil Rakyat yang Nyaris Setiap Hari ke Rumah Sakit
SelanjutnyaPT Buana Hijau Abadi Raih Penghargaan CSR Terbesar di Sintang, Bukti Kolaborasi Nyata untuk Pembangunan Daerah