Sintang, Kalbar – Sejak beberapa tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Sintang sudah lama merencanakan kawasan Sungai Ringin sebagai pusat industri baru. Namun, rencana tersebut sampai saat ini masih belum terealisasi. Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Nikodemus, kembali menyuarakan satu hal yang menurutnya mendasar, perlunya investasi masuk secara lebih agresif dan terencana untuk membangun kawasan industri di Kabupaten Sintang.
“Pemkab Sintang harus mengundang investor untuk mengembangkan industri hilir,” tegasnya. “Undang mereka datang, tanamkan modal di sini. Itu satu-satunya cara untuk menggerakkan pembangunan dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat.”
Kabupaten Sintang bukan daerah kosong yang menunggu diolah; justru sebaliknya. Data Dinas Perkebunan Kalimantan Barat menunjukkan bahwa Sintang merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit dan karet di wilayah timur Kalimantan Barat. Secara provinsi, Kalbar memiliki lebih dari 1,8 juta hektare kebun sawit (data 2023), sementara Sintang menyumbang sekitar 10–12 persen dari total luasan tersebut. Itu berarti ada ratusan ribu hektare kebun yang menghasilkan CPO dan tandan buah segar setiap tahun.
Komoditas karet juga tumbuh dengan stabil. Berdasarkan tren lima tahun terakhir, Sintang rata-rata menghasilkan puluhan ribu ton karet setiap tahun, sebagian besar berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar di kecamatan-kecamatan sentra seperti Dedai, Binjai Hulu, dan Sepauk.
Namun, potensi itu belum diolah maksimal. Data menunjukkan bahwa sebagian besar CPO dan karet sintang masih dijual sebagai bahan mentah. Nilai tambahnya dinikmati oleh daerah lain yang punya pabrik hilir lebih besar.
Bagi Nikodemus, kondisi tersebut merupakan missed opportunity yang harus segera diperbaiki.
“Kita ini penghasil bahan baku. Tapi selama tidak diolah di sini, harga karet dan TBS tidak akan stabil. Industri hilir harus dibangun,” tegasnya.
Mengapa Industri Hilir Penting?
Dalam kajian ekonomi daerah, industri hilir memiliki efek menggandakan (multiplier effect) yang signifikan. Ketika CPO tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi minyak goreng, sabun, kosmetik, hingga biodiesel, nilai jualnya bisa meningkat 20—300 persen tergantung jenis produk.
Begitu pula dengan karet. Ketika bahan baku lateks diolah menjadi barang jadi seperti ban motor, sandal, sepatu, hingga selang industrial, nilainya dapat melompat hingga empat kali lipat.
Dari sisi tenaga kerja, industri hilir dapat menciptakan lapangan kerja hingga 4–7 kali lebih besar dibanding industri hulu. Sintang, yang jumlah angkatan kerjanya terus bertambah setiap tahun, membutuhkan sektor padat karya semacam ini.
“Inilah kenapa kita mendorong pabrik sepatu, sandal, ban, pabrik sabun, biodiesel, kosmetik. Bahan baku kita punya. Tinggal investor masuk,” kata Nikodemus.
Pemerintah Kabupaten Sintang sejak beberapa tahun lalu menjadikan Sungai Ringin sebagai kawasan industri strategis. Lokasinya dekat dengan Sungai Kapuas sebagai jalur logistik, dekat dengan jalan utama nasional, bersebelahan dengan PLTU sebagai penyedia energi, dan dekat dengan infrastruktur dasar seperti PDAM dan jaringan telekomunikasi. Dengan kombinasi modal dasar itu, kawasan ini disebut-sebut sebagai lokasi paling potensial untuk landing spot investor yang ingin membangun pabrik berorientasi hilirisasi.
Data Bappeda menunjukkan bahwa dalam rencana jangka panjang, kawasan Sungai Ringin diarahkan untuk menampung sektor industri pengolahan CPO, industri karet olahan, pabrik makanan-olahan, gudang pendingin, hingga pusat distribusi barang kebutuhan pokok.
Namun hingga kini, aktivitas industri di kawasan tersebut belum sepenuhnya bergerak.
“Kita perlu mendorong investor untuk masuk. Fasilitasi kemudahan, tapi tetap ada kajian kelayakan,” ujar Nikodemus, menekankan bahwa kemudahan bukan berarti mengabaikan kontrol.
Selain industri hilir, Nikodemus menyoroti sektor perhotelan dan pusat perbelanjaan. Sintang yang menjadi titik pertemuan berbagai kabupaten di timur Kalimantan Barat sebenarnya memiliki permintaan pasar yang cukup besar terhadap layanan perhotelan, ruang pertemuan, serta pusat perbelanjaan modern.
Data Dinas Pariwisata menunjukkan bahwa tingkat kunjungan hotel di Sintang beberapa tahun terakhir berada pada kisaran 55–70 persen, dengan tren peningkatan selama agenda-agenda pemerintahan dan kunjungan bisnis.
Kehadiran hotel-hotel besar dan pusat perbelanjaan modern diyakini dapat mendorong ekonomi jasa, sekaligus menciptakan efek lanjutan seperti peningkatan pendapatan UMKM, perputaran ekonomi lokal, dan pelayanan domestik yang lebih kompetitif. “Investor yang mau bangun hotel besar, mall, atau pusat perdagangan harus diberi ruang. Sintang ini butuh layanan modern,” kata dia.
Di tingkat paling bawah, bila industri hilir hadir, maka harga getah karet, lateks, tandan buah segar (TBS), CPO, bisa lebih stabil karena penjualan tidak lagi bergantung pada tengkulak atau pabrik luar daerah.
Saat ini, harga karet Sintang masih kerap naik-turun dan sangat dipengaruhi permintaan luar daerah. Begitu pula harga TBS yang sensitif pada kapasitas pabrik sawit dan kebijakan ekspor.
“Maka kami juga mendorong perusahaan sawit untuk membangun pabrik. Kami terus bagikan bibit karet kepada masyarakat agar produksi meningkat,” ujar Nikodemus.
Pernyataan Nikodemus sejalan dengan visi pembangunan daerah yang ingin menempatkan Sintang sebagai wilayah dengan ekonomi berbasis sumber daya lokal namun berorientasi modern.
Namun ia juga memberi catatan: kemudahan investasi harus tetap disertai kajian yang matang. Tidak semua investasi cocok, tidak semua industri tepat dibangun di lokasi tertentu. Pemerintah wajib memastikan dampak lingkungan aman, tenaga kerja lokal terserap, penggunaan bahan baku berkelanjutan, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi langsung. “Investasi adalah jalan, tapi tata kelola adalah kunci,” katanya.
Sintang sedang menunggu apa yang disebut banyak orang sebagai gelombang kedua ekonomi, perpindahan dari penjualan bahan mentah menuju pengolahan bernilai tambah.
Dengan ketersediaan bahan baku melimpah, infrastruktur dasar yang semakin lengkap, dan dorongan politik dari DPRD, ruang untuk berkembang terbuka sangat lebar.
Tinggal satu yang dinantikan: kehadiran investor yang berani mengubah potensi menjadi kenyataan.
