Sintang, Kalbar – Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny menegaskan bahwa keberadaan Koperasi Merah Putih (KMP) di desa-desa harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Ia mengingatkan agar KMP hadir dengan usaha-usaha yang belum dilakukan masyarakat setempat, bukan justru menjadi pesaing bisnis yang sudah lebih dulu bertahan. Pesan tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Sumber Daya Manusia Pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Kabupaten Sintang.
Pelatihan yang digagas Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sintang ini merupakan angkatan terakhir dari rangkaian pelatihan yang telah berjalan sejak beberapa bulan terakhir. Sebanyak 112 pengurus Koperasi Merah Putih dari 56 desa di Kecamatan Dedai dan Ketungau Hilir mengikuti kegiatan tersebut. Pelatihan ini menjadi ruang pembekalan bagi para pengurus KMP untuk memperkuat visi serta tata kelola koperasi agar benar-benar menjadi lembaga ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat desa.
Sejalan dengan arahan Wabup, anggota DPRD Kabupaten Sintang Juni menegaskan hal serupa. Ia mengingatkan KMP agar tidak melahirkan konflik ekonomi baru di desa akibat usaha yang berbenturan dengan pelaku usaha kecil yang sudah ada. Menurutnya, KMP justru harus lahir sebagai pelengkap, penyokong, sekaligus penguat struktur ekonomi desa yang selama ini bertumpu pada toko, warung, atau usaha mandiri warga.
“KMP jangan menjadi pesaing, tapi harus menjadi penyokong usaha masyarakat yang sudah ada. Buka usaha yang belum dijalankan masyarakat, tapi menjadi kebutuhan pokok warga,” ujar Juni. Ia bahkan mendorong agar KMP bisa menjadi penyalur kebutuhan Dapur MBG atau kebutuhan dasar rumah tangga yang selama ini harus didatangkan dari luar desa.
Senada dengan itu, Wabup Ronny meminta para pengurus KMP mengasah intuisi dan insting bisnis dalam melihat peluang usaha yang benar-benar dibutuhkan masyarakat desa serta memiliki ruang berkembang. Ia menegaskan, setiap desa mempunyai karakter ekonomi berbeda, sehingga model usaha KMP tidak boleh disamaratakan.
“KMP hadir untuk mensejahterakan masyarakat. Maka pengurus harus jeli melihat peluang, apa yang belum ada di desa tetapi dibutuhkan anggota koperasi serta punya prospek. Itu yang harus dibangun,” tegasnya.
Namun demikian, Ronny juga mencontohkan bahwa KMP dapat mengambil peran sebagai distributor gas LPG 3 kilo gram atau pupuk bersubsidi. Langkah ini dinilai strategis karena dua komoditas tersebut masuk dalam kategori subsidi pemerintah sehingga distribusinya wajib menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Selain menyediakan barang kebutuhan harian, sektor pertanian dan perkebunan disebut Ronny sebagai peluang usaha terbesar yang bisa digarap oleh KMP. Ia mendorong agar koperasi desa membangun sinergi dengan petani, khususnya dalam tata kelola hasil pertanian. Bentuknya bisa berupa pembinaan petani padi, pembelian gabah, hingga penyediaan mesin penggilingan beras. Jika ini diwujudkan, ia optimistis desa-desa di Sintang mampu mencapai swasembada beras.
Ronny juga menekankan pentingnya pengembangan produk unggulan desa, terutama dari hasil pertanian. Menurutnya, koperasi harus mampu meningkatkan nilai jual bahan mentah agar menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi. Ia mencontohkan komoditas cabe yang dapat diolah menjadi sambal kemasan dan dijual kembali ke masyarakat, sehingga hasilnya memberi keuntungan berlapis: petani untung, koperasi tumbuh, dan desa memiliki produk khas.
Tidak hanya itu, pemerintah juga meminta setiap KMP menyiapkan lahan minimal 1.000 meterpersegi sebagai lokasi usaha. Nantinya, pemerintah akan membantu pembangunan fasilitas usaha tersebut. Langkah ini merupakan bentuk dukungan konkret agar koperasi desa memiliki ruang operasional memadai serta mampu tumbuh menjadi lembaga ekonomi mandiri.
Namun, Ronny mengakui bahwa pengelolaan koperasi bukan tanpa risiko. Salah satunya menyangkut beban alokasi dana desa (ADD) yang terserap untuk kebutuhan koperasi. Karena itu, ia meminta agar pengurus mengelola KMP secara profesional dan serius. Harapan pemerintah dan masyarakat atas keberhasilan koperasi, menurutnya, berada di pundak para pengurus.
“Urus koperasi ini dengan benar dan penuh tanggung jawab. Tolong perhatikan kesejahteraan masyarakat di desa masing-masing,” katanya.
Pelatihan tersebut menjadi penutup dari rangkaian pembinaan KMP di seluruh kecamatan di Kabupaten Sintang. Pemerintah berharap lahirnya pengurus-pengurus koperasi yang andal, visioner, dan mampu menciptakan peluang ekonomi desa, bukan sekadar mengulang pola usaha yang sudah ada. Dengan demikian, Koperasi Merah Putih benar-benar menjadi lokomotif pembangunan ekonomi dari desa.
