Sintang, Kalbar — Tidak semua keindahan harus mencari panggung. Ada banyak pesona yang diam-diam hidup di tengah hening perbukitan, aliran sungai yang jernih, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di Kabupaten Sintang, keindahan itu tersebar dari satu desa ke desa lainnya, menunggu disentuh, dirawat, dan dikenalkan pada dunia luar. Deretan perbukitan hijau dan aliran sungai yang membelah desa-desa di Kabupaten Sintang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Kabupaten Sintang, dengan wilayahnya yang luas, bagai mozaik alam yang lengkap: air terjun yang tersembunyi di balik rimbun hutan, hamparan sawah yang memantulkan cahaya pagi, sungai yang setia menjadi denyut kehidupan, hingga budaya dan kerajinan yang bercerita tentang jati diri masyarakatnya. Namun, kekayaan alam dan budaya itu tidak akan berarti tanpa pengelolaan yang tepat, terutama di tingkat desa sebagai garda terdepan pengembangan pariwisata.
Di berbagai wilayah Sintang, potensi wisata sebenarnya sudah tampak. Meski begitu, berbagai potensi ini sebagian besar belum terkelola optimal. Hal ini menjadi perhatian Anggota DPRD Sintang, Mardiansyah, yang mendorong pemerintah desa dan para pelaku wisata untuk memahami karakter dan keunggulan masing-masing desa sebelum mengembangkan destinasi wisata.
“Setiap desa punya potensi dan keunikan. Itu yang harus diperkuat, bukan sekadar mengikuti tren dari daerah lain,” tegas Mardiansyah.
Menurutnya, banyak desa tergoda meniru konsep wisata yang sedang populer, meski belum tentu cocok dengan kondisi atau keunggulan lokal. Padahal, kearifan lokal merupakan diferensiasi paling kuat dalam menarik minat wisatawan, terutama di era ketika wisata berbasis pengalaman autentik semakin diminati.
Mardiansyah juga menyoroti pentingnya pengelolaan desa wisata secara profesional. Tanpa kemampuan pengelolaan yang baik, potensi apa pun bisa tidak berdampak bagi masyarakat. Ia mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk terlibat dalam sektor ini, karena lembaga desa tersebut memiliki fleksibilitas untuk mengelola berbagai bentuk usaha, termasuk jasa wisata.
“BUMDes jangan hanya bergerak di sektor perdagangan. Wisata air terjun, wisata sungai, atau jasa pendukung lainnya bisa dikelola melalui BUMDes,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan desa wisata bukan hanya soal menarik wisatawan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Jika digarap serius, desa wisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di tingkat desa, sekaligus memperkuat pendapatan daerah.
Namun, ia menegaskan bahwa sinergi antarpihak menjadi syarat penting. Pemerintah daerah, pengelola wisata, komunitas lokal, dan sektor swasta harus bekerja sama untuk menyiapkan infrastruktur, promosi, hingga pelatihan sumber daya manusia.
“Potensinya besar, tetapi tanpa pengelolaan yang baik dan kolaborasi, hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya.
Di tengah upaya pengembangan ini, satu pesan Mardiansyah tetap mengemuka: desa harus tetap berpegang pada identitasnya. Sebab, daya tarik utama Sintang bukan hanya panorama alamnya, tetapi karakter budaya yang melekat pada setiap desa.
