Dewan Sintang Minta Sekolah Rutin Sosialisasikan Bahaya Narkoba

Sintang, Kalbar — Deru sepeda motor para pelajar SMP dan SMA di Kota Sintang selalu memenuhi halaman sekolah setiap pagi. Di balik semangat mereka menuntut ilmu, tersimpan ancaman yang semakin meresahkan, narkoba, pergaulan bebas, dan judi online (Judol) yang kian merambah generasi muda. Fenomena ini menjadi perhatian serius Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola.

Sebagai seorang legislator yang kerap turun ke sekolah-sekolah untuk berdialog dengan guru dan pelajar, Erika menyaksikan langsung perubahan perilaku anak-anak muda di era gawai dan kemajuan teknologi. Ia menilai sekolah tidak lagi cukup hanya memberikan pendidikan akademik. “Sekarang, pendidikan karakter dan moral harus digalakkan setiap hari. Bukan hanya saat ada kegiatan tertentu atau ketika ada kasus terjadi,” ujar Erika saat ditemui di ruang kerjanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, aparat penegak hukum dan pemerintah daerah sering mengungkap kasus pelajar terlibat penyalahgunaan narkoba maupun kecanduan judi online. Ada yang rela mencuri uang orang tua untuk top up game atau Judol, ada pula yang terjerumus dalam pergaulan bebas karena kurangnya pengawasan.

Erika menyebutkan bahwa lingkungan digital turut memperparah kondisi. “Mereka memegang HP lebih lama dari waktu sekolah. Sementara di internet, semua akses terbuka. Tanpa pembinaan moral dan pengawasan, anak-anak bisa terjerumus tanpa disadari,” katanya.

Untuk itu, ia mendesak agar sekolah memperkuat perannya sebagai benteng utama pembentukan karakter. Ia meminta sekolah-sekolah di seluruh Kecamatan Sintang hingga pedalaman agar rutin menggelar penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya narkoba, pergaulan bebas, dan Judol. Tidak hanya sebulan sekali, tetapi terjadwal dan menjadi agenda wajib.

Salah satu gagasan Erika yang menuai perhatian adalah imbauan kepada guru agar memeriksa handphone siswa secara berkala. Menurutnya, langkah ini bukan pelanggaran privasi, justru sebagai upaya penyelamatan generasi muda dari ancaman digital.

“Saya bukan menyuruh untuk mengintip hal pribadi mereka. Tapi sekadar pemeriksaan apakah ada aplikasi yang mencurigakan, akses ke situs Judol, atau konten-konten negatif,” ujar Erika.

Ia menilai, banyak pelajar yang tidak menyadari bahwa beberapa aplikasi yang terlihat seperti game biasa ternyata tersambung ke platform judi online. Ada pula grup percakapan yang berpotensi mengajak anak-anak ke pergaulan bebas.

Erika menegaskan, pemeriksaan HP tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang mendidik, bukan menghukum. “Jangan dimarahi, jangan dipermalukan. Jelaskan dengan baik bahwa ini demi kebaikan mereka. Yang penting adalah pendekatannya hikmah, penuh kasih, dan tidak menyinggung psikologis siswa,” katanya.

Meskipun sekolah memegang peran besar, Erika menilai bahwa pendidikan moral tidak bisa hanya dibebankan kepada para guru. Orang tua dan masyarakat sekitar juga harus ikut mengawasi dan menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja.

Ia mendorong agar komite sekolah aktif berkomunikasi dengan guru dan orang tua siswa. “Orang tua jangan hanya datang ke sekolah saat membayar SPP atau mengambil rapor. Mereka harus terlibat dalam proses pembentukan karakter anak-anak,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa tidak semua pelajar yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba atau Judol adalah karena niat pribadi. Banyak yang hanya ikut-ikutan karena kurangnya pemahaman dan kuatnya pengaruh teman sebaya.

“Kalau sekolah rutin mengadakan penyuluhan, pelajar akan punya benteng pengetahuan. Mereka bisa bilang ‘tidak’ ketika diajak teman. Mereka akan sadar akibatnya,” tegasnya.

Menurut Erika, memberikan penyuluhan bukan hanya soal menyampaikan teori. Lebih efektif jika menghadirkan narasumber seperti polisi, BNN, psikolog, aktivis anak, hingga tokoh agama. Tujuannya, agar pelajar mendapatkan berbagai perspektif tentang bahaya narkoba dan risiko pergaulan bebas.

Ia menambahkan bahwa pendekatan edukasi preventif jauh lebih murah dan lebih mudah ketimbang menangani kasus setelah terjadi. “Jika seorang pelajar sudah kecanduan Judol atau narkoba, yang rusak bukan hanya masa depannya, tetapi juga kehidupan keluarga. Pemerintah pun harus mengeluarkan anggaran besar untuk rehabilitasi,” tuturnya.

Erika pun mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang menyusun program pembinaan moral yang terstruktur dan bisa dilaksanakan hingga pelosok kecamatan.

Bagi Erika, menjaga generasi muda berarti menjaga masa depan Kabupaten Sintang. Ia berharap sekolah-sekolah menjadikan penyuluhan bahaya narkoba, pergaulan bebas, dan Judol sebagai budaya baru di lingkungan pendidikan, bukan kegiatan sporadis.

Ia juga mengimbau guru untuk lebih dekat dengan siswa sebagai tempat bercerita dan meminta pertolongan. “Banyak anak malu curhat kepada orang tua, tetapi mereka dekat dengan guru. Ini kesempatan emas bagi sekolah untuk memberikan perlindungan,” katanya.

Erika menegaskan bahwa membangun karakter pelajar adalah tanggung jawab bersama. “Anak-anak kita adalah aset bangsa. Mari kita jaga mereka sebelum mereka hilang arah. Sosialisasi rutin, pendidikan moral setiap hari, dan pengawasan yang bijak adalah kunci,” tegasnya.

Di tengah tantangan dunia digital yang semakin kompleks, suara Erika menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi bagaimana sekolah dan masyarakat bersama-sama menjaga generasi muda dari ancaman yang mengintai di genggaman mereka sendiri.

SebelumnyaBanyak Lampu Jalan Sintang Tak Menyala
SelanjutnyaPengembangan UMKM di Sintang Harus Terarah