Sintang, Kalbar — Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini harus menjadi ajang refleksi panjang tentang perjalanan pendidikan di daerah ini. Hal itulah yang disampaikan anggota DPRD Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola, memberi pesan mendalam: guru jangan takut mendidik dengan tegas, bijaksana dan penuh kasih sayang.
Bagi Erika, guru bukan hanya penyampai pengetahuan. Lebih dari itu, mereka adalah penjaga moral, pengarah karakter, sekaligus tembok pertama yang berdiri ketika anak-anak mulai dihadapkan pada arus pergaulan yang semakin kompleks. “Guru jangan takut menegur atau memberikan sanksi ketika siswa melanggar aturan. Tidak ada yang salah dengan ketegasan jika dilakukan dengan hati yang tulus dan bertujuan mendidik,” ujarnya.
Pesan itu ia sampaikan bukan tanpa alasan. Di banyak sekolah, khususnya di wilayah pedalaman Sintang, tantangan moral remaja semakin terasa. Kasus merokok di lingkungan sekolah, bolos, perkelahian antarpelajar, hingga perilaku asusila mulai bermunculan dari waktu ke waktu. Semua itu, menurut Erika, bukan hanya kegagalan siswa mengendalikan diri, melainkan juga cerminan lemahnya pengawasan dari lingkungan terdekat, baik keluarga maupun sekolah.
Erika memahami adanya kekhawatiran sebagian guru untuk bersikap tegas karena khawatir berhadapan dengan orang tua, protes masyarakat, atau terjerat persoalan hukum. Ia menilai, kekhawatiran itu wajar, namun tidak boleh membuat guru kehilangan keberanian untuk mendidik.
“Ketegasan tidak selalu berarti kasar. Menegur siswa yang merokok, memberi peringatan keras kepada yang bolos, atau menjatuhkan sanksi edukatif bagi mereka yang berkelahi justru adalah bagian dari kasih sayang. Jika guru membiarkan, itu justru bukan bentuk kepedulian,” tegas Erika.
Ia mengingatkan bahwa sekolah memiliki aturan yang harus ditegakkan. Tanpa kedisiplinan, pendidikan moral tidak akan berjalan. Guru, lanjutnya, harus merasa didukung oleh pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat ketika bertindak sesuai prosedur untuk mendisiplinkan siswa.
Menurutnya, kejadian-kejadian pelanggaran di sekolah harus ditangani dengan pendekatan yang jelas, pertama, memberikan efek jera; kedua, memberi ruang bagi siswa untuk refleksi; dan ketiga, memulihkan perilaku melalui pendampingan. Bukan hanya hukuman, tetapi pembelajaran.
“Kalau siswa merokok, kenakan sanksi yang mendidik seperti membersihkan area sekolah atau mengikuti pembinaan. Kalau berkelahi, lakukan mediasi, ajak mereka memahami akibat tindakannya. Intinya, prosesnya harus membuat anak berpikir dan berubah,” jelas Erika.
Tantangan Moral di Era Digital
Erika menyoroti bahwa arus informasi yang tak terbendung menambah kompleksitas kehidupan para remaja. Telepon pintar, media sosial, game online, dan pergaulan dunia maya kerap menjadi pintu masuk perilaku negatif. Di beberapa kasus yang dilaporkan sekolah, tindakan asusila remaja justru muncul karena pengaruh konten digital yang tidak diawasi.
“Anak-anak sekarang menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding 10 atau 20 tahun lalu. Mereka mudah terpapar hal negatif. Guru dan orang tua harus hadir, membimbing, dan memberi batasan,” katanya.
Di sinilah peran guru kembali menonjol. Guru tidak hanya mengajarkan matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan umum. Mereka juga menjadi sosok yang harus memberi pemahaman tentang nilai hidup, moral dan etika.
Namun, Erika menegaskan bahwa tugas itu tidak boleh hanya dibebankan pada guru. Orang tua juga wajib terlibat. Ketika anak di rumah bebas tanpa pengawasan, sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi menjadi kunci.
Erika menyampaikan apresiasi besar kepada para pendidik di Sintang yang selama ini bekerja dengan segala keterbatasan. Banyak guru harus menempuh perjalanan jauh, mengajar di sekolah-sekolah terpencil, atau menangani siswa dengan berbagai persoalan sosial. Namun mereka tetap hadir, tetap mengajar, tetap menjadi cahaya bagi anak-anak.
“Hari Guru Nasional bukan hanya seremonial. Ini momen bagi kita untuk mengingat bahwa masa depan bangsa ada di tangan mereka. Jangan biarkan semangat guru padam karena rasa takut atau tekanan,” tutur Erika.
Menurutnya, pemerintah daerah dan DPRD memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa guru bekerja dengan tenang. Baik melalui dukungan regulasi, pendampingan, maupun perlindungan hukum ketika guru menjalankan tugasnya sesuai aturan.
Ia berharap ada ruang dialog yang lebih kuat antara guru, wali murid, dan pihak sekolah. Dengan komunikasi yang baik, banyak miskomunikasi dapat dicegah, dan guru tidak lagi merasa terancam ketika menindak siswa yang melanggar.
Membangun Generasi Sintang yang Bermoral
Pada akhirnya, pesan Erika sangat jelas: ketegasan guru bukan ancaman, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, pendidikan moral akan kosong. Anak-anak membutuhkan batasan, arah, dan pembiasaan disiplin. Dan semua itu hanya bisa berjalan jika guru diberikan ruang untuk mendidik dengan penuh tanggung jawab.
“Kita ingin generasi yang cerdas, tapi juga berkarakter. Pendidikan karakter tidak lahir dari pembiaran. Pendidikan karakter lahir dari keberanian guru menegakkan nilai dan aturan,” katanya.
Di momentum Hari Guru Nasional ini, Erika mengajak seluruh masyarakat orang tua, tokoh masyarakat, pemerintah, dan dunia pendidikan untuk berdiri bersama para guru. Memberikan dukungan, bukan kritik yang melemahkan. Memberi kepercayaan, bukan tekanan yang membatasi.
Karena pada akhirnya, setiap keberhasilan seorang anak ketika ia tumbuh menjadi pribadi yang jujur, disiplin, dan berakhlak baik adalah cermin dari kerja seorang guru yang mengabdikan hidupnya dengan penuh cinta.
Cinta itu, seperti pesan Erika, tak pernah lepas dari ketegasan, kebijaksanaan, dan keberanian menjaga masa depan generasi Sintang. (tantra)
