Senen: Hormati Gurumu, Sayangi Teman
Sintang – Di tengah momen peringatan Hari Guru Nasional 2025 sekaligus HUT PGRI ke-80, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Yustinus, hadir membawa pesan yang meneguhkan kembali peran guru di tengah tantangan zaman.
Upacara tahun ini bukan sekadar rangkaian seremoni tahunan. Bagi Yustinus, hari guru adalah hari kontemplasi, sebuah ruang untuk kembali memahami panggilan luhur seorang pendidik. “Guru adalah penentu masa depan, bukan hanya pembawa pelajaran,” ujarnya dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan dinamika sosial memang mengubah banyak hal, namun tidak menggoyahkan satu kenyataan: guru tetap tak tergantikan. “Tidak ada perangkat elektronik atau algoritma yang bisa menggantikan sentuhan hati seorang guru,” tegas Yustinus.
Menurutnya, hanya guru yang mampu menyalakan semangat, menumbuhkan empati, dan membimbing nilai-nilai kemanusiaan dalam diri peserta didik. Di balik papan tulis, file presentasi, maupun kelas digital, guru tetap menjadi lentera karakter bangsa.
Pendidikan Anak Diserahkan Sepenuhnya kepada Satuan Pendidikan
Salah satu poin penting yang disampaikan Yustinus adalah mengenai hubungan antara orang tua dan sekolah. Ia menegaskan bahwa setiap orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah secara sadar menandatangani komitmen bahwa pendidikan, pembinaan, hingga penegakan aturan diserahkan sepenuhnya kepada satuan pendidikan.
“Orang tua sudah membuat pernyataan mutlak untuk mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada guru,” jelasnya. Oleh karena itu, dukungan orang tua bukan hanya sebatas menitipkan anak, melainkan ikut membangun komunikasi yang baik dengan guru melalui komite sekolah.
Sinergi inilah, menurut Yustinus, yang menjadi fondasi untuk mengatasi persoalan-persoalan di sekolah, mulai dari kedisiplinan hingga kenakalan remaja. Dengan komunikasi efektif, masalah tidak akan membesar dan penyelesaian dapat dilakukan secara bijaksana.
Kunci Utama: Mendidik dengan Hati, Bukan Emosi
Dari sekian banyak pesan yang disampaikan, Yustinus menekankan satu prinsip sederhana namun mendalam: mendidiklah dengan hati.
“Guru jangan mengajar dengan emosi. Kalau kita mendidik dengan hati, maka problem kenakalan siswa bisa kita atasi dengan baik,” ujarnya.
Baginya, ketegasan tetap diperlukan dalam dunia pendidikan, tetapi ketegasan itu harus dibungkus dengan kasih sayang. Mengoreksi siswa adalah bagian dari membangun karakter, bukan menghukum. Memberi sanksi adalah bagian dari mendidik, bukan melampiaskan kemarahan.
Pesan ini selaras dengan kondisi sosial yang terus berubah. Tantangan pendidikan saat ini bukan hanya soal pelajaran, tetapi juga pergaulan bebas, gawai yang tanpa batas, hingga tekanan lingkungan. Guru menjadi garda depan untuk memastikan setiap anak tetap berjalan di jalur yang benar.
Dalam kesempatan tersebut, Yustinus juga memaparkan berbagai upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kita terus bergerak. Kita melaksanakan program pengentasan Anak Tidak Sekolah, peningkatan kompetensi guru, serta memperkuat budaya literasi hingga ke pelosok,” ujarnya.
Semua program ini tidak akan berjalan tanpa komitmen guru. Dedikasi para pendidik yang rela menembus jalan berlumpur, mengajar di ruang kelas sederhana, hingga berjalan kaki ke desa terpencil, menurutnya, adalah wujud nyata dari cinta mereka pada profesi.
“Kita berterima kasih kepada semua guru yang telah mengabdi dalam segala keterbatasan, tetapi tetap menjaga semangat,” kata Yustinus.
Tiga Pesan Penting untuk Para Guru
Dalam momen peringatan HUT PGRI ke-80 ini, Yustinus menyampaikan tiga pesan yang menurutnya harus menjadi pegangan bagi seluruh pendidik, yaitu: 1. Tetap Menjadi Teladan. Integritas, kedisiplinan, dan etika seorang guru adalah cahaya bagi generasi muda. Di era disrupsi nilai seperti sekarang, keteladanan menjadi benteng utama pendidikan karakter.
2. Terus Belajar dan Beradaptasi. Dunia bergerak cepat dan guru tidak boleh berhenti belajar. Penguasaan teknologi, metode pembelajaran baru, dan kemampuan beradaptasi adalah kunci menghadapi era kompetitif. 3. Perkuat Kolaborasi. Pendidikan tidak bisa dikerjakan sendirian. Guru, sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat harus berjalan bersama. “Bersatu kita kuat, bersama kita maju,” tegasnya.
Bagi Yustinus, Hari Guru Nasional adalah pengingat bahwa masa depan bangsa dibentuk oleh kerja senyap para pendidik hari ini. Apa yang dilakukan guru dalam kelas, meski terlihat sederhana, sesungguhnya sedang menentukan arah besar bangsa di masa depan.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen pendidikan untuk menjadikan momentum HUT PGRI ke-80 sebagai semangat baru untuk mencerdaskan anak-anak Sintang.
“Kita ingin melahirkan generasi Sintang yang cerdas, berkarakter, berbudaya, dan berdaya saing,” tuturnya.
Di akhir acara, tepuk tangan membahana ketika Yustinus menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh guru di Kabupaten Sintang.
“Selamat Hari Guru Nasional 2025. Dirgahayu ke-80 PGRI. Bergerak Bersama, Maju Bersama, Mencerdaskan Sintang untuk Indonesia,” serunya penuh semangat.
Ia menutup sambutannya dengan pantun, yang disambut senyum para guru:
Pergi ke ladang membawa padi,
Singgah sebentar di tepi telaga;
Guru sejati tulus berbudi,
Mendidik anak tanpa pamrih dan jasa.
Kemudian disusul dengan pantun berikutnya:
Burung nuri terbang melayang,
Hinggap sebentar di dahan jambu;
Mari kita terus bergerak dan berjuang,
Membangun masa depan lewat tangan guru.
Di momen penuh haru itu, para guru kembali menyadari: tugas mereka memang berat, namun begitu mulia. Selama ada ketulusan, pendidikan akan selalu menemukan jalannya.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Sintang, Senen Maryono, kembali mengingatkan pentingnya membangun karakter siswa sejak dini. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai luhur seperti hormat kepada guru dan kasih sayang kepada sesama teman.
“Siswa harus menghormati guru, karena guru adalah orang tua kedua bagi mereka. Guru mengarahkan, membimbing, dan menjaga anak-anak selama di sekolah. Tanpa rasa hormat, proses pendidikan akan goyah,” tegas Senen Maryono. Ia menekankan bahwa sikap hormat ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari budaya timur yang harus terus dijaga agar tidak terkikis zaman.
Selain itu, Senen juga menyoroti pentingnya hubungan antar siswa di kelas. Ia mengingatkan bahwa anak-anak harus tumbuh dalam suasana yang saling menyayangi, mendukung, dan menghargai perbedaan. Perundungan, ejekan, dan sikap saling menjatuhkan adalah bibit masalah sosial yang harus dicegah sejak dini.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Anak-anak harus belajar menyayangi teman-temannya. Jika ada teman yang kesulitan, bantu. Jika ada yang berbeda, hargai. Ini yang akan membentuk generasi berkarakter,” katanya.
Menurut Senen, pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga harus melibatkan orang tua. Ia berharap orang tua ikut membangun komunikasi dengan guru dan mendukung proses pembinaan yang dilakukan sekolah. Tanpa sinergi itu, nilai moral yang dibangun di sekolah kerap tidak berkelanjutan di rumah.
Di akhir pesannya, Senen Maryono berharap agar seluruh sekolah di Kabupaten Sintang terus memperkuat pembiasaan positif. Mulai dari membudayakan salam dan senyum, menjaga kebersihan kelas, hingga memastikan setiap siswa merasa diterima di lingkungan belajar.
“Kita ingin generasi Sintang tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, sopan, dan memiliki empati. Hormat kepada guru dan menyayangi teman adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan,” tutupnya.
Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai sederhana itu menjadi cahaya kecil yang menjaga agar dunia pendidikan tetap manusiawi dan penuh kasih.
