Sintang, Kalbar – Perpustakaan bukan lagi sekadar gudang buku. Di Kabupaten Sintang, upaya untuk mengubah wajah perpustakaan daerah menjadi pusat literasi yang ramah pelajar dan sekolah mendapat dorongan kuat dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Sebastian Jaba, mengajak seluruh sekolah memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah sebagai bagian penting dalam membangun budaya baca dan meningkatkan kompetensi siswa.
Menurut Sebastian Jaba, kunjungan sekolah ke perpustakaan adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. “Kebiasaan membaca sejak dini akan membuka cakrawala berpikir, memperkuat kemampuan literasi dasar, dan menumbuhkan rasa ingin tahu. Sekolah dan orang tua perlu kerja sama untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan,” ujar Jaba.
Perpustakaan Daerah Kabupaten Sintang pada tahun 2025 memasuki fase baru setelah fasilitas gedung layanan dinyatakan siap beroperasi awal Februari 2025. Pembukaan fasilitas ini disambut sebagai kesempatan untuk memperluas akses bacaan dan layanan literasi bagi pelajar se-kabupaten. Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Daerah Kabupaten Sintang menargetkan peningkatan kunjungan pengunjung sebagai indikator capaian program layanan tahun ini.
Sepanjang tahun ini, Perpustakaan Daerah menggelar program literasi, layanan perpustakaan keliling ke sekolah, serta pameran dan festival literasi yang melibatkan pelajar dan guru. Kegiatan-kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kunjungan tetapi juga menumbuhkan minat baca melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan interaktif. Upaya seperti ini mendapat respons positif dari sejumlah sekolah yang mulai menjadwalkan kunjungan belajar dan “wisata literasi” untuk siswanya.
Sebastian Jaba menekankan pula pentingnya kolaborasi antar-pemangku kepentingan: DPRD, Dinas Perpustakaan, sekolah, serta komunitas pembaca dan orang tua. Menurutnya, pihak sekolah tidak cukup hanya sekadar “mengantar” siswa ke perpustakaan, tetapi perlu merancang kegiatan pembelajaran terintegrasi, misalnya tugas riset kecil, diskusi buku, dan program pembinaan literasi yang berkelanjutan. Dengan begitu, kunjungan ke perpustakaan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang bermakna, bukan hanya acara seremonial.
Praktik baik dari sekolah-sekolah yang telah rutin membawa siswa menunjukkan hasil awal: minat bertanya meningkat, kualitas tulisan siswa lebih berkembang, dan suasana baca yang lebih hidup di lingkungan sekolah. Perpustakaan sebagai ruang publik juga memperluas perannya, menyediakan akses internet untuk riset, ruang diskusi kelompok, hingga program membaca untuk anak usia dini. Peningkatan jenis layanan ini menjadi daya tarik tambahan bagi pelajar yang selama ini lebih terpapar konten digital.
Ajakan konkret dari Sebastian Jaba adalah agar setiap sekolah membuat agenda tahunan kunjungan perpustakaan, menjadikan kunjungan itu terukur dan terkait kurikulum. “Buat target sederhana: minimal satu kali kunjungan per semester, dengan kegiatan yang jelas, tidak sekadar melihat-lihat buku. Guru pembimbing harus menyiapkan modul kegiatan sehingga siswa pulang dengan hasil karya atau catatan refleksi,” sarannya.
