Jarot Tawarkan Rotan ke Cirebon

20

Sintang, Kalbar – Bupati Sintang, Jarot Winarno melakukan kunjangan kerjanya ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Industri Pangan, Olahan dan Kemasan di Satuan Pelayanan (Satpel) Pengembangan Industri Rotan Cirebon, Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Dalam kujungan tersebut, Jarot didampingi pejabat setempat meninjau lokasi workshop Satpel Pengembangan Industri Rotan Cirebon dan melihat hasil kerajinan tangan rotan baik yang sudah diolah maupun saat proses pengerjaannya, seperti kursi, meja dan hasil kerajinan rotan lainnya. “Jadi kami tanya jawab, tentang apa yang mereka lakukan, tentang pembinaan industri rotan. Kemudian kami melihat workshopnya bagaimana cara mereka membuat industri rotan sampai mereka harus memenuhi permintaan ekspor ke Rusia dan negara-negara lain,” kataJarot. Kemudian dalam diskusi dan tanya jawab tersebut, lanjut Jarot, disimpulkan bahwa suplai bahan baku rotan untuk industri kecil dan menengah di Cirebon sangat tidak teratur. Sebab harus mengambil bahan baku rotan dari tegal dengan ketentuan harganya tidak ada ketetapan. “Kita dari Sintang pun menawarkan untuk pemenuhan bahan baku rotan bagi industri rotan di Cirebon,” katanya.

Tapi Jarot tidak mau bahan bakunya, yang masih asalnya dari hutan. “Kita maunya yang sudah kita olah setengah jadilah,” jelas Jarot.
Apalagi desa di Kabupaten Sintang sudah memilih produk unggulan desa berupa rotan. Desa Mentajoi Kecamatan Serawai memiliki produk rotan. “Separuh bahan rotan bisa dijadikan bahan baku setengah jadi, kemudian kita kirim ke Cirebon dan separuhnya untuk pengembangan industri rotan di Desa Mentajoi sendiri,” katanya.

Dia berharap mampu Sintang mampu bersaing seperti di Cirebon.

Jarot mengatakan untuk potensi bahan baku rotan di Kabupaten Sintang tidak hanya di Mentajoi Kecamatan Serawai saja namun juga terdapat di Desa-desa lain, dan Kecamatan
lainnya di Kabupaten Sintang. Sehingga potensi bahan baku rotan cukup banyak. Tapi yang menjadi kendalanya adalah belum adanya penampung dan belum ada yang memasarkannya.

Komentar