Jauhkan Remaja Sintang dari Pergaulan Bebas dan Judol

Sintang, Kalbar – Ancaman pergaulan bebas dan perjudian online atau yang akrab disebut judol semakin menghantui remaja. Kondisi ini menjadi perhatian serius anggota DPRD Kabupaten Sintang, Anton Isdianto. “Pendidikan moral dan agama di sekolah harus diperkuat, bukan hanya sebagai pelajaran formal, tetapi sebagai fondasi karakter yang membentengi generasi muda dari pengaruh buruk, seperti pergaulan bebas dan perjudian online,” katanya.

“Anak-anak kita hidup di era yang sangat terbuka. Informasi, hiburan, bahkan hal-hal negatif mudah diakses. Kalau benteng moral mereka lemah, mereka mudah terjerumus”.

Dalam beberapa tahun terakhir, judol menjadi momok baru bagi kalangan pelajar. Banyak kasus yang mencuat, remaja terjerat utang online karena mengejar kemenangan semu. Mirisnya, sebagian dari mereka mengenal judol dari teman sebaya, lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh.

Selain judol, pergaulan bebas mulai menunjukkan gejalanya di kota-kota kecil, termasuk Sintang. Akses internet berkecepatan tinggi, media sosial dan tayangan yang tidak terfilter membuat anak-anak semakin rentan meniru perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial dan budaya setempat.

Menurut Anton, persoalan ini bukan semata-mata soal larangan atau pengawasan. Ada aspek yang lebih mendasar: karakter dan akhlak.

“Kita tidak bisa hanya menyuruh anak jangan begini atau jangan begitu. Yang harus dibangun adalah kesadaran, yang tumbuh dari pendidikan moral dan agama yang kuat,” tegasnya.

Selama ini, di sekolah memang ada pelajaran agama dan kegiatan pembinaan karakter. Namun menurut Anton, keberadaannya belum cukup untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Ia menilai perlunya pendekatan yang lebih komprehensif, menyeluruh dan kreatif.

“Pembelajaran agama jangan hanya teori. Harus menyentuh perilaku nyata, ada keteladanan, ada pembiasaan,” kata Anton.

Menurutnya, sekolah tidak boleh membiarkan anak-anak berjuang sendiri menghadapi godaan digital yang begitu masif. “Kita tidak bisa membangun generasi berkarakter hanya dengan nilai rapor. Karakter itu tumbuh dari lingkungan, pembiasaan, dan pendampingan,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa memperkuat pendidikan moral dan agama bukan hanya tugas guru agama atau guru bimbingan konseling. Seluruh unsur sekolah harus bergerak mulai dari kepala sekolah, guru mata pelajaran, hingga komite sekolah.

Lebih jauh, peran orang tua menjadi faktor penentu. Ia melihat bahwa banyak anak terjerumus ke lingkaran negatif justru saat berada di luar sekolah, ketika pengawasan melemah.

“Kerja sama tiga pilar harus diperkuat: sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kalau hanya sekolah yang bekerja, itu tidak cukup,” ucap Anton.

Dalam pandangan Anton, pendidikan agama di sekolah harus mampu mengajarkan nilai-nilai universal yang dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, sopan santun, hingga rasa hormat pada orang tua dan guru.

“Kalau anak sudah terbiasa jujur dan bertanggung jawab, mereka tidak akan gampang tergiur dengan judol. Kalau mereka punya rasa takut untuk berbuat salah, mereka tidak akan mudah ikut dalam pergaulan bebas,” ungkapnya.

Anton menegaskan, agama bukan sekadar ritual, melainkan pedoman hidup. Anak yang memiliki pondasi agama yang kuat cenderung lebih mampu menahan diri, lebih bijak bersikap, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Selain Anton, Senen Maryono juga tidak menutup mata terhadap dampak luas judol pada perkembangan mental dan sosial anak. Ia menilai fenomena ini sebagai ancaman serius yang harus ditangani secara sistematis.

“Judol itu merusak mental. Anak menjadi mudah stres, agresif, bahkan depresi. Itu memengaruhi prestasi belajar, hubungan dengan orang tua, dan masa depannya,” jelasnya.

“Kalau tidak dicegah dari sekarang, kita bisa kehilangan satu generasi,” tambahnya.

Menurut Senen, anak-anak zaman sekarang tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Karena itu, penting bagi guru dan lingkungan sekolah untuk menjadi teladan.

“Kalau guru mengajarkan moral tapi perilakunya tidak sesuai, anak akan bingung. Pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan,” katanya.

Keteladanan itu dapat dilihat dari hal-hal sederhana: cara guru berkomunikasi, cara menyelesaikan masalah, hingga cara memperlakukan siswa yang berbeda latar belakang.

“Anak-anak merekam semuanya. Mereka belajar dari contoh,” ujarnya.

Senen Maryono mendorong dinas pendidikan untuk memperkuat kurikulum pendidikan moral dan agama dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Ia juga berharap adanya peningkatan pelatihan bagi guru Bimbingan Konseling dan guru agama agar mereka lebih siap menghadapi problem-problem modern.

“Kegiatan positif seperti itu membuat anak punya ruang ekspresi. Kalau ruang positif kurang, mereka akan mencari ruang lain di luar yang belum tentu sehat,” jelasnya.

Senen Maryono menegaskan kembali bahwa pendidikan moral dan agama harus dimulai sejak dini. Bukan ketika anak sudah terlanjur terjerumus.

“Karakter itu seperti pohon. Kalau ditanam sejak kecil, ia tumbuh kuat. Tapi kalau dibiarkan liar, akan sulit diluruskan,” katanya.

Ia berharap seluruh pihak, terutama sekolah dan orang tua, tidak hanya fokus pada capaian akademik semata. Menurutnya, kecerdasan tanpa moral adalah kombinasi yang berbahaya.

“Kita ingin anak-anak Sintang bukan hanya pintar, tapi juga berakhlak. Mereka adalah masa depan daerah ini. Mari kita jaga bersama,” pungkasnya.

SebelumnyaDPRD Sintang Desak Penertiban Penjualan Miras Ilegal
SelanjutnyaSantosa: Setiap Sekolah Harus Memiliki Fasilitas Olahraga