Kayan Dilanda Krisis Air Bersih

Sintang, Kalbar – Krisis air bersih yang berkepanjangan di wilayah Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa tahun terakhir, air sungai yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan harian masyarakat berubah drastis. Airnya tidak lagi jernih, melainkan keruh, berlumpur, bahkan sulit digunakan untuk kebutuhan dasar. Kondisi ini diperparah oleh pendangkalan sungai serta dampak aktivitas pertambangan emas yang membuat kualitas air menurun tajam.

Dalam situasi yang semakin mendesak ini, masyarakat kini hanya memiliki dua andalan: air hujan dan sumur bor. Namun, sumur bor pun tidak menjadi solusi jangka panjang. Banyak sumur bor yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya kini tidak berfungsi lagi. Rata-rata hanya bertahan dua hingga tiga tahun sebelum mengalami kerusakan, karena tingginya kebutuhan dan terbatasnya titik layanan.

Di tengah persoalan pelik itu, Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Hikman Sudirman, kembali hadir memberikan solusi praktis yang dapat langsung dirasakan masyarakat. Melalui penyaluran bantuan tong air kepada warga di Kecamatan Kayan Hilir, Hikman menegaskan kembali komitmennya untuk menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam isu krisis air bersih yang semakin serius.

Masyarakat di sejumlah desa di Kayan Hilir sudah lama menghadapi dilema soal sumber air bersih. Air sungai yang semakin keruh membuat warga tidak bisa lagi menjadikannya sebagai sumber air utama. Tidak sedikit keluarga yang menggantungkan seluruh kebutuhan pada air hujan, mulai dari memasak, mencuci, hingga mandi.

“Air sungai sudah berlumpur sekali. Hampir semua desa di Kayan Hulu dan Kayan Hilir kondisinya seperti ini. Makanya masyarakat hanya mengandalkan sumur bor dan air hujan,” ungkap Hikman Sudirman.  

Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan tersebut, Hikman memprioritaskan penyaluran tong air sebagai salah satu langkah konkret. Bantuan ini memungkinkan warga menampung air hujan dengan jumlah yang lebih besar, terutama untuk menghadapi musim kemarau ketika aliran air dari bukit semakin tidak menentu.

“Saya sudah sampaikan sejak awal, bahwa saya akan memperjuangkan kebutuhan masyarakat, termasuk fasilitas dasar seperti tong air. Hari ini kami tunaikan janji itu, dan semoga dapat membantu warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih,” tegas Hikman.

Ia menambahkan bahwa penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan warga yang berada dalam kondisi paling membutuhkan. Komunikasi aktif dengan tokoh masyarakat menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran dan bermanfaat maksimal.

Hikman menegaskan bahwa bantuan tong air bukan akhir dari perjuangannya. Ia terus mendorong pemerintah daerah agar mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat pedalaman. Menurutnya, pemerataan pelayanan dasar harus menjadi prioritas utama.

“Tugas saya bukan hanya memberikan bantuan, tetapi juga memperjuangkan kebijakan di tingkat daerah agar pemerataan pembangunan bisa terjadi. Kayan Hilir dan daerah-daerah lain harus mendapatkan perhatian yang sama,” jelas Hikman.

Ia juga mengingatkan bahwa solusi jangka panjang untuk krisis air bersih memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan lainnya. Pengelolaan sumur bor, perlindungan daerah aliran sungai, dan peningkatan infrastruktur harus berjalan beriringan.

Dengan terealisasinya bantuan tong air ini, masyarakat merasakan langsung dampak positif dari keberadaan wakil rakyat yang responsif. Mereka berharap program-program lain terkait kebutuhan dasar masyarakat dapat terus dilanjutkan.

Hikman pun mengajak masyarakat untuk menjaga tong air yang sudah dibagikan agar bisa digunakan dalam jangka panjang. Ia memastikan bahwa fokus kerjanya ke depan tetap diarahkan pada penguatan layanan dasar dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedalaman.

Di tengah krisis air bersih yang masih menghantui Kayan Hilir, langkah Hikman Sudirman menjadi secercah harapan. Bukan hanya sebagai penyalur bantuan, tetapi sebagai wakil rakyat yang mendengar, memahami, dan bergerak.

SebelumnyaCSR Perusahaan Sawit di Sintang Dinilai Belum Terarah
SelanjutnyaDewan Sintang Dukung Bentuk Forum DAS Jaga Lingkungan Sungai