Menjaga Masa Depan Generasi Sintang dari HIV AIDS

Sintang, Kalbar – Santosa, anggota DPRD Kabupaten Sintang tampak tertekun,  saat mengetahui kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sintang merupakan yang tertinggi di Kalbar.

130 kasus HIV/AIDS pada 2023, meningkat dari 97 kasus pada 2022. Di bawah angka itu, ada catatan lain: 802 kasus kumulatif sejak 2006, dengan 155 kematian. Ia menghela napas panjang. “Ini bukan sekadar statistik,” ujarnya pelan. “Ini anak-anak kita. Generasi muda kita,” ujarnya.

Santosa bukan orang yang mudah terkejut oleh data. Sebagai wakil rakyat, ia telah berkali-kali membaca laporan tentang masalah sosial: kemiskinan, narkoba, kekerasan rumah tangga. Namun HIV/AIDS memiliki karakter berbeda. Penyakit ini merayap diam-diam, tanpa gejala awal yang jelas, dan sering ditemukan terlambat. Ada hal yang membuat hati Santosa tercekat, yaitu meningkatnya jumlah kasus pada remaja, bahkan anak di bawah empat tahun.

Ada 18 anak usia di bawah empat tahun yang terkena HIV / AIDS,” ujarnya lirih. “Usia lima sampai empat belas tahun ada lima,” ungkapnya.  

“Jika kita diam, makin banyak tunas muda yang patah sebelum berkembang,” ujar Santosa.

Di balik naiknya jumlah kasus, ada kisah tentang lingkungan sosial yang berubah. Santosa menyakin pergaulan bebas di kalangan remaja menjadi salah satu penyebab utama. “Usia SMA sampai kuliah yang paling banyak terlibat pergaulan bebas,” ujarnya.

Ia tahu betul, ketika remaja mulai bergerak diam-diam di ruang-ruang tersembunyi, ketika mereka takut bercerita kepada orang tua atau gurunya, ketika kepercayaan sosial melemah, risiko HIV/AIDS meningkat berkali-kali lipat.

Dalam berbagai kesempatan, Santosa selalu mengingatkan bahwa melindungi remaja tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan aturan atau hukuman. “Remaja bukanlah musuh,” katanya. “Mereka adalah anak-anak kita,” katanya lagi.

Ia memahami bahwa di balik perilaku berisiko, ada faktor-faktor lain, mulai dari rasa ingin tahu, tekanan teman sebaya, kurangnya pendidikan seksual yang sehat, hingga lingkungan keluarga yang tidak komunikatif. Karena itu, ia menyerukan pendekatan yang lebih humanis.

Remaja, menurutnya, perlu diperlakukan sebagai individu yang sedang tumbuh, bukan objek yang harus diawasi ketat. Mereka perlu ruang aman untuk bertanya, berdiskusi, dan mengakui kekhawatiran mereka tanpa takut dihakimi. Ruang itu, sayangnya, masih jarang tersedia di Sintang.

“Kalau mereka tidak merasa didengarkan, mereka akan mencari jawaban sendiri,” kata Santosa. “Jawaban itu bisa saja datang dari tempat yang salah.”

Melihat situasi yang semakin riskan, Santosa mengeluarkan seruan tegas kepada Pemerintah Kabupaten Sintang, ambil langkah konkret, segera.

Namun seruan itu tidak lahir dari nada menggurui. Ia mengucapkannya dengan nada seseorang yang peduli, seseorang yang takut melihat masa depan daerahnya tergerus pelan-pelan oleh virus yang tidak terlihat.

Ada tiga hal yang menurutnya paling penting dilakukan, yaitu edukasi seksualitas ramah remaja.

Santosa menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya menjelaskan bahaya HIV/AIDS, tetapi juga membangun kesadaran, rasa tanggung jawab, dan kemampuan membuat keputusan sehat.

“Anak-anak harus merasa aman untuk bertanya,” tegasnya. “Bukan malah takut atau malu.”

Program edukasi harus masuk ke sekolah, komunitas pemuda, rumah ibadah, bahkan media sosial, tempat remaja menghabiskan banyak waktu. Pemerintah daerah harus menghidupkan Tim Penjangkau. Bagi Santosa, tim penjangkau adalah benteng terakhir yang melindungi remaja dari risiko HIV/AIDS. Mereka adalah orang-orang yang turun langsung ke lapangan, mengetuk pintu rumah kos, mengunjungi desa terpencil, atau menyusuri gang-gang sempit tempat remaja berkumpul.

Tanpa tim ini, kata Santosa, banyak remaja yang mungkin sudah terinfeksi tetapi tidak pernah terdeteksi. Banyak pasien yang putus obat tanpa ada yang mencarinya, dan banyak kasus baru yang tidak pernah tercatat sampai terlambat. Sintang juga perlu pengawasan lingkungan sosial remaja. Santosa meminta kolaborasi lintas sektor, mulai dari orang tua, sekolah, tokoh agama, pemilik rumah kos, hingga RT/RW untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” katanya. “Anak-anak adalah tanggung jawab kita semua.”

Ia menekankan pentingnya pendekatan keluarga, komunikasi terbuka, dan komunitas yang peduli. Bagi Santosa, remaja hanya akan aman jika mereka dikelilingi oleh orang-orang yang peduli, bukan oleh benteng moral yang kaku.

Meski situasi tampak mengkhawatirkan, Santosa tetap percaya bahwa Sintang memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi masalah ini. Ia sering melihat semangat para tenaga kesehatan puskesmas yang rela menyeberangi sungai untuk melakukan skrining, relawan yang bekerja senyap, dan keluarga yang setia mendampingi anak mereka menjalani terapi ARV.

“Ini yang harus kita kuatkan,” katanya. “Harapan itu ada, selama kita tidak lepas tangan.”

Santosa tahu, menjaga remaja berarti menjaga masa depan. Membiarkan mereka terpapar HIV/AIDS tanpa perlindungan berarti membiarkan generasi penerus melemah. Karena itu, ia berulang kali menegaskan, tindakan pencegahan harus dilakukan sekarang, sebelum terlambat.

“Sintang punya masa depan,” ujarnya pelan. “Masa depan itu adalah mereka, generasi muda, anak-anak kita dan kita wajib menjaga mereka,” pungkasnya. (tantra)

SebelumnyaDewan Sintang Ingin ASN Lebih Profesional Setelah Profiling
SelanjutnyaDorong Pemkab Sintang Membentuk Tim Layanan Mobile HIV/AIDS