Sintang, Kalbar – Di timur Kalimantan Barat, ketika kabut pagi masih menggantung rendah di atas aliran Sungai Kapuas dan Melawi, Sintang perlahan membuka hari dengan ketenangan yang jarang ditemukan di kota lain. Udaranya yang sejuk membawa ketenangan bagi siapa saja yang tinggal di sini. Sintang bukan sekadar wilayah administratif; ia adalah lanskap hidup yang memadukan alam, budaya, dan manusia dalam satu tarikan napas yang teduh.
Setiap pagi, sinar matahari menyelinap di antara pepohonan besar yang sebagian masih tumbuh di halaman rumah warga. Di jalan-jalan utama, arus lalu lintas tak pernah benar-benar terburu-buru. Jika hendak mengenal Sintang, mulai saja dari sungainya. Kapuas yang gagah dan Melawi yang tenang bertemu di jantung kota, menciptakan pemandangan yang memukau saat matahari pagi jatuh tepat di atas pertemuan dua arus. Air yang berkilau seperti kaca berlapis emas membuat siapa pun merasa dekat dengan alam. Udara yang sejuk, bahkan saat hari beranjak siang, seakan mengingatkan bahwa Sintang masih punya ruang luas bagi alam untuk bernapas.
Tak hanya alamnya yang menawan, tetapi juga manusia-manusianya. Warga Sintang dikenal ramah tanpa dibuat-buat.
Sintang yang asri, sejuk, dan nyaman bukan hanya tagline. Ia nyata. Namun di balik ketenangan itu, ada persoalan yang jarang terlihat mata, tapi pelan-pelan menggerogoti sendi kesehatan masyarakat, yaitu HIV/AIDS. Sebuah isu yang sering dibicarakan dengan suara pelan, seolah hanya layak disembunyikan di balik dinding ruang pertemuan atau catatan medis.
Di gedung DPRD Kabupaten Sintang, seorang anggota dewan, Erika Daegal Theola berdiri sebagai salah satu suara yang mengingatkan pemerintah agar tidak lagi bergerak setengah hati. Ia menyampaikan pesan yang tegas namun mengandung keprihatinan mendalam: Sintang tidak boleh menunggu krisis lebih besar untuk bergerak.
Erika menilai bahwa upaya sosialisasi bahaya HIV/AIDS sejauh ini belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Banyak warga yang masih mengira HIV hanya menyerang kelompok tertentu, padahal faktanya semua orang rentan tanpa edukasi yang tepat.
“Ke depan, baliho dan videotron milik pemerintah harus bisa menghadirkan informasi yang membuat warga sadar. Jangan hanya menampilkan foto pejabat,” katanya, menyiratkan kritik bahwa pesan kesehatan publik harus jauh lebih berani dan langsung menyentuh akar persoalan.
Di kampung-kampung, informasi tentang HIV sering kali berhenti di posyandu atau kegiatan seremonial. Sementara generasi muda lebih banyak mendapatkan informasi dari media sosial, yang tak jarang berisi informasi keliru atau stigma. Banyak remaja yang takut memeriksakan diri, karena khawatir dianggap “nakal”, padahal pemeriksaan kesehatan adalah hak semua orang.
Bagi Erika, langkah pertama adalah menghilangkan stigma. HIV bukan kutukan moral, bukan juga aib keluarga. “Ini bukan soal moralitas, tetapi soal kesehatan masyarakat,” tegasnya. Sikap keras terhadap perilaku berisiko harus tetap dibarengi pendekatan yang manusiawi, karena tanpa itu, orang-orang dengan risiko tinggi akan semakin bersembunyi, semakin takut, dan semakin jauh dari layanan kesehatan.
Erika mendorong pemerintah untuk memperkuat Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang tidak hanya menyampaikan pesan lewat kata-kata, tetapi juga membangun empati dan keberanian untuk mencari pertolongan. Masyarakat harus memahami cara penularan HIV, pentingnya perilaku seksual yang aman, serta langkah-langkah sederhana yang dapat menyelamatkan hidup.
“Kesetiaan pada satu pasangan dan penggunaan kondom dalam hubungan berisiko harus disampaikan apa adanya, tanpa basa-basi,” kata Erika. Pesan yang sering dianggap tabu ini, menurutnya, justru perlu dibahas secara terbuka dan edukatif.
Dari sinilah muncul gagasan yang kini menjadi sorotan: pembentukan tim layanan Mobile VCT. Sebuah tim kesehatan yang tidak menunggu pasien datang, tetapi turun langsung ke lapangan, ke tempat-tempat di mana risiko berada.
Bayangkan sebuah ambulans kecil atau mobil layanan kesehatan yang menyusuri pub, hotel, tempat karaoke, atau salon, lokasi-lokasi yang sering diasosiasikan sebagai “populasi kunci”. Di sana, para petugas membuka ruang konseling privat, menyediakan alat tes cepat, dan memberikan penyuluhan langsung.
“Terkadang, satu-satunya cara untuk melindungi mereka adalah dengan mendatangi mereka,” ujarnya.
Bagi sebagian besar pekerja hiburan malam, kesempatan semacam ini sangat berharga. Pemeriksaan yang dilakukan secara anonim, tanpa prosedur rumit, memberi mereka akses yang selama ini tertutup oleh rasa takut. Tim mobile tidak hanya datang membawa alat tes, tetapi juga membawa harapan bahwa setiap orang berhak untuk tahu kondisi kesehatannya tanpa stigma.
Meski pemerintah memegang peran besar, Erika menekankan bahwa keberhasilan penanganan HIV/AIDS hanya mungkin tercapai bila masyarakat ikut peduli. “Persoalan penyebaran HIV/AIDS ini hanya bisa diatasi jika kita bersama-sama,” ujarnya.
Di tingkat rumah tangga, keluarga menjadi agen pencegahan pertama. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak tentang risiko pergaulan, bahaya narkotika, dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Banyak kasus HIV di Sintang yang terlambat ditangani karena keluarga tidak memahami gejala awal atau memilih diam lantaran takut tidak diterima lingkungan.
Keterlibatan tokoh masyarakat, organisasi sosial, dan komunitas sangat dibutuhkan. Mereka bisa menjadi jembatan yang menghubungkan warga dengan fasilitas kesehatan serta membantu memecah stigma yang masih tebal.
Di balik semua dorongan itu, satu pesan Erika yang paling kuat adalah ajakan untuk bergerak cepat. “Setiap penundaan bisa berarti hilangnya kesempatan menyelamatkan satu jiwa,” katanya.
Sintang, dengan segala tantangan geografis dan keragaman sosialnya, membutuhkan strategi penanganan HIV/AIDS yang lebih menyentuh manusia, bukan sekadar angka. Ketika sebuah tim layanan mobile meluncur ke jalan, atau saat sebuah keluarga berani membuka percakapan sehat di rumah, itu adalah langkah kecil namun berarti dalam memotong rantai penularan.
Di balik ketenangan Sungai Kapuas yang mengalir, Sintang menyimpan harapan bahwa lewat kerja bersama, empati, dan keberanian untuk berubah, masa depan tanpa stigma dan tanpa penularan baru bukanlah hal mustahil.
