Nanga Layung Terisolasi, Jalan Rusak Tak Diperbaiki

Sintang, Kalbar – Di pedalaman Kecamatan Sepauk, waktu seperti berjalan lebih lambat. Bukan karena ketenangan desa, melainkan karena jalan yang memaksa siapa pun untuk berhenti, menahan napas, dan memilih langkah dengan hati-hati.

Di Desa Nanga Layung, jalan bukan sekadar akses, ia adalah ujian harian bagi warganya. Sebuah video yang diunggah akun Instagram imelia_sartika10 memantik perhatian publik.

Dalam rekaman itu, dua orang terlihat berjalan kaki di tengah jalan yang mestinya bisa dilalui sepeda motor. Lumpur menganga, genangan air menutup lubang, dan tanah yang hancur seolah menolak dilalui.

Di sana, kendaraan bukan lagi alat mobilitas, melainkan beban. “Yang aku tahu jalan Desa Nanga Layung ini tidak pernah bagus ya gaes, semakin tahun semakin hancur,” ujar pemilik akun dalam unggahannya.

Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan kelelahan panjang, keluhan yang mungkin sudah berulang kali disampaikan, namun tak kunjung menemukan jawaban.

Jalan tersebut berada di wilayah Kabupaten Sintang, sebuah daerah yang kaya akan sumber daya, terutama emas dan kelapa sawit, tetapi masih bergelut dengan persoalan infrastruktur dasar.

Nanga Layung hanyalah satu dari sekian desa yang menyimpan cerita serupa, cerita tentang akses yang terputus, tentang harapan yang tertahan di kubangan lumpur.

Dalam video itu, langkah kaki masyarakat terdengar lebih keras daripada suara mesin. Setiap pijakan seperti negosiasi dengan tanah, apakah akan tenggelam atau bertahan.

Bagi masyarakat, kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata. Anak-anak yang hendak ke sekolah, petani yang membawa hasil panen, hingga warga yang membutuhkan akses kesehatan, semuanya harus berhadapan dengan jalan yang tak pernah benar-benar layak.

Unggahan tersebut mendapat respons luas. Lebih dari 4.500 pengguna Instagram menyukai postingan itu, dan ratusan komentar dari netizen mengalir, membawa suara dari berbagai penjuru desa.

Sebagian netizen menyebut Nanga Layung sebagai kampung halaman Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. Namun, alih-alih menjadi kebanggaan, fakta itu justru terasa ironis di tengah kondisi jalan yang memprihatinkan.

Komentar lain memperluas peta masalah. Mereka menyebut desa-desa lain seperti Sekujam Timbai, Riam Kempadik, Tawang Sari, Bedayan, Bangun, hingga arah Kemantan, semuanya mengalami kerusakan jalan yang tak kalah parah.

Seolah-olah, kerusakan ini bukan kasus tunggal, melainkan pola yang berulang di banyak titik. Di balik angka “like” dan deretan komentar, ada realitas yang lebih sunyi, warga yang setiap hari harus beradaptasi dengan keterbatasan.

Jalan rusak bukan hanya soal fisik, tapi juga soal psikologis. Ia menumpuk rasa lelah, menumbuhkan frustrasi, dan perlahan mengikis kepercayaan.

Pemerintah, dalam berbagai kesempatan, kerap menyuarakan komitmen pembangunan. Namun bagi warga Nanga Layung, janji itu terasa jauh, sejauh jarak yang harus mereka tempuh dengan berjalan kaki di jalan berlumpur.

Harapan mereka sederhana, yaitu jalan yang bisa dilalui, akses yang layak, dan perhatian yang nyata. “Jalan ini harus diperhatikan oleh pihak pemerintah,” pinta pemilik akun dalam videonya. Sebuah kalimat yang mungkin sudah sering terdengar, namun tetap relevan. Karena di Nanga Layung, waktu terus berjalan, sementara jalan tetap tertinggal.

Di era ketika informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, ironi seperti ini menjadi semakin terang. Video sederhana dari desa terpencil mampu menggugah ribuan orang. Namun pertanyaannya, apakah ia cukup kuat untuk menggerakkan perubahan?

Nanga Layung hari ini adalah potret kecil dari persoalan besar. Tentang bagaimana pembangunan belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah. Tentang bagaimana suara warga sering kali baru terdengar ketika menjadi viral.

Di sana, di antara lumpur dan lubang, warga terus berjalan. Bukan karena mereka ingin, tapi karena mereka harus menjalani hidup. (Tantra)

SebelumnyaBus Damri Rute Sintang–Pontianak Terguling di Tikungan Penyeladi, 1 Tewas
SelanjutnyaHatta Bongkar Buruknya Kinerja DAMRI Kalbar