Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Santosa terus menggulirkan upaya meningkatkan ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat pedalaman Kecamatan Kayan Hilir. Di daerah tersebut, sejumlah kelompok tani menerima bantuan bibit sapi dan babi. Bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor peternakan berbasis desa, sekaligus sejalan dengan program strategis pemerintah pusat mengenai ketahanan pangan.
Bantuan bibit sapi menjadi salah satu program yang paling disorot. Desa-desa seperti Nanga Mau serta Mekar Mandiri menerima puluhan ekor sapi melalui pengelolaan kelompok tani. Dana penyaluran mencapai sekitar Rp300 juta, dengan jumlah bibit sapi kurang lebih 20 ekor. Sapi yang disuplai merupakan jenis jantan dan betina yang sudah lepas susu dengan usia sekitar satu tahun, sehingga diharapkan siap berkembang biak.
Mekanisme penyaluran dilakukan melalui dua kelompok tani yang mengajukan kebutuhan, namun realisasi di lapangan diperluas. “Karena banyak masyarakat yang membutuhkan, pembagian diperluas lewat kelompok-kelompok tani lain. Ada kelompok yang terdiri dari 25 kepala keluarga, mendapat dua ekor bibit sapi untuk perawatan bersama. Hasilnya bisa mencapai 8–10 kelompok di wilayah Kayan Hilir yang ikut merasakan manfaatnya,” ujar Santosa program pemberdayaan daerah ini.

Ia menegaskan, pola pembagian merata ini bertujuan agar dampak program dirasakan secara luas. Selain membantu kelompok utama yang terdata, distribusi diperluas ke komunitas lain yang layak mendapatkan dukungan. Program ini juga menjadi bentuk komitmen dalam mendorong roda ekonomi melalui sektor peternakan, sekaligus mendukung agenda besar Presiden terkait ketahanan pangan.
Harapannya, sapi-sapi tersebut berkembang biak dalam beberapa tahun, sebagaimana kelompok ternak sebelumnya yang telah berhasil. “Kita ingin melihat hasil konkret. Ada kelompok yang dulu kita bantu, dan sekarang populasinya berkembang. Ini yang ingin terus kita dorong,” jelasnya.
Tak berhenti pada sapi, bantuan bibit lain juga dilakukan, termasuk bibit sawit serta bibit babi. Dukungan bibit babi diberikan kepada kelompok masyarakat Nasrani di dua desa, yakni Desa Sungai Menuang dan Desa Batu Netak. Masing-masing desa menerima enam ekor bibit babi untuk kelompok tani setempat.
Bibit babi ini juga terlacak mengalami perkembangan populasi, sebab pihak pemberi bantuan turut menyuplai pakan agar perawatan ternak tidak membebani kelompok penerima. Model integratif ini dinilai efektif karena meminimalkan risiko kematian ternak dan membantu peternak pemula mempelajari tahapan pemeliharaan yang benar.
Menurutnya, keberhasilan ekonomi pedesaan tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor, sehingga pendampingan pengembangan peternakan menjadi langkah penting. Bantuan-bantuan ini juga merupakan bentuk investasi jangka panjang, karena ternak yang berkembang biak dapat menjadi aset yang dihargai tinggi pada masa mendatang.
“Pemerintah kita sangat fokus pada ketahanan pangan. Kita di daerah harus mendukung, salah satunya lewat bantuan bibit ternak yang bisa menjadi sumber ekonomi keluarga. Peternakan itu sumber protein, modal, dan peluang usaha. Kalau dikembangkan dengan benar, akan membawa manfaat besar,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa seluruh kelompok tani perlu menjaga komitmen merawat ternak hingga berkembang. Pendampingan teknis juga terus diberlakukan, baik melalui petugas penyuluh maupun koordinasi berkelanjutan dengan kelompok penerima. Hal ini penting untuk memastikan bibit ternak tetap hidup, tumbuh, dan berproduksi.
Bantuan ternak ini dipandang selaras dengan tuntutan zaman, ketika desa ditantang untuk membangun kemandirian pangan. Wilayah Kayan Hilir memiliki lahan dan karakter masyarakat yang cocok dengan usaha peternakan rakyat. Dengan dukungan modal awal berupa bibit ternak dan ketersediaan pakan, peluang berkembangnya ekonomi lebih besar.
“Ini komitmen yang terus kita lakukan. Kita ingin melihat masyarakat tumbuh secara ekonomi, keluarga punya pilihan usaha, dan desa semakin mandiri,” tutupnya.
