Sintang — Di tengah berbagai dinamika dunia pendidikan hari ini, masih ada satu hal yang tak pernah berubah: guru tetap menjadi pilar utama dalam membentuk karakter generasi muda. Bukan hanya pengajar, tetapi pendidik yang setiap hari berdiri di garda terdepan, mengisi jiwa dan pikiran anak-anak dengan nilai, disiplin, dan teladan. Bagi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sintang, Sanda, hakikat tugas guru hari ini justru semakin berat dan menuntut dukungan semua pihak, terutama orang tua.
Di tengah kesibukan agenda kedewanan, Sandan berbicara panjang lebar tentang peran guru yang kerap tidak terlihat, namun sangat menentukan arah masa depan daerah. “Guru itu tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter. Karena itu mendidik harus dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan. Tiga hal ini wajib hadir dalam setiap tindakan guru, baik di dalam maupun luar kelas,” ujar Sandan.
Di banyak sekolah, guru tak hanya berperan sebagai instruktur akademik, tetapi juga menjadi sosok yang mengisi ruang-ruang emosional anak. Ada murid yang datang dengan masalah keluarga, ada yang bergumul dengan tekanan pergaulan, ada pula yang membutuhkan kedekatan dan perhatian lebih.
“Kasih sayang bukan berarti membiarkan anak tanpa batas. Justru sebaliknya, kasih sayang yang benar itu memastikan anak tumbuh dalam aturan dan kedisiplinan yang membentuk mentalnya,” tegas Sandan.
Menurutnya, guru yang mengajar dengan hati akan mampu membaca kebutuhan muridnya. Teguran pun menjadi bentuk perhatian, sementara sanksi yang diberikan sesuai aturan bukanlah hukuman semata, tetapi cara untuk menguatkan karakter. “Kalau anak salah, ya ditegur. Kalau melanggar aturan sekolah, tentu ada konsekuensi. Itu bukan kekerasan, itu pendidikan,” tambahnya.
Tidak mudah mengambil keputusan ketika berhadapan dengan tingkah laku anak-anak yang beragam. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Guru dituntut memahami situasi, mempertimbangkan dampak, dan memilih langkah yang benar agar pendidikan tetap berjalan tanpa melukai perasaan anak.
“Guru di Sintang ini banyak yang bijak. Mereka tahu kapan harus lembut dan kapan harus tegas. Tapi jangan lupa, guru juga manusia yang bisa lelah dan tertekan. Maka kita perlu mendukung mereka, bukan menyudutkan,” kata Sandan.
Ia menekankan bahwa guru menjalankan aturan yang telah disepakati bersama antara sekolah dan orang tua. Setiap anak saat masuk sekolah, orang tuanya menandatangani pernyataan menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah. Maka sudah sepatutnya orang tua memberi kepercayaan kepada guru dalam menjalankan fungsi pembinaan.
“Guru tidak mungkin sembarangan menegur atau memberikan sanksi. Semua ada prosedur. Semua dilakukan demi kebaikan anak,” jelasnya.
Dalam pandangan Sandan, teladan adalah inti dari proses pendidikan yang sebenarnya. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar.
“Seorang guru yang datang tepat waktu, berpakaian rapi, tutur katanya sopan, itu sudah pelajaran karakter yang sangat kuat bagi anak-anak,” ucapnya.
Ia menilai bahwa sekolah-sekolah di Sintang sudah semakin maju, dan banyak guru menunjukkan dedikasi luar biasa meskipun fasilitas belum sempurna. Yang dibutuhkan sekarang adalah penghargaan dan dukungan dari masyarakat agar para pendidik semakin terpacu memberikan yang terbaik.
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit terjadi kasus orang tua yang langsung emosi ketika anaknya ditegur atau diberi sanksi oleh guru. Fenomena ini, menurut Sandan, sangat memprihatinkan dan dapat mengganggu harmoni pendidikan.
“Jangan sedikit-sedikit menyalahkan guru. Jangan langsung marah kalau anak ditegur. Justru kalau guru menegur, itu tanda guru memperhatikan dan ingin anak kita menjadi lebih baik,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa hubungan sekolah dan keluarga harus bersifat kolaboratif. Orang tua tidak boleh memanjakan anak secara berlebihan hingga mengabaikan nilai disiplin.
“Kalau anak kita merokok, bolos, berkelahi, membawa ponsel untuk hal-hal tidak baik, tentu sekolah harus mengambil tindakan. Jangan dibalik seolah guru yang salah,” ujarnya.
Sandan juga meminta orang tua untuk tidak mudah percaya pada cerita tunggal dari anak. Biasanya, kata dia, anak akan menceritakan sisi dirinya saja tanpa konteks lengkap.
“Bicaralah baik-baik dengan guru. Tanyakan duduk perkaranya. Jangan langsung datang marah-marah ke sekolah. Itu tidak mendidik anak, justru memberi contoh yang buruk.”
Bagi Sandan, masa depan anak-anak Sintang bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan hasil kerja bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat. Karena itu, ia berharap agar komunikasi antara semua pihak diperkuat.
“Pendidikan akan berhasil kalau dilakukan dengan cinta, kerjasama, dan saling percaya. Guru mendidik dengan kasih sayang dan bijaksana, orang tua mendukung dan menghargai. Itu kunci masa depan generasi kita,” ujarnya mengakhiri.
Di ruang-ruang kelas yang sederhana, di tengah senyum dan tawa anak-anak Sintang yang penuh harapan, para guru terus berupaya menjalankan tugas mulia mereka. Seperti pesan Sandan tugas kita bersama adalah menjaga agar tangan-tangan pendidik itu tetap kuat, dihormati, dan dicintai, karena di tangan merekalah masa depan dibentuk.
