Produk Unggulan untuk Gerakkan Ekonomi Warga

Sintang, Kalbar – Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sintang, Anastasia, mendorong seluruh desa di Kabupaten Sintang untuk lebih kreatif mengembangkan produk unggulan desa sebagai strategi memperkuat ekonomi masyarakat. Ia menilai berbagai potensi lokal, mulai dari kerajinan tangan, pangan olahan, hingga industri rumahan, belum tergarap optimal dan perlu ditata secara serius untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa.

Menurutnya, desa tidak boleh hanya bergantung pada Dana Desa atau bantuan pemerintah. Penguatan ekonomi lokal harus menjadi prioritas jangka panjang, dan hal itu dimulai dari keberanian kepala desa menggali potensi yang dimiliki masyarakatnya.

“Setiap desa punya kekhasan masing-masing. Ada desa yang kuat di kerajinan, ada yang punya produk pangan olahan, ada yang bisa mengembangkan usaha rumahan. Tinggal kreativitas kepala desanya saja. Jangan biarkan potensi itu tidur,” ujar Anastasia.

Ia menegaskan bahwa peran kepala desa sangat menentukan arah pembangunan ekonomi di tingkat lokal. Di banyak desa, produk unggulan warga sebenarnya sudah ada, tetapi tidak berkembang karena kurang organisasi, tidak ada dukungan pemasaran, atau tidak memiliki wadah usaha yang jelas.

“Kepala desa harus menjadi motor kreativitas. Mereka harus memetakan apa keunggulan desanya, kemudian membentuk kelompok usaha, melatih warga, dan memfasilitasi pemasaran. Kalau semua itu dilakukan, desa bisa sangat mandiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyak desa di Sintang memiliki potensi kerajinan tangan seperti anyaman rotan, purun, batok kelapa, hingga kayu. Selain itu, industri makanan rumahan seperti keripik singkong, gula semut, abon ikan, kerupuk basah, dan kue tradisional merupakan sektor yang bisa berkembang pesat bila dikelola serius.

Kabupaten Sintang memiliki 391 desa. Data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) menunjukkan bahwa baru sekitar 120 desa yang telah memiliki produk unggulan yang diproduksi secara konsisten. Sisanya masih dalam tahap awal, sporadis, atau belum memiliki produk sama sekali. Jenis potensi desa yang paling banyak dikembangkan di Sintang antara lain, kerajinan rotan, bambu, dan kayu – ± 60 desa, pangan olahan seperti keripik, dodol, kue kering – ± 85 desa, anyaman purun dan eceng gondok – ± 35 desa, produk perikanan olahan seperti ikan salai dan abon – ± 20 desa dan kopi dan madu hutan – ± 15 desa. Meski jumlahnya cukup besar, Anastasia menilai kualitas dan kontinuitas produksi di banyak desa masih belum stabil.

“Sering terjadi produk desa bagus, tapi diproduksi hanya tiga bulan, lalu berhenti karena tidak ada pembeli tetap atau tidak ada modal untuk lanjut. Ini yang harus dibenahi,” katanya.

Salah satu kritik yang disampaikan Anastasia adalah masih banyak BUMDes di Sintang yang belum sepenuhnya berfungsi sebagai lembaga bisnis.

“BUMDes harus menjadi pembeli pertama dan pemasar utama produk desa. Jangan hanya ada di papan nama. Kalau BUMDes aktif, industri rumahan warga bisa hidup,” ujarnya.

Ia memberi contoh praktik baik dari salah satu desa di Kecamatan Ketungau Tengah, di mana BUMDes membeli produk keripik singkong dan kue kering buatan ibu-ibu desa, lalu mengemas ulang dengan label desa dan memasarkannya ke kecamatan dan kota. Pola tersebut meningkatkan pendapatan kelompok perempuan hingga 30–40 persen per bulan.

Menurut Anastasia, konsep seperti itu perlu diperluas ke seluruh desa agar ekonomi masyarakat lebih berputar.

Ia meminta Pemkab Sintang dan OPD terkait memperkuat pelatihan dan pendampingan, terutama untuk pengemasan modern dan pemasaran digital.

Anastasia juga mengusulkan agar pemerintah daerah kembali menggelar Festival Produk Unggulan Desa minimal dua kali setahun. Event seperti ini terbukti mampu mempertemukan perajin, pelaku usaha rumahan, BUMDes, dan pembeli dari luar daerah.

“Ini momentum penting bagi desa untuk mempromosikan produk. Tahun lalu belasan desa yang ikut pameran bahkan mencatat peningkatan omzet hingga 40 persen. Ini harus menjadi agenda tetap, bukan kegiatan sporadis,” tegasnya.

Anastasia menegaskan bahwa desa harus menjadi lokomotif ekonomi Kabupaten Sintang ke depan. “Kalau setiap desa punya produk unggulan yang kuat, ekonomi lokal akan bergerak. Lapangan kerja terbuka, pendapatan meningkat, dan desa tidak hanya bergantung pada bantuan. Kuncinya satu: kreativitas dan keberanian untuk memulai,” katanya.

Dengan 391 desa yang memiliki keunikan masing-masing, Anastasia optimistis Kabupaten Sintang dapat membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

SebelumnyaBerada di Beranda Negara, Pembentukan Kabupaten Ketungau Mendesak
SelanjutnyaDPRD: Tata Ruang Sintang Harus Visioner 20 Tahun ke Depan