Sintang, Kalbar – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Kota Pontianak pada Sabtu pagi (23/11), sorak-sorai anak-anak pecah di Stadion Universitas Tanjungpura. Lapangan hijau itu menjadi saksi ketika PS Gelora U-12, klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Sintang, kembali mengibarkan namanya sebagai juara pertama dalam Kejuaraan Saling Jaga Cup. Kemenangan itu bukan sekadar tambahan trofi di lemari lama mereka, tetapi penegasan bahwa klub yang berdiri sejak 1981 ini masih menjadi laboratorium bakat sepak bola paling kuat di Kalimantan Barat.
Pembina PS Gelora, Santosa, berdiri tenang di pinggir lapangan. Matanya mengikuti satu per satu anak-anak yang saling memeluk sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Ada kebanggaan yang membuncah, tapi juga keharuan. “Ini juara ketiga kita tahun ini,” ujarnya, menahan senyum. “Saya bangga, bukan hanya karena mereka menang, tapi karena mereka tumbuh.”
Perjalanan Panjang yang Tidak Sekadar Tentang Kemenangan
Tahun ini menjadi salah satu tahun paling produktif bagi PS Gelora. Mereka mengumpulkan prestasi demi prestasi, hampir di setiap level yang mereka ikuti. Andai trofi-trofi itu disusun dalam satu ruangan besar, mungkin dindingnya akan penuh dengan ukiran nama anak-anak Sintang.
Di awal tahun, tepatnya dua tahun yang lalu, PS Gelora U-10 lebih dulu mengguncang pentas provinsi. Mereka memenangkan Gubernur Cup Kalbar, sebuah turnamen bergengsi yang mempertemukan tim terbaik dari berbagai kabupaten. Tidak berhenti di situ, PS Gelora kemudian dikirim untuk mewakili Kalimantan Barat di tingkat nasional yang digelar di Jakarta. Di luar dugaan banyak pihak, skuad kecil ini membawa pulang gelar juara 1 nasional.
Selanjutnya, ketika anak-anak U-10 ini memasuki kelompok usia U-12, mereka kembali meraih prestasi. Mereka menjuarai Dies Natalis Untan – Piala Rektor Untan, sebelum akhirnya mengikuti kompetisi nasional di Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Lagi-lagi, mereka pulang sebagai juara pertama.
Pada pertengahan tahun, PS Gelora kembali mengukir namanya di panggung besar, mereka bertarung di Jakarta International Stadium (JIS), salah satu stadion termegah di Asia Tenggara. Kali ini, mereka kembali dikirim untuk mewakili Kalimantan Barat di pentas nasional yang diikuti 104 tim terbaik Indonesia. Persaingan sangat ketat. Dari ratusan peserta, PS Gelora berhasil masuk 12 besar, memenangkan lima pertandingan, hanya kalah satu kali di fase grup, dan satu kali lagi di fase 12 besar. Kalah melawan Kaltim 1-0. “Bagi kami, lolos 12 besar dari 104 tim sudah luar biasa,” kata Santosa. “Yang penting anak-anak punya pengalaman berharga.”
Namun salah satu cerita paling spesial terjadi ketika PS Gelora U-12 terbang ke Serawak, Malaysia untuk mengikuti turnamen antarnegara. Anak-anak Sintang itu bukan hanya bertanding—mereka menang, membawa pulang gelar juara satu dari negeri seberang. “Itu momen yang sangat membanggakan bagi Sintang,” kata Santosa dengan mata berbinar.
Dari Sintang untuk Kalbar, Dari Kalbar untuk Indonesia
Keberhasilan PS Gelora bukanlah euforia sesaat. Mereka sedang berada dalam perjalanan panjang menuju reputasi nasional. Pada Desember mendatang, PS Gelora U-12 kembali dipercaya mewakili Kalimantan Barat di turnamen nasional. “Kami mohon doa dari masyarakat Sintang dan Kalbar,” kata Santosa. “Semoga anak-anak ini kembali membuat sejarah.”
Di balik semua kisah prestasi itu, ada cerita yang lebih mendalam: tentang klub kecil yang dibangun dari ketulusan, bukan dari bisnis. Tentang rumah sederhana bagi anak-anak Sintang yang bermimpi.
Rumah Sepak Bola Tanpa Biaya
Berbeda dari banyak sekolah sepak bola lainnya, PS Gelora tidak memungut biaya sepeser pun. Tidak uang pendaftaran. Tidak uang bulanan. Tidak juga biaya perlengkapan. Semua anak diterima. Semua anak diberi kesempatan. Dari yang masih belajar menggiring bola di usia 10 tahun hingga mereka yang memasuki usia remaja dan menuju senior.
“Ini bukan sekolah sepak bola yang cari keuntungan,” kata Santosa. “Kami betul-betul ingin menampung bakat anak-anak Sintang agar mereka punya masa depan.”
Para pelatih di PS Gelora, termasuk pelatih kepala Rhaka, tidak menerima bayaran, pelatih Coki dan Ozil ANdhini sebagai pengurus serta para pengurus lainnya. Semua tidak menerima bayaran. Bahkan untuk operasional harian klub, mulai dari membeli bola, rompi latihan, hingga transportasi saat bertanding, mereka menutupi biaya dengan patungan, bantuan donatur, dermawan, dan sponsor yang peduli pada perkembangan sepak bola daerah.
Tidak jarang, para pelatih harus berangkat lebih dulu untuk mengatur lapangan, atau pulang paling akhir memastikan anak-anak aman sampai selesai latihan. “Kami ikhlas karena kami cinta,” kata salah seorang pengurus.
Dedikasi yang Turun-Temurun
PS Gelora yang berdiri sejak 1981 adalah salah satu klub lokal tertua di Kalimantan Barat. Klub ini menjadi saksi lahirnya generasi demi generasi pesepak bola Sintang. Banyak alumni mereka kini berkarier di klub-klub besar, ada yang menjadi pelatih, bahkan ada yang menjadi tokoh masyarakat.
Klub ini ibarat sebuah keluarga besar. Mereka punya budaya:
Latihan dimulai dengan doa, bukan sekadar rutinitas, tetapi tradisi yang mengajarkan anak-anak untuk selalu rendah hati. Setiap pemain dipanggil dengan namanya, bukan nomornya, untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Kedisiplinan tanpa kekerasan, karena mereka percaya sepak bola harus membuat anak-anak tumbuh dengan gembira.
Presiden klub, Marsal dan Karyati, adalah figur yang selalu hadir di setiap kegiatan penting. Mereka bukan hanya memimpin, tetapi juga mengurus banyak hal secara langsung, termasuk memastikan keberangkatan anak-anak aman, seragam rapi, dan kebutuhan tim terpenuhi.
Di balik layar, ada pula Rudy Andryas, Ketua ASKAB PSSI Sintang dan Ketua ASPROV PSSI Kalbar yang konsisten memberikan dukungan dan jembatan bagi PS Gelora untuk mengikuti berbagai kompetisi. “Dukungan yang sungguh luar biasa dari mereka saya ucapkan terima kasih,” kata Santosa. Terima kasih juga kepada pihak sekolah dan para guru yang sudah mendukung anak-anak PS Gelora, dengan doa dan memberikan izin untuk bertanding.
“Tanpa dukungan orang-orang baik ini, PS Gelora tidak akan sampai sejauh ini,” ujar Santosa.
Mimpi yang Terus Tumbuh
Melihat anak-anak PS Gelora berlatih, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa mereka telah bertanding hingga ke Malaysia dan mengalahkan tim-tim besar di Jakarta International Stadium. Anak-anak itu berlari bebas di bawah terik matahari, bercanda saat istirahat, dan kembali serius ketika peluit latihan berbunyi.
Bagi mereka, sepak bola adalah dunia tempat mereka bisa bermimpi. Ada yang ingin menjadi pemain nasional. Ada yang ingin menjadi pelatih. Ada juga yang sekadar ingin bermain bersama teman-temannya. PS Gelora memberi ruang bagi semuanya.
“Yang penting mereka tumbuh, disiplin, dan punya karakter,” kata Santosa. “Kalau kelak salah satu dari mereka menjadi pemain nasional, itu bonus.”
Kini, dengan usia yang telah melampaui empat dekade, PS Gelora kembali berada pada periode emasnya. Prestasi datang bertubi-tubi, dukungan masyarakat semakin besar, dan semangat anak-anak semakin menyala.
Ketika matahari mulai turun di balik tribun Stadion Untan pada sore itu, para pemain cilik masih terlihat memeluk piala. Tangis haru, tawa, dan tepuk tangan menggema. Di antara mereka, ada mimpi-mimpi kecil yang mulai tumbuh. Mungkin suatu hari, salah satu dari mereka akan mengenakan kostum merah putih di tingkat internasional.
Jika hari itu tiba, semua orang akan tahu: mimpi itu lahir dari lapangan sederhana di Sintang, di lapangan Kodim 1205 Sintang, di sebuah klub yang dibangun dari ketulusan PS Gelora. (tantra)
