Ratusan Remaja Sintang Terkena IMS, Santosa Kaget: “Alamakk!! Ini Sudah Bahaya Besar!”

Sintang, Kalbar — Di ruang kerjanya, dr. Haryono Linoh, Kepala UPTD Puskesmas Sungai Durian, menghela napas panjang ketika menceritakan kenyataan pahit yang dihadapi dunia kesehatan di Sintang. “Jumlah remaja yang memeriksakan IMS meningkat. Tahun ini memang luar biasa,” ujarnya, sambil memegang beberapa berkas rekapitulasi kasus.

Haryono mengungkapkan data yang cukup mengejutkan, tahun 2023 terdapat 300 kasus IMS yang tercatat di Puskesmas Sungai Durian. Pada 2024 jumlahnya memang sempat turun menjadi 288 kasus. Namun tahun 2025, hingga Oktober saja, sudah mencapai 250 kasus. “Ini belum termasuk yang tidak melapor atau malu berobat,” katanya.

Kondisi yang membuat situasi semakin memprihatinkan, kata Haryono, kasus IMS ini bukan hanya dialami pelajar SMA. “Siswa SMP pun banyak. Jumlahnya hampir sama. Antara laki-laki dan perempuan juga seimbang. Artinya pola pergaulan remaja sekarang sudah tidak mengenal batas,” ujarnya.

Jenis penyakit yang dialami para remaja pun tidak main-main. Sifilis, gonore, hingga beberapa bentuk infeksi lain yang umum terjadi akibat hubungan seksual berisiko. “Semua ada,” kata Haryono lirih.

Meski situasi mengkhawatirkan, ia tetap menegaskan bahwa IMS bisa disembuhkan jika ditangani tepat. Puskesmas, katanya, sudah sejak lama menyediakan Poli PKPR untuk membantu remaja menangani bukan hanya keluhan fisik, tetapi juga masalah pribadi dan mental. “Psikolog kami siap membantu. Rahasia pasien terjamin. Remaja tidak perlu takut datang,” ujarnya.

Tak jauh berbeda dengan Sungai Durian, Puskesmas Tanjung Puri Sintang juga mengalami peningkatan signifikan. Kepala Puskesmas Tanjung Puri, dr. Andar Jimmy Pintabar, memaparkan data yang tidak kalah mengejutkan: tahun 2024 terdapat 225 kasus IMS, dan tahun 2025 angka itu naik menjadi 241 kasus sampai akhir Oktober.

“Ini menunjukkan peningkatan. Faktanya, IMS sudah menyasar pelajar,” kata Andar.

Puskesmas Tanjung Puri mengambil langkah preventif dengan melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah, terutama SMA. “Kami mengedukasi tentang bahaya pergaulan bebas, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, dan risiko IMS. Yang konsultasi di poli PKPR cukup banyak. Tapi yang sampai berobat memang tidak semua berani,” jelasnya.

Selain sekolah, mereka juga mendatangi pusat hiburan malam di Kota Sintang dan wilayah Lintas Melawi. Pemeriksaan rutin dilakukan pada pekerja tempat hiburan malam dan kafe remang-remang. “Kami lakukan pendekatan pada pelaku usaha. Bahkan hingga ke warung remang-remang di kawasan hutan wisata,” ujarnya.

Menurut Andar, pendekatan pengusaha hiburan malam penting dilakukan mengingat penyebaran IMS sering kali terjadi melalui kontak seksual berisiko yang melibatkan tempat-tempat tersebut. “Jika ada pekerja terindikasi IMS, langsung kami obati atau rujuk. Kami lakukan intervensi secepatnya,” tegasnya.

Sintang Darurat Pergaulan Remaja

Ketika kabar meningkatnya IMS di kalangan remaja Sintang sampai ke telinga anggota DPRD Sintang, Santosa, reaksi spontan “Alamakk!!” adalah bentuk keterkejutannya. Baginya, kondisi ini bukan lagi sekadar fenomena sosial biasa. Ini alarm besar bagi masa depan generasi muda Sintang.

“Ini sangat memprihatinkan. Artinya pergaulan remaja kita sudah terjerumus ke perilaku negatif dan seks bebas,” tegasnya.

Menurut Santosa, meningkatnya kasus IMS menunjukkan ada celah besar dalam pengawasan orang tua dan lingkungan sosial. “Orang tua harus benar-benar memperhatikan anaknya. Remaja sangat labil, mudah terbawa arus pergaulan. Kalau tidak dikontrol, mereka bisa rusak masa depannya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa penyalahgunaan obat-obatan, pergaulan bebas, dan tingginya aktivitas malam sering bermula dari kurangnya pengawasan. “Mereka butuh bimbingan, bukan hanya larangan. Orang tua harus tahu siapa teman anaknya, ke mana pergi, dan apa yang mereka lakukan,” ujarnya.

Santosa menyoroti maraknya tempat hiburan malam di Sintang sebagai salah satu pemicu lingkungan pergaulan berisiko. “Tempat hiburan malam itu memancing anak-anak muda yang pikirannya masih labil,” tegasnya.

Ia menjelaskan, bukan hanya minuman keras atau narkoba yang menjadi ancaman, tetapi interaksi sosial di tempat-tempat tersebut membuka peluang besar terjadinya perilaku seksual berisiko. “Generasi muda kita jadi rentan. Mau tidak mau, ini tanggung jawab bersama, pemerintah, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya.

Santosa menegaskan bahwa penanganan IMS tidak bisa hanya bergantung pada puskesmas atau rumah sakit. Harus ada upaya preventif yang lebih strategis.

“Pemerintah harus menyediakan wadah bagi anak muda untuk menyalurkan kreativitas dan bakatnya. Kalau mereka punya tempat yang positif untuk berkegiatan, mereka tidak akan cari kesenangan ke tempat yang salah,” katanya.

Lonjakan kasus IMS mulai menjadi cermin perubahan pola pergaulan remaja di Sintang. Di era media sosial, akses terhadap konten dewasa sangat mudah didapat. Ditambah kurangnya perhatian orang tua serta minimnya edukasi seksual secara formal menyebabkan remaja mudah terjerumus.

Di sekolah-sekolah, guru mengaku sulit mengawasi karena aktivitas siswa di luar jam pelajaran sepenuhnya berada di luar kontrol lembaga pendidikan. Sementara orang tua pun sebagian sibuk bekerja dan tidak menyadari perubahan perilaku anaknya.

Menurut dr. Haryono, sebagian besar remaja yang datang memeriksakan diri terlambat. “Sering kali sudah muncul gejala berat baru mereka berani datang. Ada yang takut, ada yang malu, ada yang tidak paham,” ujarnya.

Padahal, IMS seperti sifilis dan gonore bisa memiliki dampak jangka panjang jika tidak ditangani, termasuk kemandulan, komplikasi pada organ reproduksi, hingga risiko penularan terus-menerus di lingkungan pergaulan.

Baik Puskesmas Sungai Durian maupun Tanjung Puri berharap agar pemerintah lebih mendukung program edukasi kesehatan reproduksi. Tenaga kesehatan di poli PKPR sudah berusaha maksimal, namun ruang lingkup kerja mereka terbatas.

“Kalau remaja mau konsultasi, datang saja. Apa pun masalahnya, kami jaga kerahasiaan,” tegas Haryono. Andar menambahkan bahwa edukasi harus dilakukan lebih masif, melibatkan orang tua, sekolah, dan tokoh masyarakat. “Karena ini bukan lagi isu individu. Ini darurat sosial,” katanya.

SebelumnyaJalan Banyak Rusak Akibat Dua Tahun Tanpa DAK, DPRD Sintang Minta Warga Bersabar
SelanjutnyaSantosa, Wakil Rakyat yang Nyaris Setiap Hari ke Rumah Sakit