Sintang Gelar Temu Inovasi Lestari dalam FKL

11

Sintang, Kalbar – Kabupaten Sintang menyiapkan kegiatan
sesi Temu Inovasi pada acara Festival Kabupaten Lestari ke-3.
Temu Inovasi Lestari terdiri dari 5 sesi diskusi, yang bisa dipilih dan diikuti oleh para peserta acara. Lima sesi tersebut, dengan judul Usaha Mikro Kecil dan Menengah Lestari, Produk Lokal Berbasis Alam, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Daerah, Riset dan Teknologi, Sistem Pelaporan dan Pemantauan. Pada kesempatan ini, Sintang meluncurkan Profil Jurisdiksi yang merangkum inovasi dan kemajuan Sintang dan dikembangkan secara kolaboratif bersama dengan Forum Komunikasi Masyarakat Sipil Sintang (FKMS), CIFOR dan Earth Innovation Institute yang difasilitasi oleh sekretariat LTKL.

Merayakan kemegahan budaya Sintang, sesi ‘Irama Lestari’ menghadirkan kolaborasi antara musisi berbakat tanah air, Andien Aisyah dan Baby Borneo, musisi muda Sintang yang piawai memainkan alat musik Sape khas Dayak. Karya kaum muda Sintang yang dipersiapkan dalam rangkaian acara menuju FKL 2020 bersama mitra Kelas Pagi Jakarta dan Generasi Melek Politik yakni Pameran Virtual Photo Essay Sintang Lestari dan Video Sintang Tampung Suara.
Dengan menyampaikan perspektif dan komitmen kaum muda Sintang. Sebuah kisah inspiratif mengenai Sintang, “Legenda Bukit Kelam” karya ilustrator Tania Tresya dan penulis Satrio Wicaksono, diluncurkan di tanggal 3 November 2020.
Pjs Bupati Sintang Florensius Anum berharap, festival kabupaten lestari dapat membuka wawasan serta menjadi jalan bagi masyarakat Sintang agar bergotong royong berkomitmen mencapai visi “sintang lestari”. Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk mempromosikan Kabupaten Sintang melalui pelestarian lingkungan maupun budaya, sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Sintang,” tambah Florentinus Anum.

Kabupaten Sintang memiliki luas wilayah 21.635 km² dan berpenduduk heterogen serta memiliki budaya yang beraneka ragam. mayoritas suku di Kabupaten Sintang yaitu suku Dayak dan Melayu. Selain itu, juga terdapat suku Tionghoa, Jawa, dan lainnya. Semuanya hidup dengan harmonis dan kerukunan terjalin dengan baik di Sintang. Kabupaten Sintang memiliki potensi pariwisata, salah satunya adalah Bukit Kelam yang merupakan salah satu batu monolit terbesar di dunia. Walaupun perekonomian terus ditingkatkan, Kabupaten Sintang telah berkomitmen menyeimbangkannya dengan penjagaan alam, melalui komitmen Sintang Lestari,” tegas Florentinus Anum.

Komentar