Sintang Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

46

Sintang, Kalbar – Pemerintah Kabupaten Sintang berkomitmen untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan, yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Bupati Sintang, Jarot Winarno, ketika beraudiensi dengan Supernova Ecosystem, Senin (21/6) mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sintang sudah lama berkomitmen untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan.

“Dulu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi mengusung rencana aksi percepatan pembangunan berkelanjutan. Kabupaten Sintang dan beberapa kabupaten lain sudah berinisiatif untuk membuatnya,” kata dia.

Dia mengatakan, oriensi Kabupaten Sintang melaksanakan pembangunan berkelanjutan, yakni bisa menjaga kelestarian, berkewajiban menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan, pertumbuhan ekonomi dan penghormatan terhadap nilai historial termasuk kearifan lokal.

Seiring berjalan, lanjut Jarot, Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki banyak mitra kerja untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan di Sintang. “Kami bergabung pada satu platform, yakni Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dimana inisiatornya ialah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Sintang, Kabupaten Siak dan Kabupaten Sigi,” ungkapnya.

Sampai sekarang, kata Jarot, LTKL banyak membantu, memfasilitasi, mengadvokasi dan mendampingi Kabupaten Sintang untuk memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim. “Banyak  juga mitra kerja yang masuk ke Sintang mulai dari perencanaan, hingga rekan-rekan yang punya inisiasi yang baik di Sintang,” lanjut Jarot.

Masih, kata Jarot, saat ini Kabupaten Sintang masih mengandalkan tiga sektor komoditas yang ekstraktif. Di Kabupaten Sintang masih ada Karet, Sawit dan Lada. Ketiga komoditas tersebut masuk dalam kategori komoditas yang ekstraktif. Sehingga saat ini, ketiga sektor komoditas itu menjadi koreksi bagi Pemkab Sintang.

“Kami sudah melakukan langkah-langkah untuk mengurangi kegiatan ekonomi ekstraktif tersebut, salah satunya membuat kebijakan dengan memberikan izin konsensi lahan sawit tidak lebih dari 200.000 hektar. Biar lahan yang lainnya bisa digunakan untuk ekonomi kreatif,” kata Jarot.

Dikatakan Jarot, pelaku pengembangan ketiga komoditi yakni sawit, karet, lada sudah mulai ditinggalkan. Saat ini mulai berkembang menanam serai wangi, kopi, kakao, porang (iles-iles) dan holtikultira lainnya. “Sekarang kita fokus di situ, sehingga muncullah komiditas berkelanjutan, jadi Sintang tetap berkomitmen dengan pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Jarot mengatakan, Supernova Ecosystem sudah melaksanakan beberapa program di Kabupaten Sintang. Supernova Ecosystem adalah mitra kerja Pemkab Sintang. Sudah banyak yang dikerjakan oleh Supernova Ecosystem. Mereka konsen terhadap komoditas yang berkelanjutan, dengan segmen sasaran yakni anak muda kreatif, para pelaku UMKM, yang memberikan kapasitas anak muda dan UMKM untuk melakukan bisnis, melakukan pendampingan, melakukan pertemuan, memberikan masukan soal marketing.

Lanjut Jarot, Supernova Ecosystem sudah bermitra dengan beberapa pihak. “Supernova Ecosystem sudah berjalan selama kurang lebih empat bulan. Bekerja sama dengan berbagai pihak di Kabupaten Sintang, yang terfokus pada komoditas seperti Tengkawang, Kriya Anyaman, Kakao dan Albumin. “Supernova Ecosystem ini memberikan dana di awal untuk mendorong, menyiapkan komoditas berkelanjutan di Sintang,” katanya.

Sementara Managing Partner Supernova Ecosystem, Inez Stefanie menjelaskan, Supernova Ecosystem merupakan organisasi katalis (Yayasan Komunitas untuk Transformasi Sosial), dengan tujuan ke Sintang untuk melihat komitmen dari Pemda Sintang melakukan pengembangan ekonomi secara lestari.

“Kami hadir untuk lebih mengembangkannya lagi. Dengan mempersiapkan perusahaan – perusahaan serta UMKM-nya. Ini merupakan tindak lanjut dari rekan – rekan yang sudah bermitra kerja dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang,” kata Inez.

Ia mengatakan, di Supernova Ecosystem ada banyak tim yang terlibat. Dengan formasi, latar belakang yang kurang lebih lengkap. “Kami ada dari latar belakang privat sektor, ada yang berpengalaman di bidang multinasional, bilateral dan multilateral. Ada yang sering berinteraksi dengan pemerintah, ada yang punya peran pengembangan masyarakat untuk pendidikan dalam bidang kreatif,” ucapnya.