SKB Sintang Latih Barista, Begini Reaksi Bupati

121

Sintang, Kalbar – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Sintang menggelar program pendidikan kecakapan wirausaha (PKW) jenis keterampilan Barista, bekerja sama dengan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbud Ristek, Selasa (29/6).

Kepala SKB Kabupaten Sintang, Suyatni mengatakan, kegiatan Penyelenggaraan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) jenis keterampilan Barista dilatarbelakangi masih sedikitnya pembuat kopi atau warung kopi yang menggunakan barista. Sehingga peserta didik PKW Barista SKB Kabupaten Sintang berpeluang menerpakan ilmunya dalam berwirausaha.

“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, sikap dan pola pikir berwirausaha, melalui kursus dan pelatihan agar tumbuh sikap pintar wirausaha. Pelatihan ini dapat dijadikan bekal berwirausaha dan mendorong peserta didik dalam merintis berdirinya usaha mandiri, yang dibimbing mitra usaha,” jelas Suyatni.

Untuk instruktur dan narasumber, kata Suyatni, yakni barista dari salah satu kafe dari Kabupaten Landak, Barista dari Pontianak dan beberapa narasumber dari Kabupaten Sintang. Peserta berjumlah 25 orang, berusia dari 15 – 25 tahun, berasal dari masyarakat Kabupaten Sintang.

“Jadi nanti dari 25 orang peserta, dibentuk 5 kelompok, dan akan dimodali peralatan serta bahan baku untuk langsung berwirausaha secara gratis, setelah mengikuti pelatihan sampai tuntas,” ujar Suyatni.

Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, menjadi seorang barista atau peracik kopi dengan hasil racikan yang enak tidaklah gampang. Karena dalam menyeduh kopi, seorang barista harus mengenal beberapa hal tentang kopi. Seperti gen atau jenis kopi apa saja, menroastingnya dan mengsangrainya. Karena kalau salah mengsangrai, biasa rasanya tidak enak, kemudian memblending atau menghaluskannya, juga cara menyajikannya.

“Jadi para peserta ini beruntung bisa ikut pelatihan. Karena bisa lebih mengenal tentang bidang barista. Kalau nanti ada yang tidak buka warung kopi, paling tidak bisa membuat kopi untuk orang tua dan kawan-kawannya. Itu udah luarbiasa, jadi ilmunya terpakai,” kata Jarot.

Jarot meminta para peserta agar mengikuti PKW dengan cermat dan fokus, karena jika hanya mendengar, nempelnya cuman sebentar saja, tapi kalau dengan pelatihan langsung praktek dan diajarkan, maka akan memahami betul semua prosesnya.

“Jadi soal kopi banyak yang di pelajari, tentu selain mendapatkan pelatihan dari instruktur yang ada, para peserta bisa juga mencari sumber- sumber lain tentang kopi,” ujar Jarot.

Jarot berharap, mudah-mudahan ilmu PKW bisa menjadi bekal mereka untuk mencari rezeki yang halal.  

“Pesan saya pada para peserta, setelah selesai mengikuti PKW, untuk tidak ragu dalam membuka usaha warung kopi. Bisnis kuliner itu margin keuntungannya bisa mencapai 40 – 50 % dari   omset. Kalau satu warung kopi sehari bisa masuk satu juta, empat ratus ribu itu keuntungan. Enam ratus ribu sudah termasuk untuk beli-beli bahan, untuk gaji karyawan. Jadi lumayan kalau sebulan itu,” ungkap Jarot.