Sintang, Kalbar — Setiap pagi, warga Desa Ensabang memulai hari mereka dengan langkah yang sama, menapaki jalan berlubang yang kian hari kian melebar. Di titik tertentu, di jalan menuju desa tersebut bahkan nyaris tidak bisa dilewati. Jika hujan turun, jalanan dipenuhi lumpur dan sangat berbahaya bagi siapa pun yang melintasnya. Namun bagi masyarakat Tempunak dan Sepauk, jalan berlumpur inilah satu-satu jalan keluar masuk menuju desa mereka. Kondisi rusaknya jalan di Kecamatan Tempunak dan Kecamatan Sepauk ini, sudah sering disuarakan oleh anggota DPRD Kabupaten Sintang, Nekodimus. Suara lantangnya selalu terdengar di ruangan sidang, meminta Pemkab Sintang untuk memperbaiki jalan di Tempunak dan Sepauk. Ia mengaku sangat sedih, saat menyaksikan langsung kondisi jalan yang tak layak di dua kecamatan ini. Setiap berkunjung ke beberapa desa di Kecamatan Tempunak dan Sepauk, Nekodimus selalu mendengar keluh kesah dari masyarakat di sana, tentang sulitnya masyarakat beraktivitas karena jalan rusak. Dari Desa Ensabang, Sungai Jaung, Mensiap Baru, Tanjung Perada, hingga Temiang Kapuas, satu suara terdengar sama lantangnya, “Kami butuh jalan dan jembatan yang layak.”
“Dari semua aspirasi yang masuk, masyarakat selalu meminta perbaikan infrastruktur dasar,” ujarnya.
Bahkan, Nekodimus mendengar dari masyarakat setempat melaksanakan gotong royong untuk memperbaiki jalan yang rusak secara swadaya. “Di tengah keterbatasan masyarakat, ada satu hal yang tidak pernah hilang, semangat gotong royong mereka. Di Desa Sungai Jaung, masyarakat menolak pasrah pada keadaan. Dengan alat seadanya, mereka bergantian menimbun jalan yang rusak. Mereka mengumpulkan iuran secara sukarela,” beber Nekodimus.
Iuran kecil itu mungkin tampak remeh, tetapi bagi masyarakat, ini adalah bentuk komitmen untuk mempertahankan konektivitas desa. Sebab tanpa jalan yang bisa dilalui, hasil panen tak bisa keluar, dan uang tak bisa masuk.
Rusaknya jalan bukan hanya tentang ketidaknyamanan perjalanan. Di balik itu, ekonomi masyarakat perlahan merosot. Produk pertanian yang seharusnya tiba ke pasar dalam hitungan jam, kini bisa tertahan seharian.
Bagi warga Tempunak dan Sepauk, setiap lubang di jalan sama artinya dengan lubang pada pendapatan keluarga. Setiap akses yang terputus berarti peluang ekonomi yang ikut terputus.
Kerusakan jalan juga berdampak pada urusan yang lebih mendesak seperti kesehatan dan keselamatan. Masyarakat bercerita bagaimana mereka harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Dalam keadaan darurat, waktu tempuh itu bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
“Kalau ada alat berat untuk buka jalur darurat, itu sudah sangat membantu,” kata Nekodimus. Harapan itu disampaikannya setelah melihat sendiri betapa kritisnya akses bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kecamatan.
Nekodimus menegaskan bahwa peningkatan infrastruktur akan ia dorong dalam pembahasan anggaran dengan Bupati Sintang. Baginya, membangun jalan bukan hanya soal memenuhi janji politik, tetapi tentang memastikan masyarakat bisa hidup dengan layak.
“Pembangunan jalan dan jembatan sudah menjadi prioritas dalam visi dan misi kepala daerah. Kita ingin lima tahun ke depan betul-betul fokus pada konektivitas antarwilayah,” tegasnya.
Di sepanjang jalan yang rusak itu, tersimpan cerita tentang kesabaran, perjuangan, dan harapan. Warga Tempunak dan Sepauk mungkin belum mendapatkan infrastruktur yang layak, tetapi mereka tidak berhenti berjuang, baik dengan tenaga mereka sendiri, maupun dengan menyuarakan aspirasi yang tak pernah padam. Mereka akan terus melangkah di jalan yang retak, dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik sedang menunggu di ujung sana.
