Sintang, Kalbar – Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang telah memiliki Kelompok Kerja Percepatan Penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Anggotanya lintas Organisasi Perangkat Daerah, nongovernment organization dan instansi vertikal seperti Kementerian Agama Kabupaten Sintang.
“Angka kematian ibu dan angka kematian bayi masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Sintang yang memerlukan perhatian dari seluruh pemangku kepentingan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh pada media ini, Rabu (2/11).
Dia mengatakan, penekanan angka kematian ibu, angka kematian neonatal dan angka kematian bayi menjadi target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, dan Sustainable Development Goals.
“Untuk mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian ibu, angka kematian neonatal, dan angka kematian bayi perlu dukungan dan kerja sama, lintas program, lintas sektor, organisasi profesi dan pemangku kepentingan lainnya,” tambahnya.
Harysinto Linoh ingin seluruh OPD terkait keroyokan dalam upaya menurunkan AKB dan AKI di Kabupaten Sintang. Sebagaimana dalam upaya menurunkan angka stunting beberapa waktu lalu.
“Nah, dalam menurunkan AKB dan AKI ini juga saya minta kita bisa bekerja sama. Menurunkan AKB dan AKI tidak saja menjadi tugas Dinas Kesehatan dan RSUD AM Djoen Sintang tetapi tugas semua OPD,” terang Harysinto Linoh.
Dia menegaskan, pembangunan SDM itu dimulai sejak dalam kandungan. “Bangsa kita, kasus AKI nya masih sangat tinggi. Ada banyak kasus kematian ibu saat kehamilan, melahirkan dan pasca melahirkan,” kata Sinto.
Dikatakan dia, Kabupaten Sintang merupakan salah satu dari 200 kabupaten kota yang menjadi locus penurunan AKI dan AKB.
